This is Good! Cerita Backpacker Italia Nikmati Takjil Pertama di Lumajang - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

International · 2 Mar 2026 14:55 WIB ·

This is Good! Cerita Backpacker Italia Nikmati Takjil Pertama di Lumajang


 This is Good! Cerita Backpacker Italia Nikmati Takjil Pertama di Lumajang Perbesar

Lumajang, – Langit di atas Lumajang perlahan berubah warna. Jingga membias lembut, menyentuh pucuk pepohonan dan hamparan rumput di Alun-Alun Lumajang.

Angin sore berembus ringan, membawa aroma kolak yang manis, gorengan yang baru diangkat dari wajan, dan semerbak sirup buah yang tersusun rapi di atas meja-meja kecil para pedagang.

Di salah satu sudut alun-alun, Carlo duduk bersila bersama beberapa warga lokal. Di tangannya, tergenggam lumpia hangat, takjil pertamanya di Indonesia. Ia tersenyum, sesekali mengamati suasana di sekelilingnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Carlo datang jauh dari Italia. Sebagai backpacker, ia terbiasa berpindah dari satu kota ke kota lain, menyusuri gang-gang kecil, mencicipi makanan khas, dan berbincang dengan orang-orang asing. Namun Ramadan di Lumajang memberinya pengalaman yang berbeda, lebih sunyi, lebih hangat, lebih menyentuh.

Ia menginap di Omah Sinau Gesang, sebuah ruang belajar yang juga menjadi tempat singgah para pelancong. Di sana ia bertemu Haidar, yang dengan sabar mengenalkannya pada wajah Lumajang yang sesungguhnya, sederhana, bersahabat, dan penuh cerita.

Sore itu, Haidar menuntunnya menyusuri deretan booth UMKM di sekitar alun-alun. Carlo berhenti di hampir setiap lapak. Matanya berbinar melihat dimsum mengepul, pentol bakar yang dilumuri saus kacang, hingga aneka gorengan yang berwarna keemasan.

“Wah, banyak sekali beragam makanan di sini, sampai bingung pilih yang mana,” katanya, terkekeh kecil.

Namun pilihannya jatuh pada lumpia. Ia memperhatikan penjual menggulung kulit tipis berisi sayuran segar, lalu menggorengnya hingga renyah. Ada ketelitian di setiap gerakan, ada kesabaran yang terasa akrab dengan suasana Ramadan.

Detik-detik menjelang adzan magrib terasa istimewa. Keramaian tidak benar-benar hilang, tetapi berubah menjadi lebih tenang. Wajah-wajah yang tadinya sibuk kini tampak lebih khidmat. Anak-anak berhenti berlari, para ibu merapikan makanan di atas tikar, dan beberapa pria menengadah sejenak ke langit yang mulai gelap.

Ketika adzan berkumandang dari masjid sekitar alun-alun, suasana seakan berhenti sesaat. Orang-orang serentak meneguk minuman, menggigit kurma, atau menyantap takjil yang telah dibeli. Carlo mengikuti, menggigit lumpia hangat di tangannya.

Saus manis-gurihnya menyentuh lidah, sayuran di dalamnya terasa segar. Ia tersenyum lebar.

“Saya suka rasanya. Ada isian sayuran di dalamnya, ada tambahan sausnya juga. This is good!” ujarnya sambil mengacungkan jempol, dibantu Haidar menerjemahkan.

Namun yang paling membekas bukanlah rasa lumpia itu sendiri. Bagi Carlo, momen berbuka di Lumajang menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan.

Ia melihat orang-orang berbagi makanan tanpa ragu, anak muda membantu orang tua membawa kantong belanja, dan senyum tulus yang seolah menjadi bahasa universal.

Di negerinya, Ramadan mungkin hanya ia kenal dari cerita atau berita. Tetapi di Tanah Jawa ini, ia menyaksikan langsung bagaimana bulan suci menjadi ruang perjumpaan, antara yang kaya dan sederhana, antara warga lokal dan pendatang, antara tradisi dan rasa ingin tahu.

“Saya suka suasana kota ini. Taman kotanya bersih, fasilitas publiknya sangat baik,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Iran Berdampak ke Umrah, Pemerintah Pastikan 58.873 Jemaah Indonesia Terpantau

2 Maret 2026 - 14:00 WIB

Geolog Indonesia-Australia Pelajari Jejak Mineral Banyuwangi, Pulau Merah Jadi Laboratorium Alam

2 Desember 2025 - 17:06 WIB

Rencana Whoosh Sambung ke Surabaya Terancam Tersendat, Masalah Utang Belum Tuntas

22 Oktober 2025 - 12:57 WIB

Surga Tersembunyi di Lumajang, Tumpak Sewu Tawarkan Pengalaman Wisata Penuh Petualangan

9 Oktober 2025 - 17:56 WIB

Stasiun KRL Surabaya Akan Terapkan Konsep TOD, Dorong Gaya Hidup Urban Modern

7 Oktober 2025 - 18:38 WIB

Dorong TOD, Setiap Stasiun KRL Surabaya Bakal Jadi Pusat Aktivitas Baru Masyarakat Perkotaan

6 Oktober 2025 - 15:18 WIB

Trending di International