Wedang Angsle, Hangatnya Tradisi dalam Semangkok Kenangan

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Ekonomi · 1 Agu 2025 22:19 WIB ·

Wedang Angsle, Hangatnya Tradisi dalam Semangkok Kenangan


 Wedang Angsle, Hangatnya Tradisi dalam Semangkok Kenangan Perbesar

Di tengah derasnya tren minuman kekinian, ada satu sajian tradisional yang tetap setia menemani malam dingin di Jawa Timur. Namanya wedang angsle. Namanya mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tapi bagi warga Malang, Blitar, dan sekitarnya, wedang angsle adalah pelukan hangat dari masa lalu.

Disajikan dalam mangkuk sederhana, wedang angsle sebenarnya lebih dari sekadar minuman. Ia adalah perpaduan rasa, aroma, dan kenangan. Bayangkan santan hangat yang gurih, berpadu dengan ketan putih, mutiara merah muda, kacang hijau rebus, potongan roti tawar, dan terkadang irisan kolang-kaling. Semua diaduk-aduk hingga menjadi semangkok kenangan.

Baca juga : Angsle, Minuman Hangat Khas Jawa Timur yang Menggoda Selera di Musim Hujan

Bukan sekedar minuman tapi sajian penuh cerita

Wedang angsle bukan sekadar minuman, tapi sebuah sajian penuh cerita. Dalam satu mangkuknya, kamu akan menemukan ketan putih yang pulen, kacang hijau rebus, mutiara kenyal berwarna merah muda, potongan roti tawar, kolang-kaling, bahkan terkadang tape singkong. Semua itu disiram kuah santan manis dengan aroma jahe yang langsung menghangatkan tenggorokan dan hati.

Suara gerobak dorong berderit di malam hari, uap mengepul dari panci besar, dan senyum ramah penjual yang menawarkan, “Angsle, Mas?” semua itu menghadirkan nuansa yang sulit tergantikan.

Filosofi wedang angsle

Menariknya, wedang ini tidak hanya mengandalkan rasa, tapi juga filosofi. Setiap bahan punya cerita. Ketan dan kacang hijau melambangkan hasil bumi, roti dan kolang-kaling menambah tekstur dan warna hidup. Semuanya menyatu, seperti masyarakat Jawa yang rukun dan guyub.

Di era serba cepat seperti sekarang, wedang angsle jadi semacam pengingat. Bahwa yang sederhana pun bisa tetap dicintai. Ia hadir bukan hanya sebagai pelepas dahaga, tapi juga pelepas rindu pada rumah, pada masa kecil, dan pada tradisi yang hampir terlupa.

Kini, wedang angsle mulai merambah kafe-kafe kekinian, tampil lebih modern namun tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Beberapa varian bahkan hadir dengan topping es krim atau susu evaporasi. Kreatif? Tentu saja. Tapi bagi para pencinta sejatinya, tidak ada yang mengalahkan sensasi duduk di pinggir jalan, menikmati angin malam, dan menyeruput semangkuk kehangatan. Apalagi jika sambil merangkai cerita dan tawa canda bersama orang tersayang.

Jadi, kalau kamu bosan dengan kopi atau boba, coba deh wedang angsle. Siapa tahu, dari semangkuk sederhana itu, kamu bisa menemukan kehangatan yang kamu cari.

 

Artikel ini telah dibaca 76 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wisata Sungai Glidik Tak Bisa Sembarangan, Izin Gubernur Jadi Kunci

13 Februari 2026 - 10:55 WIB

Kayutangan Heritage Bikin Wisatawan Betah, Okupansi Hotel Malang Stabil di 70 Persen

2 Februari 2026 - 09:10 WIB

DPRD Lumajang Ungkap Kesepakatan Lama Pengelolaan Tumpak Sewu dan Coban Sewu

1 Februari 2026 - 10:07 WIB

Tarik Tiket di Dasar Sungai Bisa Berujung Pidana, Ini Peringatan Pemkab Lumajang

29 Januari 2026 - 16:17 WIB

Langgar Perda Pengelolaan Sungai, Aktivitas Wisata Coban Sewu Terancam Sanksi

29 Januari 2026 - 10:03 WIB

Abaikan Peringatan, Pengelola Coban Sewu Terancam Kehilangan Izin

29 Januari 2026 - 09:57 WIB

Trending di Pariwisata