Situs Selogending, Ruang Sakral Leluhur dan Jejak Spiritual Nusantara Sejak Zaman Megalitikum - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Nasional · 4 Jan 2026 11:15 WIB ·

Situs Selogending, Ruang Sakral Leluhur dan Jejak Spiritual Nusantara Sejak Zaman Megalitikum


 Situs Selogending, Ruang Sakral Leluhur dan Jejak Spiritual Nusantara Sejak Zaman Megalitikum Perbesar

Lumajang, – Di balik hamparan alam yang masih asri, Situs Selogending berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang peradaban Nusantara.

Susunan batu dan punden berundak di kawasan ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan penanda bagaimana leluhur membangun relasi dengan alam, kehidupan, dan Sang Pencipta jauh sebelum agama-agama besar dikenal.

Romo Dukun sekaligus juru kunci Situs Selogending, Gatot, menuturkan situs ini diyakini telah ada sejak zaman megalitikum. Keberadaannya menjadi salah satu cikal bakal peradaban leluhur yang meninggalkan jejak berupa petilasan, simbol batu, serta tata ruang sakral yang masih bertahan hingga kini.

“Selogending ini merupakan peninggalan leluhur dari zaman megalitikum. Dari bukti-bukti yang ada, tempat ini dulunya menjadi ruang sakral untuk menjalani kehidupan dan mengungkapkan rasa syukur,” katanya, Minggu (4/1/2026).

Situs Selogending memiliki petilasan yang masing-masing menyimpan makna filosofis mendalam tentang asal-usul dan perjalanan hidup manusia.

Petilasan pertama berada di dekat pintu masuk, yakni Dewi Sri atau Mbok Sri Sedono. Sosok ini dikenal sebagai Dewi Kemakmuran yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat agraris.

Bagi leluhur, Dewi Sri melambangkan sumber kehidupan. Hasil panen yang melimpah dipercaya sebagai anugerah Yang Maha Kuasa sekaligus berkah dari leluhur yang harus disyukuri. Tak heran, petilasan ini menjadi simbol harapan akan kesejahteraan dan keberlangsungan hidup.

Di sisi kanan pintu masuk terdapat petilasan Mbah Tejo Gedang, yang dipercaya sebagai penjaga kawasan Situs Selogending. Keberadaan penjaga ini mencerminkan keyakinan leluhur akan pentingnya keseimbangan dan perlindungan dalam sebuah ruang sakral.

Sementara itu, di bagian kiri terdapat petilasan Mbah Tejo Gusumo dengan simbol Linggayoni. Dalam filosofi Jawa, Linggayoni melambangkan bapak dan ibu atau Bopo Biyung, sebagai asal mula kehidupan manusia.

“Linggayoni ini simbol awal kehidupan. Dari bapak dan ibu, keberadaan manusia dimulai,” jelas Gatot.

Di bagian tengah kawasan Situs Selogending terdapat petilasan Mbah Bukulon. Tempat ini menjadi pusat ritual dan pemujaan leluhur pada masa lalu. Sebelum hadirnya agama-agama besar, masyarakat megalitikum mengekspresikan rasa syukur melalui ritual dan persembahan.

Mayoritas masyarakat pada masa itu merupakan petani yang menggantungkan hidup pada alam. Ketika panen melimpah, mereka datang ke Mbah Bukulon untuk menyampaikan terima kasih atas berkah yang diterima.

“Ritual dilakukan sebagai ungkapan syukur. Hasil bumi yang melimpah itu dikembalikan dalam bentuk rasa terima kasih,” kata Gatot.

Ritual tersebut bukan semata pemujaan, tetapi sarana memperkuat hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan Yang Maha Kuasa.

Situs Selogending juga menyimpan peninggalan punden berundak, salah satu ciri khas budaya megalitikum. Susunan undakan dari tanah dan batu ini diyakini sebagai struktur asli yang telah ada sejak masa lampau, bukan hasil rekayasa modern.

Menurut Gatot, punden berundak tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu telah berkembang peradaban dengan tata ruang dan sistem kepercayaan yang terstruktur.

“Ini bukan kita yang membuat-buat. Dari dulu memang sudah berbentuk undak-undak,” ujarnya.
Di bagian atas kawasan situs terdapat petilasan Bahwadung Prabu atau Wadung Prabu yang ditandai dengan batu berdiri. Batu ini melambangkan sosok pemimpin atau raja. Dalam catatan lisan yang berkembang di masyarakat, sejumlah raja Nusantara pernah singgah di Situs Selogending.

Salah satu tokoh yang diyakini pernah datang adalah Prabu Siliwangi. Keberadaannya ditandai dengan Pandan Betawi, yang dianggap sebagai ciri khas peninggalan sang raja.

“Pandan Betawi ini menjadi tanda bahwa Prabu Siliwangi pernah menginjakkan kaki di Selogending,” tutur Gatot.

Di sudut kawasan situs terdapat bagian yang dianggap paling tua, yakni Selogending itu sendiri. Nama Selogending memiliki makna filosofis yang dalam. Selo berarti batu, sementara gending dimaknai sebagai hitungan, nyanyian, atau pujian.

Dalam pandangan leluhur, batu atau watu dimaknai sebagai waton, yang berarti tuntunan. Artinya, Selogending diharapkan menjadi pedoman hidup bagi generasi penerus agar tetap menjalankan ajaran leluhur, tata krama, serta nilai sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

“Leluhur kita berharap anak cucunya bisa meneruskan tuntunan hidup yang sudah diajarkan,” jelas Gatot.

Seiring perjalanan waktu, Situs Selogending mengalami pemugaran dan penyesuaian dengan perkembangan zaman. Masuknya agama-agama seperti Hindu, Islam, Kristen, dan kepercayaan lainnya turut memengaruhi corak ritual di kawasan ini.

Namun, Gatot menegaskan bahwa Situs Selogending terbuka bagi semua orang tanpa memandang latar belakang agama dan keyakinan.

“Di sini semua diterima. Leluhur kita tidak membedakan. Semua yang datang adalah anak cucunya,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 51 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gunung Semeru Tetap Siaga Level III, Teramati 6 Letusan Hari Ini

20 Februari 2026 - 14:46 WIB

Banjir Lahar Kembali Terjadi di Lumajang, Penambang Diminta Patuhi Arahan Petugas

18 Februari 2026 - 17:47 WIB

Banjir Lahar Hujan Kembali Terjang Lumajang, Warga Nekat Seberangi Sungai

18 Februari 2026 - 17:26 WIB

Banjir Lahar Dingin Gunung Semeru Yang Terjadi di Gondoruso Bau Belerang

17 Februari 2026 - 20:36 WIB

Sudah Dinormalisasi, Sungai Tetap Tak Mampu Bendung Lahar Semeru

17 Februari 2026 - 20:27 WIB

Kepanikan di Atas Jembatan, Warga Berlarian Saat Lahar Semeru Meluap

17 Februari 2026 - 20:22 WIB

Trending di Nasional