Lumajang, – Persaingan bisnis UMKM di Indonesia semakin ketat seiring maraknya produk impor dari China yang masuk melalui platform e-commerce. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha lokal, terutama yang mengandalkan pasar domestik.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lumajang, Agus Setiawan, mengatakan situasi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi UMKM di Lumajang.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Lumajang. Produk lokal memiliki nilai budaya dan kualitas yang tinggi, namun mereka butuh dukungan agar bisa bersaing dengan produk impor yang lebih murah dan mudah dijangkau konsumen,” katanya, Selasa (24/3/2026).
Menurut Agus, dukungan bagi UMKM harus lebih strategis dan terarah. Salah satunya adalah dukungan likuiditas, melalui program pembiayaan atau kredit usaha kecil.
“Sehingga pelaku usaha memiliki modal yang cukup untuk memproduksi barang berkualitas, memperluas kapasitas produksi, dan menghadapi persaingan harga dari produk impor,” ungkapnya.
Selain itu, Agus menekankan pentingnya akses pasar yang lebih luas. Pelaku UMKM harus difasilitasi untuk bisa memasarkan produknya melalui platform digital dan e-commerce.
“Agar bisa menjangkau konsumen lebih luas, tidak hanya di Lumajang tetapi juga di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.
Agus menekankan bahwa produk UMKM lokal memiliki keunggulan unik yang sulit ditiru oleh produk impor.
“Keunggulan kita ada pada kualitas, kreativitas, dan nilai lokal yang melekat pada setiap produk. Produk massal dari luar negeri tidak memiliki nilai budaya atau cerita lokal yang bisa mengikat konsumen,” jelasnya.
Menurut Agus, kunci keberhasilan UMKM dalam menghadapi gelombang produk impor adalah kombinasi antara keunggulan lokal dan pemanfaatan teknologi digital.
“Kita harus bisa menonjolkan kualitas dan nilai budaya produk lokal, sambil memanfaatkan e-commerce sebagai jembatan untuk memperluas pasar,” tegasnya.
Sektor-sektor ini tidak hanya melibatkan perusahaan besar, sehingga UMKM dapat berperan aktif dalam ekosistem ekspor.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan banyaknya keluhan dari masyarakat terkait dominasi platform marketplace oleh produk China. Keluhan ini muncul saat Purbaya melakukan siaran langsung di TikTok bersama anaknya.
Purbaya mencontohkan, meskipun Tokopedia adalah platform buatan Indonesia, mayoritas sahamnya kini dimiliki oleh perusahaan China. Hal serupa juga terjadi pada TikTok Shop.
“Saya lagi mikir bagaimana mengembalikan marketplace-nya, (supaya) tidak hanya yang dikuasai China. Misalnya, kan Tokopedia dikuasai China kan semuanya. TikTok juga,” kata Purbaya.
Tinggalkan Balasan