Dari Surabaya ke Pegangsaan Timur: Jejak Panjang Bung Karno Menuju Proklamasi Kemerdekaan - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 6 Jun 2026 16:25 WIB ·

Dari Surabaya ke Pegangsaan Timur: Jejak Panjang Bung Karno Menuju Proklamasi Kemerdekaan


 Converted from  WebP to JPG using ezgif.com Perbesar

Converted from WebP to JPG using ezgif.com

Surabaya, – Pagi 17 Agustus 1945 menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, seorang pria berkacamata berdiri di hadapan rakyatnya.

Dengan suara yang tidak terlalu keras karena kondisi kesehatan yang menurun, ia membacakan teks yang mengubah nasib jutaan orang.

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Pria itu adalah Ir. Soekarno, yang kemudian dikenang sebagai Bung Karno, Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Namun, jalan menuju pagi bersejarah itu bukanlah perjalanan singkat.

Ia ditempa oleh pendidikan, penjara, pengasingan, serta pergulatan panjang melawan penjajahan.

Soekarno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Ia merupakan putra Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru, dan Ida Ayu Nyoman Rai yang berasal dari Bali.

Kedua orang tuanya memberikan fondasi pendidikan dan nilai kebangsaan yang kuat sejak masa kecil.

Saat masih kecil, Indonesia belum bernama Indonesia. Negeri ini masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda dengan nama Hindia Belanda.

Pada masa itu, kesempatan memperoleh pendidikan menjadi sesuatu yang langka bagi rakyat pribumi. Beruntung, Soekarno memperoleh akses pendidikan yang kelak menjadi salah satu bekal terbesarnya dalam perjuangan.

Perjalanan intelektualnya berkembang pesat ketika ia menempuh pendidikan di Hoogere Burger School (HBS) Surabaya. Di kota inilah kehidupannya berubah.

Ia tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam yang saat itu dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan paling berpengaruh di Nusantara.

Rumah Tjokroaminoto kerap disebut sebagai dapur lahirnya para pemimpin bangsa. Di sana, Soekarno muda menyaksikan berbagai diskusi politik, perdebatan mengenai nasib bangsa, hingga gagasan tentang kemerdekaan.

Lingkungan tersebut membentuk cara pandangnya terhadap kolonialisme dan menumbuhkan keyakinan bahwa Indonesia suatu saat harus berdiri sebagai bangsa yang merdeka.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Surabaya, Soekarno melanjutkan studi ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia berhasil meraih gelar insinyur pada tahun 1926.

Meski memiliki masa depan cerah sebagai seorang insinyur, Soekarno memilih jalan yang jauh lebih berisiko. Ia terjun ke dunia pergerakan nasional dan menjadikan politik sebagai alat perjuangan membebaskan rakyat dari penjajahan.

Pada 4 Juli 1927, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Melalui partai tersebut, Soekarno mengampanyekan kemerdekaan penuh bagi Indonesia.

Gagasan itu dianggap radikal pada zamannya karena sebagian kelompok pergerakan masih memperjuangkan otonomi atau perbaikan nasib di bawah pemerintahan kolonial.

Soekarno juga memperkenalkan konsep Marhaenisme setelah bertemu seorang petani bernama Marhaen di Bandung. Dari perjumpaan itu lahir pemikiran tentang keberpihakan kepada rakyat kecil yang tertindas oleh sistem kolonial dan ketidakadilan ekonomi.

Kemampuan orasinya yang luar biasa membuat namanya cepat dikenal di berbagai daerah. Ribuan orang datang untuk mendengarkan pidatonya. Kata-katanya membakar semangat rakyat yang selama ratusan tahun hidup dalam penjajahan.

Popularitas yang terus meningkat membuat pemerintah kolonial Belanda merasa terancam. Pada Desember 1929, Soekarno ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Sukamiskin di Bandung.
Di balik tembok penjara, ia tidak berhenti berjuang.

