Lumajang, – Di tengah status Level III (Siaga) Gunung Semeru, para petani di Kecamatan Candipuro dan Pasrujambe menghadapi tantangan ganda, menjaga keselamatan diri sekaligus menyelamatkan tanaman dari ancaman hujan abu vulkanik.
Meski demikian, dampaknya sudah terasa nyata di lahan pertanian warga. Abu vulkanik yang turun sejak akhir pekan menempel di permukaan daun tanaman cabai dan komoditas hortikultura lainnya.
Jika dibiarkan, abu dapat menghambat proses fotosintesis, memperlambat pertumbuhan, hingga menyebabkan bunga dan buah rontok.
Eko, petani cabai di Candipuro, mengaku harus bekerja ekstra untuk membersihkan tanamannya. Ia bersama petani lain rutin menyemprot dan menyiram daun agar abu tidak menempel terlalu lama. “Kalau tidak segera dibersihkan, bisa rusak tanamannya. Buahnya juga bisa rontok,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Bagi para petani, situasi ini bukan sekadar persoalan teknis pertanian, melainkan juga soal ketahanan ekonomi keluarga. Ancaman gagal panen berarti potensi kerugian yang tidak kecil, terlebih di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan.
Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak, serta menjauhi radius 500 meter dari tepi sungai yang berpotensi dilanda awan panas dan aliran lahar.
Tinggalkan Balasan