Di 11 Desa Lereng Semeru, Tradisi Tengger Terus Dijaga dari Generasi ke Generasi - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 29 Mei 2026 11:40 WIB ·

Di 11 Desa Lereng Semeru, Tradisi Tengger Terus Dijaga dari Generasi ke Generasi


 Di 11 Desa Lereng Semeru, Tradisi Tengger Terus Dijaga dari Generasi ke Generasi Perbesar

Lumajang, – Udara dingin masih terasa di lereng Gunung Semeru ketika sejumlah tokoh masyarakat adat Tengger berjalan menuju Situs Selo Gending, Desa Kandangan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Senin (25/5/2026).

Di kawasan pegunungan yang kerap diselimuti kabut itu, masyarakat Tengger kembali berkumpul untuk membicarakan satu hal yang terus mereka jaga selama bertahun-tahun, warisan adat dan nilai kehidupan leluhur.

Bagi masyarakat Tengger, tradisi bukan hanya tentang upacara adat atau ritual tahunan. Tradisi hidup dalam cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam, membangun kebersamaan, hingga mempertahankan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang Agus Triyono mengatakan masyarakat hukum adat Tengger menjadi bagian penting dari identitas sosial dan budaya Kabupaten Lumajang.

“Masyarakat hukum adat Tengger bukan sekadar bagian dari penduduk daerah, melainkan pilar penting dan akar dari identitas budaya daerah kita yang sangat kaya,” kata dia, Jumat (29/5/2026).

Ia menjelaskan, masyarakat adat Tengger di Kabupaten Lumajang tersebar di Kecamatan Senduro dan Kecamatan Gucialit yang meliputi 11 desa.

Di desa-desa yang berada di lereng Semeru itu, masyarakat masih menjaga berbagai tradisi leluhur di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman yang terus berlangsung.

Menurut Agus, masyarakat adat Tengger menyimpan banyak nilai kehidupan yang hingga kini tetap relevan, seperti penghormatan terhadap alam, solidaritas sosial, dan tata kehidupan masyarakat berbasis kearifan lokal.

Di lereng Semeru, hubungan masyarakat Tengger dengan alam tidak sekadar hubungan geografis. Gunung, hutan, dan lingkungan sekitar menjadi bagian dari ruang hidup yang selama ini dijaga bersama melalui nilai adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang telah membentuk Panitia Masyarakat Hukum Adat yang bertugas melakukan identifikasi, verifikasi, dan validasi keberadaan masyarakat adat sebagai tahapan pengakuan masyarakat hukum adat.

“Langkah ini penting agar hak-hak adat dan eksistensi sosiologis masyarakat Tengger memperoleh pengakuan dan kepastian hukum yang sah,” katanya.

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jabatan Kosong Tak Perlu Menunggu, Bunda Indah Dorong Pengisian Bertahap

18 September 2026 - 08:50 WIB

Dapat Amanah Baru, Bunda Indah Minta ASN Lumajang Tak Berhenti Belajar

18 September 2026 - 08:48 WIB

Bukan Sekadar Studi Banding, Bunda Indah Dorong ASN Lumajang Berani Meniru Inovasi yang Lebih Baik

18 September 2026 - 08:46 WIB

Bukan Cuma Hiburan, Bunda Indah Ingin Ponsel Jadi Jendela Pengetahuan di Ruang Publik Lumajang

18 September 2026 - 08:44 WIB

Bunda Indah Soroti Potensi Kebocoran Pendapatan, Minta Pemkab Lumajang Perkuat Sistem Digital

18 September 2026 - 08:41 WIB

Bunda Indah Bekali Pejabat Lumajang: Hadapi Masalah Satu per Satu, Jangan Takut Cari Solusi

18 September 2026 - 08:39 WIB

Trending di Daerah