Lumajang, – Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) E-Sport Lumajang 2026 menjadi salah satu upaya menjaring atlet potensial untuk dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027, Minggu (1/11/2026).
Kejuaraan yang digelar di Alka Cafe tersebut diikuti lebih dari 300 peserta. Sejumlah nomor pertandingan diperlombakan, di antaranya Mobile Legends dan Free Fire, dengan total hadiah mencapai Rp 5 juta.
Ketua E-Sport Indonesia (ESI) Lumajang, Muhammad Syahrul, berharap kejuaraan tersebut mampu melahirkan pemain-pemain berbakat yang dapat bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
“Apa lagi, perkembangan E-Sport saat ini semakin besar. Cabang olahraga inu tidak hanya menjadi hiburan, tapi memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bidang prestasi dan profesi,” unarnya.
Dia meminta para peserta Mobile Legends maupun Free Fire mengikuti setiap kompetisi dengan serius agar kemampuan mereka terus berkembang.
“Kalian harus pebih serius, harus bisa meyakinkan diri kalian, untuk supaya ke depan kalian mampu menjuara di tingkat kabupaten, jawa timur bahkan nasional,” jelasnya.
Syahrul juga menyampaikan apresiasi kepada para sponsor dan pihak yang mendukung penyelenggaraan Kejurkab E-Sport Lumajang 2026, di antaranya Pemuda Pancasila, Kadin, serta dr. Arya.
Sementara itu, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lumajang, Budi Satria, mengatakan kejuaraan tersebut menjadi kesempatan bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tingkat provinsi.
Menurutnya, persiapan menuju Porprov 2027 perlu dilakukan sejak sekarang. Sebab, masih terdapat waktu beberapa bulan bagi calon atlet untuk meningkatkan kemampuan dan mematangkan kesiapan bertanding.
“Artinya masih ada beberapa bulan ke depan untuk persiapan. Dilakukan dari hari ini,” kata Budi saat membuka Kejurkab E-Sport Lumajang 2026.
Budi menjelaskan, kejuaraan kali ini juga memiliki cakupan usia peserta yang lebih luas dibandingkan sejumlah kompetisi sebelumnya yang pernah diikutinya.
Jika sebelumnya kejuaraan di tingkat pelajar membatasi usia peserta maksimal 18 tahun, kali ini rentang usia peserta mencapai 24 hingga 25 tahun.
“Maka dari itu, kemampuan bermain E-Sport tidak selalu ditentukan oleh usia. Pemain yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) memiliki peluang untuk bersaing dan mengalahkan pemain yang lebih senior,” katanya.
Karena itu, Budi meminta seluruh peserta tidak meremehkan kemampuan lawan, baik pemain berpengalaman maupun mereka yang baru mengikuti kompetisi.
“Belum tentu yang senior itu menang daripada yang junior. Yang jago main E-Sport jangan meremehkan yang baru main,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan