Ketika Pemerintah Lumajang Menyapa Hingga ke Dapur Lansia - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 28 Mei 2025 09:55 WIB ·

Ketika Pemerintah Lumajang Menyapa Hingga ke Dapur Lansia


 Ketika Pemerintah Lumajang Menyapa Hingga ke Dapur Lansia Perbesar

Di sebuah rumah tua di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, hidup seorang nenek bernama Buati. Ia tinggal sendirian di rumah berdinding lapuk dan atap bocor. Meski sudah lanjut usia, Buati menolak pindah ke Griya Lansia. Ia memilih tetap tinggal di rumah yang penuh kenangan.

Hari ini, suasana rumah Buati berubah. Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), datang langsung mengunjunginya. Pemerintah Kabupaten Lumajang resmi menetapkan rumah Buati sebagai penerima program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

“Rumah ini memang tidak layak, tapi Mbah Buati ingin tetap tinggal di sini. Itu keinginan yang harus kita hormati,” kata Bunda Indah.

Bantuan yang Menghargai Pilihan

Tidak hanya perbaikan fisik, Buati juga mendapatkan layanan makanan hangat dua kali sehari. Tim kesehatan rutin memeriksanya. Pemerintah tidak hanya memberi bantuan, tapi juga menghargai martabat dan pilihan hidup seorang warga lanjut usia.

“Kami hadir bukan hanya untuk memperbaiki rumah, tapi menjaga kehormatan beliau,” tegas Bunda Indah.

Kebijakan dengan Empati

Pemerintah menunjukkan pendekatan yang berbeda. Tidak sekadar data dan anggaran, tetapi juga sentuhan hati. Kunjungan ini menjadi bukti bahwa kebijakan bisa menyentuh sisi kemanusiaan jika dijalankan dengan empati.

Kisah Buati adalah cerminan bahwa kehadiran negara bisa terasa hingga ke dapur warga yang paling sederhana. Bukan hanya renovasi rumah, tetapi juga pengakuan terhadap hak untuk tetap tinggal di tanah kelahiran.

Di antara genteng yang diganti dan tembok yang diperbaiki, Buati mendapat sesuatu yang lebih penting: rasa dihargai dan diperhatikan. Bukan karena status sosialnya, tapi karena ia warga Lumajang yang tetap layak dipeluk oleh negara.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Siswi MTsN Jadi Korban Peluru Nyasar

4 Februari 2026 - 21:35 WIB

Jenazah Korban Banjir Bandang Ditemukan Nelayan di Muara Sungai

4 Februari 2026 - 16:33 WIB

Puluhan Warga Antre Adopsi Bayi yang Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:50 WIB

Bidan Ceritakan Detik-Detik Kelahiran Bayi yang Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:40 WIB

Ekonomi Diduga Jadi Alasan Bayi Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:31 WIB

Bayi Laki-laki Diperkirakan Berusia Dua Hari Ditemukan di Warung Gorengan Senduro

4 Februari 2026 - 10:30 WIB

Trending di Daerah