Lumajang, – Dari tanah vulkanik pegunungan Lumajang lahir Original Qohwah, kopi liberika dengan karakter rasa earthy, herbal, dan aroma buah fermentasi yang khas.
Cita rasanya bukan sekadar hasil olahan, melainkan cerminan alam tempat kopi ini tumbuh dan berkembang, di antara kesuburan abu gunung berapi dan udara sejuk lereng pegunungan.
Lumajang dikenal sebagai daerah yang dianugerahi bentang alam pegunungan dengan tanah vulkanik yang subur.
Lereng Gunung Semeru dan Gunung Lemongan menjadi rumah bagi berbagai tanaman, termasuk kopi liberika yang tumbuh secara alami dan tidak banyak dibudidayakan secara massal. Dari kawasan inilah biji kopi pilihan untuk Original Qohwah dipanen.
Berbeda dengan kopi arabika atau robusta yang lebih populer, kopi liberika memiliki karakter yang unik dan cenderung kuat.
Aromanya kerap diasosiasikan dengan buah nangka matang, sementara rasanya menghadirkan nuansa earthy, woody, dan herbal yang tegas.
Sentuhan rasa buah yang difermentasi menjadikan kopi ini memiliki identitas tersendiri di antara ragam kopi Nusantara.
Salah satu pelaku usaha yang mengangkat kopi liberika Lumajang ke pasar adalah Abdul Rohman, warga Desa Bades, Kecamatan Pasirian.
Ia mengaku memilih biji kopi dari lereng Semeru dan Lemongan bukan tanpa alasan. Menurutnya, tanah vulkanik dari dua gunung berapi tersebut menyimpan mineral dan nutrisi alami yang sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa kopi.
“Kami sengaja memilih biji kopi dari lereng gunung berapi, karena tanahnya subur dan kaya mineral dari abu vulkanik. Itu yang membuat rasa kopi menjadi lebih kuat dan unik,” kata Abdul Rohman, Minggu (28/12/2025).
Ia menjelaskan, kesuburan tanah dan kondisi alam pegunungan membuat tanaman kopi tumbuh lebih sehat. Proses ini secara alami membentuk karakter rasa kopi yang kompleks dan berbeda dengan kopi dari dataran lain.
Bagi Abdul, karakter alam inilah yang ingin dipertahankan dalam setiap sajian Original Qohwah.
Pemilihan kopi liberika sebagai bahan utama juga bukan tanpa tantangan. Abdul Rohman menyebut, produksi kopi liberika relatif rendah dan belum banyak dibudidayakan secara luas.
Bahkan, sebagian petani kopi memilih menyimpan hasil panen untuk konsumsi pribadi karena rasanya yang khas dan kuat.
“Liberika itu jarang dijual. Biasanya dibuat untuk konsumsi sendiri. Produksinya juga tidak sebanyak jenis kopi lain,” ungkapnya.
Dalam proses pengolahan, Abdul Rohman mengaku sangat menjaga keaslian rasa. Ia tidak mencampur kopi dengan bahan lain dan mengolah biji kopi secara hati-hati agar aroma khasnya tetap terjaga.
Menurutnya, kesalahan kecil dalam proses bisa menghilangkan karakter rasa yang menjadi keunggulan kopi liberika.
“Kopi ini murni, tidak ada campuran. Prosesnya kami lakukan pelan-pelan supaya aroma dan rasanya tetap keluar. Kalau terlalu cepat atau salah proses, karakternya bisa hilang,” jelasnya.
Original Qohwah kini dikemas dalam beberapa pilihan ukuran, yakni 200 gram dan setengah kilogram. Kopi ini mulai diminati oleh kalangan penikmat kopi menengah ke atas yang mencari pengalaman rasa berbeda dari kopi hitam pada umumnya.
Meski tergolong kopi premium, Abdul Rohman menyebut harga kopi Original Qohwah masih bisa dinegosiasikan langsung dengan pembeli. Ia menilai bahwa kualitas rasa yang dihasilkan sebanding dengan harga yang ditawarkan.
“Rasa premium ya sebanding dengan harganya. Tapi kami terbuka untuk berdiskusi dengan pembeli,” jelasnya.
Tinggalkan Balasan