Batik Peneleh, Warisan Budaya Kontemporer yang Menggerakkan Ekonomi Kreatif Surabaya - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 14 Des 2025 11:01 WIB ·

Batik Peneleh, Warisan Budaya Kontemporer yang Menggerakkan Ekonomi Kreatif Surabaya


 Batik Peneleh, Warisan Budaya Kontemporer yang Menggerakkan Ekonomi Kreatif Surabaya Perbesar

Surabaya, – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Pahlawan, Batik Peneleh kembali menjadi sorotan. Dikembangkan di kawasan Peneleh Heritage, batik ini bukan sekadar kerajinan, melainkan ikon budaya kontemporer yang memadukan sejarah lokal dengan peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat setempat.

Batik Peneleh lahir dari inisiatif revitalisasi kawasan Peneleh Heritage, salah satu kampung tertua di Surabaya. Meskipun kerajinan batik telah lama dikenal di Jawa Timur, Batik Peneleh dirancang khusus untuk mencerminkan identitas historis kawasan tersebut.

Resmi diperkenalkan pada 2022, batik ini digulirkan melalui program pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang digagas pemerintah kota bersama berbagai elemen masyarakat hingga tingkat kelurahan.

Suminah (64), Ketua Pengurus UKM Batik Peneleh, menceritakan bagaimana program tersebut menjadi titik awal kesuksesan kelompok ibu-ibu setempat.

“Awalnya kami kaget, Pak Camat datang dan menawarkan modal untuk membatik. Kami para ibu-ibu di sini yang semula tidak punya keahlian membatik, langsung mendapat pelatihan intensif,” katanya, Minggu (14/12/2025).

Pelatihan singkat yang hanya berlangsung tiga hari itu langsung membuahkan hasil. “Kami langsung mendapat pesanan pertama, 60 lembar kain batik untuk pegawai kelurahan. Alhamdulillah, meski kami hanya berempat, pesanan itu selesai dalam tiga bulan,” tambahnya.

Kini, kelompok Batik Peneleh telah berkembang menjadi 10 ibu-ibu yang bekerja secara bergantian dalam proses membatik, mulai dari pembuatan pola, mencanting, hingga pewarnaan. Suminah menilai kolaborasi dengan pemerintah daerah sebagai peluang emas untuk menghidupkan ekonomi lokal dan melestarikan warisan budaya.

Batik Peneleh juga mulai dikenal luas di kalangan mahasiswa dan wisatawan. Mahasiswa aktif melakukan penelitian, membantu promosi, dan ikut mengembangkan strategi pemasaran, termasuk pembuatan poster dan materi edukasi. Hal ini menjadikan Batik Peneleh tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai media edukasi budaya dan daya tarik wisata.

“Motif Batik Peneleh memadukan sejarah panjang Surabaya, mulai dari jejak Majapahit hingga masa pergerakan nasional, sehingga menjadi cendera mata yang diminati berbagai kalangan. Keberadaan batik ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas lokal,” pungkas Suminah.

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hidup Rukun di Lereng Semeru, Kampung Pancasila Rawat Toleransi Sehari-hari

21 Mei 2026 - 13:29 WIB

Hari Kebangkitan Nasional Bukan Sekadar Seremoni, Ini Pesan Wabup Lumajang

20 Mei 2026 - 20:26 WIB

Lonjakan Wisman saat Lebaran, Lumajang Ungguli Surabaya dan Malang

24 April 2026 - 08:49 WIB

Kuota Pendakian Semeru Dibatasi 200 Orang per Hari, Wajib Booking Online

22 April 2026 - 18:00 WIB

Rp450 Ribu per Jam, Warga Lumajang Sewa Alat Berat dari Iuran Sendiri Untuk Perbaiki Tanggul Jebol

22 April 2026 - 12:55 WIB

Di Bawah Langit Semeru, Peternak Menjaga Alam, dan Alam Menjaga Susu Kambing Senduro

19 April 2026 - 14:42 WIB

Trending di Nasional