Hidup Rukun di Lereng Semeru, Kampung Pancasila Rawat Toleransi Sehari-hari - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 21 Mei 2026 13:29 WIB ·

Hidup Rukun di Lereng Semeru, Kampung Pancasila Rawat Toleransi Sehari-hari


 Hidup Rukun di Lereng Semeru, Kampung Pancasila Rawat Toleransi Sehari-hari Perbesar

Lumajang, – Udara sejuk lereng Gunung Semeru menyambut setiap langkah yang memasuki Dusun II Sumberejo, Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Di tengah lanskap pedesaan yang tenang itu, sebuah kehidupan sosial yang hangat tumbuh di antara warga yang berbeda keyakinan.

Dusun kecil tersebut kini dikenal sebagai Kampung Pancasila, sebuah sebutan yang lahir dari keseharian warganya yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman agama.

Di kampung ini, sekitar 180 keluarga beragama Islam hidup berdampingan dengan 20 keluarga pemeluk Hindu dan tiga keluarga beragama Kristen. Perbedaan itu tidak menjadi batas dalam interaksi sosial sehari-hari.

“Keyakinan penduduk dalam satu kampung ini memang berbeda, tapi semua tetap hidup rukun dan guyub,” kata Kepala Desa Senduro Farid Rahman, saat dikutip dari Kim-senduro.kim.id Senin (21/5/2026).

Menurut Farid, nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam praktik kehidupan warga. Gotong royong menjadi salah satu perekat utama yang menjaga hubungan antarmasyarakat tetap harmonis.

Potret itu terlihat dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan. Dalam kegiatan Jumat Berkah misalnya, warga nonmuslim ikut terlibat membantu, termasuk memberikan sumbangan.

Sebaliknya, ketika umat Hindu menggelar kegiatan di Pura Mandagiri atau jemaat Kristen melaksanakan kegiatan di gereja, warga lain juga turut membantu dari tahap persiapan hingga pelaksanaan.

“Gotong royong dan toleransi di kampung ini tetap terjaga. Di sini umat Kristiani dan pemeluk agama Hindu turut membantu menyumbang. Begitu juga ada kegiatan di gereja ataupun di Pura Mandagiri, warga turut membantu,” jelasnya.

Di tengah kampung itu, masjid, gereja, dan pura berdiri tidak berjauhan. Kehadiran tiga rumah ibadah tersebut menjadi penanda visual dari kehidupan yang saling menghormati.

Tidak hanya pada momen keagamaan, interaksi warga juga terbangun dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari kerja bakti hingga kegiatan sosial desa. Kebersamaan itu membuat sekat-sekat identitas seolah melebur dalam kehidupan bertetangga.

Kepala Dusun Sumberejo Edi berharap, Kampung Pancasila dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam merawat toleransi.

“Harapannya masyarakat punya kesadaran penuh membangun kerukunan beragama, bergotong royong, hidup berdampingan, dan membangun semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam bertetangga,” kata Edi.

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelemahan Rupiah Mulai Tekan Harga Kebutuhan Pokok di Lumajang

9 Juni 2026 - 15:22 WIB

Dampak Pelemahan Rupiah, Harga Ban Motor di Lumajang Kini Tembus Rp 325 Ribu

7 Juni 2026 - 10:38 WIB

Dari Surabaya ke Pegangsaan Timur: Jejak Panjang Bung Karno Menuju Proklamasi Kemerdekaan

6 Juni 2026 - 16:25 WIB

Beras Tetap Stabil Saat Rupiah Melemah, Cabai Justru Melonjak di Lumajang

5 Juni 2026 - 11:46 WIB

Doa Bersama di Wonorejo, PDI Perjuangan Lumajang Ajak Kader Teladani Semangat Perjuangan Bung Karno

3 Juni 2026 - 20:24 WIB

Pendaki Ilegal di Semeru Terjatuh, Evakuasi Terkendala Medan Terjal

3 Juni 2026 - 16:13 WIB

Trending di Nasional