Lumajang, – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat di Kabupaten Lumajang.
Sejumlah pedagang kecil menaikkan harga makanan dan minuman, sementara harga minyak goreng di pasar tradisional ikut merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut dirasakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada pasokan barang dari distributor. Kenaikan harga di tingkat kulakan membuat mereka harus melakukan penyesuaian harga jual agar usaha tetap berjalan di tengah meningkatnya biaya operasional.
Salah satunya dialami Jumiati, pemilik warung kopi di kawasan Jalan Gatot Subroto, Lumajang. Ia mengaku harga sejumlah barang yang biasa dibelinya mengalami kenaikan sejak beberapa hari terakhir.
“Biasanya kulakan harganya Rp 3.000, sekarang jadi Rp 3.500. Kenaikan harga terjadi sejak kemarin,” katanya, Selasa (9/6/2026).
Kenaikan harga kulakan tersebut membuat Jumiati menaikkan harga mie instan matang yang dijual kepada pelanggan. Jika sebelumnya satu porsi mie instan dijual Rp 5.000, kini harganya menjadi Rp 6.000.
“Sebelumnya masih jual Rp 5.000, sekarang Rp 6.000. Baik mie Sedaap maupun Indomie. Biar sama-sama untung,” ungkapnya.
Tak hanya makanan, harga minuman juga ikut mengalami penyesuaian. Jumiati menaikkan harga kopi sachet yang diseduh dari Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 per cangkir setelah harga kopi kemasan yang dibelinya ikut naik.
“Kopi sachet biasanya dua renteng itu Rp 9.000, sekarang naik Rp 10.000. Otomatis saya juga naikkan harga kopi yang sudah diseduh, kalau tidak begitu tidak dapat untung,” tuturnya.
Meski menaikkan harga, Jumiati mengaku belum menerima protes dari pelanggan. Menurut dia, sebagian besar masyarakat memahami bahwa kenaikan harga terjadi hampir di semua sektor kebutuhan sehari-hari.
“Tidak ada protes, soalnya orang-orang juga tahu kalau semuanya sekarang naik harganya,” katanya.
Kenaikan harga juga terlihat di Pasar Baru Lumajang. Pedagang sembako Abdul Muin mengatakan minyak goreng menjadi salah satu komoditas yang mengalami lonjakan paling terasa dalam dua pekan terakhir.
“Semuanya naik, terutama minyak goreng. Kenaikannya Rp 2.000 per liter,” kata dia.
Ia mencontohkan minyak goreng kemasan ukuran dua liter yang sebelumnya dijual sekitar Rp 40.000 kini mencapai Rp 45.000. Sementara untuk Minyakita, harga relatif stabil, namun pasokannya mulai sulit ditemukan di pasaran.
“Penyebab kenaikan harga minyak goreng kurang tahu. Karena baru-baru ini kan, sekitar dua minggu lalu,” ujarnya.
Di sisi lain, sebagian konsumen mengaku belum terlalu merasakan dampak kenaikan harga tersebut. Ayu, salah seorang pembeli di Pasar Baru Lumajang, mengatakan dirinya jarang memasak sehingga kenaikan harga minyak goreng tidak terlalu memengaruhi pengeluaran rumah tangganya.
“Tidak berdampak apa-apa, karena saya sendiri juga jarang masak di rumah,” kata Ayu.
Menurut dia, beberapa komoditas lain masih berada pada tingkat harga yang relatif stabil. Daging ayam ras, misalnya, saat ini dijual sekitar Rp 33.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan beberapa waktu sebelumnya yang mencapai Rp 35.000 per kilogram.
“Harga sebelumnya Rp 35.000. Jadi dengan harga segitu masih tergolong stabil,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan