Pemkot Surabaya Siapkan Sanksi Tegas untuk Kos-Kosan Nakal, Mulai Teguran hingga Pencabutan Izin - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Bisnis · 24 Sep 2025 15:17 WIB ·

Pemkot Surabaya Siapkan Sanksi Tegas untuk Kos-Kosan Nakal, Mulai Teguran hingga Pencabutan Izin


 Pemkot Surabaya Siapkan Sanksi Tegas untuk Kos-Kosan Nakal, Mulai Teguran hingga Pencabutan Izin Perbesar

Surabaya, – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya semakin serius dalam menertibkan keberadaan kos-kosan dan kontrakan yang tidak tertib administrasi maupun melanggar aturan sosial. Selain melakukan pendataan menyeluruh terhadap penduduk non-permanen, Pemkot juga mengintensifkan pengawasan langsung ke lapangan, bekerja sama dengan camat, RT/RW, serta Satpol PP.

Pemilik kos yang terbukti melakukan pelanggaran bisa dikenai sanksi berlapis, mulai dari teguran lisan, teguran tertulis, hingga penyegelan dan pencabutan izin usaha.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan temuan di lapangan, masih banyak kos-kosan yang mencampur antara penghuni laki-laki dan perempuan tanpa pemisahan ruang yang jelas. Selain itu, tidak sedikit pemilik kos yang tidak melaporkan keberadaan penghuninya kepada RT setempat sebagaimana diatur dalam kewajiban melapor dalam waktu 1×24 jam.

Baca juga: 3 Segmen Anak Putus Sekolah Jadi Fokus: DO, LTM, dan BPB Capai 14.190 Anak di Lumajang

“Kami mengingatkan agar pemilik kos tidak mencampur antara laki-laki dan perempuan tanpa pemisahan. Ini bukan hanya soal ketertiban, tapi juga menjaga norma sosial di lingkungan,” kata Zaini, perwakilan dari Satpol PP Kota Surabaya, Rabu (24/9/25).

Zaini menegaskan bahwa penertiban ini bukan bersifat represif semata, melainkan bagian dari pengawasan terpadu untuk menjaga kenyamanan warga, terutama di kawasan padat penduduk dan sekitar kampus yang menjadi pusat kos-kosan.

Baca juga: DPRD Jember Siapkan Pembahasan KUA-PPAS APBD 2025, Hadapi Tantangan Pemotongan Dana Transfer Rp 600 Miliar

“Pemkot tidak bekerja sendiri. Kami kolaborasi dengan camat, RT, RW, dan tentu saja Satpol PP sebagai penegak peraturan daerah. Laporan dari masyarakat juga sangat kami butuhkan untuk mendeteksi pelanggaran,” imbuhnya.

Dalam praktiknya, jika ditemukan pelanggaran administratif atau pelanggaran sosial, pemilik kos akan diberikan teguran terlebih dahulu. Namun jika tidak ada perbaikan, maka langkah tegas akan diambil berupa penyegelan tempat atau pencabutan izin usaha.

Tak hanya itu, Zaini juga menyinggung soal sanksi sosial yang bisa timbul dari warga sekitar jika pemilik kos dinilai abai terhadap norma lingkungan.

“Yang paling ekstrem adalah sanksi dari warga. Misalnya, kos yang dianggap meresahkan bisa ditolak keberadaannya oleh warga. Ini bisa berdampak buruk bagi pemilik usaha sendiri,” tegasnya.

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tradisi Selametan dan Menu Berbuka Jadi Pemicu Lonjakan Harga Ayam di Lumajang

20 Februari 2026 - 11:31 WIB

Pemkab Lumajang Dorong Investasi Peternakan untuk Kendalikan Harga Ayam

20 Februari 2026 - 11:27 WIB

Galangan Kapal Banyuwangi Produksi Katamaran X38, Dorong Kemandirian Industri Maritim Nasional

18 Februari 2026 - 10:24 WIB

Ramadhan di Tengah Lonjakan Harga Ayam, Penjual Nasi Bungkus Pilih Perkecil Porsi

17 Februari 2026 - 09:27 WIB

Ramadan 1447 H, Harga Sembako di Lumajang Masih Stabil

13 Februari 2026 - 11:31 WIB

Dari Barongsai hingga Undian Umroh, Aston Inn Lumajang Hadirkan Perayaan Penuh Makna di Awal 2026

11 Februari 2026 - 11:11 WIB

Trending di Bisnis