Agus Setiawan: Banyak Konflik Royalti Terjadi karena Seniman Lupa Mengelola Karyanya - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Bisnis · 14 Nov 2025 19:48 WIB ·

Agus Setiawan: Banyak Konflik Royalti Terjadi karena Seniman Lupa Mengelola Karyanya


 Agus Setiawan: Banyak Konflik Royalti Terjadi karena Seniman Lupa Mengelola Karyanya Perbesar

Lumajang, – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lumajang, Agus Setiawan, mengingatkan pentingnya manajemen karya bagi para pelaku seni dan kreator di tengah maraknya konflik royalti yang kerap viral di Indonesia.

Menurutnya, akar dari banyaknya perselisihan tersebut bukan hanya karena sistem yang kurang ideal, tetapi karena seniman sering kali lupa bahwa mereka bukan hanya pencipta karya, melainkan juga pengelola karya yang harus mengatur dan melindungi hak cipta mereka.

Baca juga: Storytelling, Rahasia Konten Menarik Menurut Ketua Kadin Lumajang

“Sering saya katakan, seniman itu bukan hanya pencipta. Mereka adalah pengelola karya. Tapi kenyataannya, banyak teman-teman seniman yang hanya fokus pada menciptakan, lalu lupa mengelola hasil ciptaannya. Akhirnya karya itu diklaim orang lain, dikelola orang lain, dan keuntungannya juga dinikmati pihak lain,” katanya, Jumat (14/11/2025).

Agus menambahkan tidak sedikit kasus pertengkaran, perpecahan, hingga konflik royalti yang menjadi konsumsi publik terjadi karena seniman tidak memiliki bukti legal atas karya yang mereka buat dan kelola.

Baca juga: Ketua Kadin Lumajang, Kunci Sukses di Era Digital Adalah Konsistensi dan Branding Diri

“Masalah-masalah ini akhirnya viral di Indonesia. Semuanya berawal dari kelalaian kecil, tidak ada hitam di atas putih. Ketika merasa dikhianati dan ingin menuntut, mereka tidak punya bukti. Ini bahaya,” tegasnya.

Untuk itu, Agus menekankan agar seniman belajar menjadi manajer atas karyanya sendiri. Mulai dari pencatatan karya, pengaturan penggunaan, kerja sama, hingga kesepakatan honor dan pembagian keuntungan. Semua proses tersebut, menurutnya, harus dilakukan secara profesional.

Baca juga: Kadin Lumajang Dorong Seniman Jadi Pengusaha Kreatif Mandiri

“Kalau berhubungan dengan orang lain, jangan hanya modal percaya. harus ada kontrak kerja, harus ada kesepakatan tertulis. Mulai dari DP, pembagian royalti, sampai apa saja hak dan kewajibannya. Kalau tidak ada hitam di atas putih, itu yang bikin konflik,” tambahnya.

Menurut Agus, seniman pada dasarnya adalah wirausaha kreatif. Artinya, karya seni bukan hanya ekspresi, tetapi juga aset ekonomi yang harus dikelola dengan baik. Jika hanya mengandalkan order musiman, seperti tanggapan saat musim kawinan atau tampil setahun sekali di acara karnaval, maka perkembangan seniman akan mandek.

“Seniman harus bisa menjemput bola. Jangan hanya menunggu panggilan. Buat karya, kelola dengan benar, dan cari peluang lain agar pendapatan tidak bergantung musim. Apalagi di era digital, seni bisa menjadi potensi ekonomi luar biasa,” jelasnya.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Sapi Besar di Lumajang Tembus Rp 30 Juta per Ekor

21 Mei 2026 - 13:07 WIB

Harga Pertamina Dex Naik, Pengusaha Pasir Lumajang Kelimpungan

7 Mei 2026 - 11:46 WIB

Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia

3 Mei 2026 - 07:49 WIB

Berawal dari Botol Bekas, Arif Kini Panen 7 Kuintal Selada Setiap 40 Hari

23 April 2026 - 07:43 WIB

Halal Bihalal Kadin Lumajang–Sidoarjo, Pertanyakan Minimnya Kekompakan Pengusaha Lokal

11 April 2026 - 16:54 WIB

Tak Bisa Sajikan Teh Hangat, Pedagang Bakso di Lumajang Kehilangan Pelanggannya

10 April 2026 - 11:10 WIB

Trending di Bisnis