Lumajang, – Udara sejuk lereng Gunung Semeru menyambut setiap langkah yang memasuki Dusun II Sumberejo, Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Di tengah lanskap pedesaan yang tenang itu, sebuah kehidupan sosial yang hangat tumbuh di antara warga yang berbeda keyakinan.
Dusun kecil tersebut kini dikenal sebagai Kampung Pancasila, sebuah sebutan yang lahir dari keseharian warganya yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman agama.
Di kampung ini, sekitar 180 keluarga beragama Islam hidup berdampingan dengan 20 keluarga pemeluk Hindu dan tiga keluarga beragama Kristen. Perbedaan itu tidak menjadi batas dalam interaksi sosial sehari-hari.
“Keyakinan penduduk dalam satu kampung ini memang berbeda, tapi semua tetap hidup rukun dan guyub,” kata Kepala Desa Senduro Farid Rahman, saat dikutip dari Kim-senduro.kim.id Senin (21/5/2026).
Menurut Farid, nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam praktik kehidupan warga. Gotong royong menjadi salah satu perekat utama yang menjaga hubungan antarmasyarakat tetap harmonis.
Potret itu terlihat dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan. Dalam kegiatan Jumat Berkah misalnya, warga nonmuslim ikut terlibat membantu, termasuk memberikan sumbangan.
Sebaliknya, ketika umat Hindu menggelar kegiatan di Pura Mandagiri atau jemaat Kristen melaksanakan kegiatan di gereja, warga lain juga turut membantu dari tahap persiapan hingga pelaksanaan.
“Gotong royong dan toleransi di kampung ini tetap terjaga. Di sini umat Kristiani dan pemeluk agama Hindu turut membantu menyumbang. Begitu juga ada kegiatan di gereja ataupun di Pura Mandagiri, warga turut membantu,” jelasnya.
Di tengah kampung itu, masjid, gereja, dan pura berdiri tidak berjauhan. Kehadiran tiga rumah ibadah tersebut menjadi penanda visual dari kehidupan yang saling menghormati.
Tidak hanya pada momen keagamaan, interaksi warga juga terbangun dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari kerja bakti hingga kegiatan sosial desa. Kebersamaan itu membuat sekat-sekat identitas seolah melebur dalam kehidupan bertetangga.
Kepala Dusun Sumberejo Edi berharap, Kampung Pancasila dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam merawat toleransi.
“Harapannya masyarakat punya kesadaran penuh membangun kerukunan beragama, bergotong royong, hidup berdampingan, dan membangun semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam bertetangga,” kata Edi.
Tinggalkan Balasan