Dalam persidangan, Soekarno menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat. Pidato tersebut tidak hanya membela dirinya, tetapi juga menjadi kritik tajam terhadap praktik kolonialisme Belanda di Indonesia.

Setelah dibebaskan, tekanan terhadap Soekarno justru semakin besar. Pemerintah kolonial mengasingkannya ke Ende, Flores, pada 1934. Selama empat tahun di Ende, Soekarno hidup jauh dari pusat pergerakan nasional.

Namun pengasingan tidak mampu mematikan gagasannya. Di bawah sebuah pohon sukun yang kini dikenal sebagai Pohon Pancasila, Soekarno banyak merenungkan masa depan bangsa Indonesia.

Dari tempat yang sunyi itu, ia terus memikirkan dasar filosofis yang mampu mempersatukan bangsa yang sangat beragam.

Pada 1938, ia kembali dipindahkan ke Bengkulu. Di kota inilah ia bertemu Fatmawati, perempuan yang kelak menjadi ibu negara sekaligus penjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, situasi politik berubah drastis. Soekarno memanfaatkan ruang yang tersedia untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Bersama Mohammad Hatta dan tokoh-tokoh lainnya, ia aktif dalam berbagai forum yang membahas masa depan Indonesia.

Momentum penting terjadi pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI. Di hadapan para peserta sidang, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian dikenal sebagai lahirnya Pancasila.

Ia menawarkan lima prinsip dasar yang menurutnya dapat menjadi fondasi negara Indonesia merdeka. Gagasan tersebut kemudian berkembang dan disepakati sebagai dasar negara yang hingga kini menjadi pemersatu bangsa.

Memasuki Agustus 1945, situasi bergerak sangat cepat. Jepang menyerah kepada Sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom. Kekalahan Jepang membuka peluang bagi bangsa Indonesia untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Golongan muda mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta agar tidak menunggu persetujuan Jepang. Ketegangan itu memunculkan Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, ketika Soekarno dan Hatta dibawa ke luar Jakarta untuk didesak segera memproklamasikan kemerdekaan.

Setelah melalui berbagai perundingan, naskah proklamasi akhirnya disusun pada dini hari 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Tadashi Maeda.

Pagi harinya, di hadapan rakyat yang berkumpul di Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pembacaan teks yang berlangsung hanya beberapa menit itu mengakhiri perjalanan panjang perjuangan melawan kolonialisme dan menandai lahirnya Republik Indonesia.

Sehari kemudian, melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Soekarno resmi ditetapkan sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, sementara Mohammad Hatta menjadi Wakil Presiden.

Dari seorang anak guru yang lahir di Surabaya, menjadi pelajar yang ditempa di rumah Tjokroaminoto, menjadi tahanan politik, hidup dalam pengasingan, hingga akhirnya berdiri membacakan Proklamasi Kemerdekaan, perjalanan Soekarno adalah kisah tentang keteguhan menghadapi zaman.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Beras Tetap Stabil Saat Rupiah Melemah, Cabai Justru Melonjak di Lumajang

5 Juni 2026 - 11:46 WIB

Doa Bersama di Wonorejo, PDI Perjuangan Lumajang Ajak Kader Teladani Semangat Perjuangan Bung Karno

3 Juni 2026 - 20:24 WIB

Pendaki Ilegal di Semeru Terjatuh, Evakuasi Terkendala Medan Terjal

3 Juni 2026 - 16:13 WIB

Indah Amperawati: Pergantian Kepala BGN Bentuk Tanggung Jawab Pemerintah Jaga Kualitas MBG

3 Juni 2026 - 13:30 WIB

Semeru Kembali Erupsi, Kolom Abu Membumbung 800 Meter di Atas Puncak

3 Juni 2026 - 10:31 WIB

Hari Lahir Pancasila, Wabup Lumajang: Selama Darah Indonesia Mengalir, Pancasila Akan Tetap Hidup

1 Juni 2026 - 13:14 WIB

Trending di Nasional