Lumajang, – Di tengah gempuran zaman modern yang serba gadget, di mana mayoritas generasi muda cenderung asyik dengan dunia digitalnya sendiri, karnaval desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, berbasis budaya hadir sebagai oase yang memikat.
Fenomena ini membuktikan bahwa ruang fisik dan pertunjukan komunal masih memiliki daya pikat magis untuk menyatukan masyarakat lintas generasi.
Melalui pergelaran tari kreasi multietnis dan lintas kultur, karnaval tingkat desa berhasil mengubah tantangan individualisme digital menjadi panggung kreativitas kolektif.
Tari kreasi yang ditampilkan tidak lagi kaku. Seni koreografi ini sengaja memadukan ketukan musik modern dengan pola gerakan tradisional dari berbagai daerah (seperti perpaduan musik kontemporer atau karnaval dengan unsur tari Dayak, Bali, Jawa, atau Sumatra).
Formula ini terbukti sangat ampuh memikat minat anak muda yang terbiasa dengan dinamika cepat di internet.
Melalui tari multietnis, generasi muda tidak hanya menari, tetapi juga belajar bertoleransi dan mengenal kekayaan ragam budaya Nusantara di luar daerahnya sendiri.
Mengalihkan layar menjadi panggung nyata, dari yang biasanya sibuk scrolling di media sosial, para pemuda desa. Mereka bergotong-royong menjadi konseptor, penari, hingga penata kostum karnaval.
Hubungan sosial yang sempat renggang akibat kenyamanan layar ponsel kembali rekat melalui latihan fisik dan kerja sama tim.
Di berbagai daerah Indonesia, konsep karnaval desa seperti di Desa Kandangtepus, terbukti sukses menjadi ruang perjumpaan yang hidup.
Budaya lokal tidak lagi dianggap kuno atau disimpan di museum, melainkan dibawa berjalan dengan bangga di sepanjang jalanan desa.
Bagi Hilda (29), salah satu penonton, pertunjukan itu menghadirkan pengalaman yang membekas.
Ia mengaku merinding menyaksikan para penari memainkan gerakan tangan yang meliuk mengikuti irama musik.
Bagi saya, keindahan pertunjukan tidak terletak pada koreografi dan kostum, tetapi pada cara beragam unsur budaya seolah bertemu dalam satu kesatuan,” katanya.
Setiap gerakan seperti menyampaikan pesan bahwa perbedaan adat, suku, dan tradisi bukan alasan untuk terpisah.
“Sebaliknya, keberagaman justru menjadi sumber keindahan ketika dirangkai dalam ruang kebersamaan,” ucap dia, Sabtu (10/10/2026).
Kekaguman serupa dirasakan Dian (31), warga Desa Kandangtepus.
Ia mengaku tidak menyangka desanya mampu menghadirkan pertunjukan dengan ragam tarian dan unsur budaya dari berbagai penjuru Indonesia.
“Tentunya, saya tidak menyangka sekali ada pertunjukan semewah ini,” ungkapnya dengan rasa kagum.
Bagi Dian, karnaval tersebut bukan sekadar hiburan. Ada kebanggaan tersendiri ketika budaya yang selama ini identik dengan daerah-daerah tertentu dapat dinikmati bersama di kampung halamannya.
Ia berharap pertunjukan serupa kembali digelar pada tahun berikutnya.
“Yang artinya, harapan itu menjadi gambaran bahwa kegiatan berbasis budaya dapat meninggalkan kesan mendalam sekaligus menumbuhkan keinginan masyarakat untuk kembali merayakannya,” harapnya.
Tinggalkan Balasan