Menjaga Rasa, Merawat Warisan: Kisah Kopi Senduro dari Lereng Semeru - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung

Nasional · 5 Jul 2026 14:27 WIB ·

Menjaga Rasa, Merawat Warisan: Kisah Kopi Senduro dari Lereng Semeru


 Menjaga Rasa, Merawat Warisan: Kisah Kopi Senduro dari Lereng Semeru Perbesar

Lumajang, – Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Semeru ketika langkah para petani mulai menyusuri kebun-kebun kopi di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Di sela rimbunnya pohon durian, nangka, manggis, pisang, kapulaga, hingga vanili, pohon-pohon kopi robusta tumbuh tanpa pernah berdiri sendiri. Bagi masyarakat setempat, pola tanam seperti itu bukan sekadar cara memanfaatkan lahan.

Ia adalah pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, sebuah ikhtiar menjaga keseimbangan alam sekaligus merawat cita rasa yang kelak hadir dalam setiap cangkir kopi.

Dari lereng gunung itu, perjalanan kopi dimulai. Buah kopi dipetik satu per satu ketika berwarna merah sempurna. Setelah itu dijemur di bawah hangat matahari pegunungan, digiling hingga menjadi green bean, lalu disangrai sebelum akhirnya berubah menjadi bubuk yang siap diseduh.

Di balik proses yang tampak sederhana itu, tersimpan ketelatenan, kesabaran, dan pengalaman bertahun-tahun yang tak bisa digantikan oleh mesin.

Bagi Rifki Medianto, petani sekaligus pengusaha kopi asal Desa Senduro, menjaga kualitas adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Harga kopi bisa naik dan turun mengikuti hukum pasar, tetapi rasa dan mutu harus tetap dipertahankan agar kepercayaan pelanggan tidak luntur.

“Harga kopi kering atau berasan sekarang Rp65 ribu per kilogram. Kalau kopi basah dari petani sekitar Rp10 ribu per kilogram,” kata Rifki, Minggu (5/7/2026).

Menurut dia, harga tersebut saat ini berada dalam kondisi yang relatif stabil. Berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya ketika stok kopi di tingkat petani menipis sehingga harga melonjak cukup tajam.

“Februari sampai Mei kemarin stok kopi habis di kalangan petani. Waktu itu kopi kering sempat Rp70 ribu per kilogram, sedangkan kopi basah mencapai Rp15 ribu per kilogram,” jelasnya.

Bagi petani, stabilnya harga bukan sekadar angka di pasar. Kondisi itu memberi kepastian bahwa hasil panen masih memiliki nilai jual yang layak tanpa harus bergantung pada kelangkaan pasokan.

Namun, pekerjaan petani belum selesai setelah buah kopi dipetik. Buah yang telah dikeringkan harus melalui proses penggilingan agar kulit tanduknya terlepas dan berubah menjadi biji kopi atau berasan. Untuk setiap kilogram kopi yang digiling, petani mengeluarkan biaya sekitar Rp1.000.

Tahapan berikutnya adalah menyangrai dan menggiling biji kopi hingga menjadi bubuk. Jasa pengolahan dari green bean menjadi bubuk dikenakan biaya sekitar Rp15 ribu per kilogram. Seluruh proses itu menjadi penentu karakter rasa yang akhirnya sampai ke tangan penikmat kopi.

Di Djodog Caffe, usaha yang dikelola Rifki, beragam jenis kopi khas Senduro dipasarkan. Mulai dari robusta, ekselsa, arabika, kopi lanang, hingga kopi wen. Setiap jenis memiliki karakter dan penggemarnya masing-masing.

Robusta dijual sekitar Rp120 ribu per kilogram. Ekselsa dipasarkan seharga Rp150 ribu per kilogram, sedangkan arabika mencapai Rp250 ribu per kilogram. Sementara kopi lanang dijual Rp160 ribu dan kopi wen sekitar Rp180 ribu per kilogram.
Di antara semua jenis itu, robusta tetap menjadi primadona.

“Yang paling banyak dicari robusta. Pengirimannya ke Bali, Surabaya, Malang, Tulungagung, Sidoarjo, Jakarta, Semarang, Kalimantan, sampai Singapura, Malaysia, Dubai, dan Turki,” kata Rifki.

Perjalanan kopi Senduro yang kini menembus berbagai daerah hingga luar negeri bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Menurut Rifki, karakter khas robusta Senduro justru dibentuk sejak masih berada di kebun.

Pohon-pohon kopi di Senduro tumbuh berdampingan dengan durian, nangka, manggis, pisang, kapulaga, hingga vanili. Sistem tanam tumpang sari yang telah lama diterapkan masyarakat diyakini memberikan pengaruh terhadap aroma dan cita rasa kopi.

Bagi sebagian penikmat kopi, robusta identik dengan rasa pahit yang tegas. Namun di Senduro, pahit itu berpadu dengan aroma buah dan rempah yang muncul secara alami dari lingkungan tempat kopi tumbuh. Karakter tersebut menghadirkan pengalaman rasa yang berbeda, membuat robusta Senduro mudah dikenali oleh para penikmat kopi.

“Kalau kopi Senduro murni tanpa campuran beras atau jagung. Jadi penikmat kopi sudah tahu kelebihannya. Yang kami jaga adalah kualitasnya,” ujarnya.

Ia bahkan menyarankan agar kopi dinikmati tanpa gula. Menurut dia, caara itu membuat cita rasa asli kopi lebih terasa sekaligus memberi manfaat yang lebih baik bagi kesehatan.

Di balik popularitas robusta, Senduro juga menyimpan kekayaan lain yang belum banyak dikenal masyarakat, yakni kopi liberika atau yang oleh sebagian warga disebut lileberica.

“Jenis kopi ini menawarkan perpaduan rasa pahit dan sedikit asam dalam satu seduhan,” ungkapnya.

Di kalangan pegiat kopi, liberika bahkan kerap disebut sebagai salah satu kopi masa depan Indonesia karena populasinya masih terbatas dan memiliki karakter yang unik.

“Sayangnya, banyak petani belum memahami perbedaan jenis tanaman tersebut. Akibatnya, buah liberika sering kali dipanen dan dicampur bersama jenis kopi lain sehingga keunikan rasanya tidak muncul secara utuh,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sambut Piodalan Pura Mandara Giri Semeru Agung, Aston Inn Lumajang Siapkan Akomodasi bagi Pemedek dan Wisatawan

30 Juni 2026 - 23:08 WIB

Ribuan Umat Hindu Padati Pura Mandara Giri Semeru Agung Rayakan Piodalan 2026

29 Juni 2026 - 19:41 WIB

Lamadjang: Sejarah yang Memilih Menari daripada Dilupakan

28 Juni 2026 - 18:07 WIB

Sawah Menyusut, Pemkab Lumajang Berlindung di Balik LP2B

25 Juni 2026 - 15:29 WIB

Segoro Topeng Kaliwungu 2026 Akan Diramaikan Bazar UMKM dan Berbagai Lomba

24 Juni 2026 - 11:32 WIB

Ibu Rumah Tangga Lumajang: MBG Sangat Menyentuh Kehidupan Kami

22 Juni 2026 - 11:49 WIB

Trending di Nasional