74 Ribu Ton Gula Tak Terserap di Jatim, APTRI Sebut Akibat Banjir Gula Impor - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Nasional · 27 Agu 2025 18:37 WIB ·

74 Ribu Ton Gula Tak Terserap di Jatim, APTRI Sebut Akibat Banjir Gula Impor


 74 Ribu Ton Gula Tak Terserap di Jatim, APTRI Sebut Akibat Banjir Gula Impor Perbesar

Surabaya, – Sebanyak 74.700 ton gula hasil produksi petani di Jawa Timur dilaporkan tidak terserap pasar, meskipun provinsi ini merupakan salah satu produsen gula terbesar di Indonesia.

Menurut Arum Sabil, Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jatim, kondisi ini disebabkan oleh masifnya impor gula rafinasi, yang disebut membanjiri pasar domestik dan mengganggu distribusi gula lokal.

“Salah satu penyebabnya adalah soal impor bahan baku gula rafinasi yang membanjiri Indonesia,” kata Arum saat dikutip pada Rabu (27/8/25).

Baca juga: Mahkamah Agung Angkat Lagi Eks Hakim Itong Jadi ASN Pengadilan Surabaya

Jatim sendiri memproduksi sekitar 1,2 juta ton gula setiap tahun, atau sekitar 240 ribu ton per bulan selama musim panen lima bulan.

Sementara kebutuhan konsumsi langsung masyarakat Jatim hanya sekitar 30 ribu ton per bulan, sehingga terdapat kelebihan sekitar 190 ribu ton per bulan yang biasanya disalurkan ke provinsi lain.

Baca juga: Donat Lapis Tugu Malang Jadi Incaran Warga, Murah Meriah dengan Rasa Premium

Namun kini, pasar-pasar luar Jatim seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, dan Indonesia Timur disebut sudah dipenuhi gula rafinasi, akibat rembesan produk dari pabrik-pabrik rafinasi yang memperoleh izin impor.

“Selama ini kelebihan itu terserap keluar daerah. Tapi sekarang semua wilayah sudah dibanjiri rafinasi,” jelas Arum.

Ia pun mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan, di antaranya:

-Audit pabrik-pabrik rafinasi untuk melacak distribusi produk mereka.

– Mengurangi impor gula mentah sebagai bahan baku rafinasi.

– Menindak tegas peredaran gula rafinasi di pasar tradisional dan modern yang seharusnya hanya digunakan oleh industri besar.

“Jika masalah ini dibiarkan, maka nasib petani tebu kian terjepit, dan gula lokal makin sulit bersaing di negeri sendiri,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengamanan Mudik Lebaran di Lumajang, Patroli Rumah Kosong hingga Pos Pelayanan Terpadu

13 Maret 2026 - 16:14 WIB

Kesiapan Pemda Lumajang Saat Lebaran, Bupati Indah Standby Pantau Arus Mudik dan Pelayanan

13 Maret 2026 - 09:39 WIB

Tanpa Libur, Petugas Pemkab Lumajang Siap Layani Masyarakat Saat Mudik

13 Maret 2026 - 09:17 WIB

Operasi Ketupat 2026 Berlangsung 13–29 Maret, Ratusan Personel Siaga di Lumajang

13 Maret 2026 - 08:55 WIB

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Belum Digarap, AHY: Tuntaskan Masalah KCJB Dulu

12 Maret 2026 - 18:37 WIB

Pantau Langsung Jalan Rusak, Indah Amperawati Kerahkan Tim Aspal Keliling

12 Maret 2026 - 16:54 WIB

Trending di Nasional