Belajar Menyeduh Masa Depan dari Robusta Senduro - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Pendidikan · 20 Jun 2026 09:31 WIB ·

Belajar Menyeduh Masa Depan dari Robusta Senduro


 Belajar Menyeduh Masa Depan dari Robusta Senduro Perbesar

Lumajang, – Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Semeru ketika aktivitas mulai berjalan di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Udara pegunungan yang sejuk berpadu dengan aroma kopi yang menguar dari sebuah kedai sederhana bernama Djodog Kaffe.

Di kawasan dataran tinggi yang dikenal sebagai salah satu sentra kopi di Lumajang itu, kopi bukan hanya tanaman yang tumbuh di kebun-kebun warga.

Lebih dari itu, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hamparan kebun kopi yang membentang di kaki Semeru menjadi saksi bagaimana komoditas tersebut menopang ekonomi banyak keluarga.

Namun, di tengah berkembangnya budaya ngopi dan menjamurnya kedai kopi di berbagai kota, masih banyak masyarakat yang hanya mengenal kopi sebagai minuman tanpa mengetahui proses panjang yang ada di baliknya.

Kesadaran itulah yang mendorong Djodog Kaffe menggelar kegiatan Edukasi Pengolahan Kopi Robusta Senduro.

Sebanyak 30 peserta dari komunitas Karang Werda Sehat Bahagia Tegal Besar, Jember, hadir untuk mengenal lebih dekat salah satu komoditas unggulan yang tumbuh di lereng Semeru tersebut.

Owner Djodog Kaffe, Riki, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang berbagi pengetahuan mengenai kopi lokal, mulai dari proses pengolahan hingga peluang usaha yang dapat dikembangkan dari sektor tersebut.

“Kegiatan ini berisi edukasi kopi, testimoni pembuatan kopi, pengenalan produk kopi Djodog Kaffe dan target pemasarannya. Kemudian dilanjutkan minum kopi bersama serta belanja produk kopi robusta Senduro,” kata Riki, Sabtu (20/6/2026).

Bagi sebagian peserta, kegiatan itu menjadi pengalaman baru. Mereka tidak hanya mencicipi kopi, tetapi memahami perjalanan panjang sebuah biji kopi sebelum akhirnya tersaji di dalam cangkir.

Mulai dari proses pemetikan buah kopi, pengeringan, pengolahan pascapanen, penyangraian, hingga teknik penyeduhan dijelaskan secara sederhana.

“Setiap tahapan diperkenalkan sebagai bagian penting yang menentukan kualitas rasa kopi,” jelasnya.

Di sela-sela kegiatan, peserta juga mendapatkan gambaran tentang perkembangan industri kopi yang kini tidak hanya bergantung pada hasil panen.

Pengolahan produk, strategi pemasaran, hingga penguatan merek lokal menjadi bagian yang semakin menentukan nilai ekonomi sebuah kopi.

Menurut Riki, tantangan terbesar produk kopi lokal saat ini bukan hanya menjaga kualitas, tetapi memperluas pasar.

“Karena itu, edukasi kepada masyarakat sangat penting agar semakin banyak orang memahami nilai tambah yang dimiliki kopi lokal,” urainya.

Suasana kegiatan berlangsung santai. Di tengah udara dingin khas Senduro, para peserta berdiskusi sambil menikmati secangkir robusta yang diseduh langsung oleh tim Djodog Kaffe.

Aroma kopi yang kuat berpadu dengan pemandangan pegunungan menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar menikmati kopi di perkotaan.

Menariknya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada edukasi pengolahan kopi.

Riki mulai memikirkan langkah yang lebih jauh, yakni menyiapkan ruang belajar bagi generasi muda yang akan memasuki dunia kerja.

“Ke depan, kami berencana mengadakan workshop gratis yang menyasar siswa kelas XII SMA, SMK, serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Lumajang,” ungkapnya.

Program tersebut dirancang untuk memperkenalkan berbagai peluang profesi yang berkembang di industri kopi.

“Tidak hanya sebagai petani, tetapi sebagai barista, pengelola kedai, pengolah produk kopi, hingga tenaga pemasaran yang memahami kebutuhan pasar modern,” jelasnya.

Menurut dia, industri kopi saat ini telah berkembang menjadi sektor ekonomi kreatif yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu, generasi muda perlu dikenalkan sejak dini pada berbagai peluang yang tersedia.

“Di tengah tantangan lapangan kerja yang semakin kompetitif, sektor kopi sangat memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan. Terlebih Lumajang memiliki modal alam yang kuat melalui keberadaan perkebunan kopi di kawasan Senduro dan sekitarnya,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua TP PKK Lumajang Dorong Pendidikan Adaptif Hadapi Generasi Alpha

15 Mei 2026 - 17:14 WIB

Seto Mulyadi Ingatkan Orang Tua Cerdas Digital untuk Cegah Kekerasan di Ruang Siber

15 Mei 2026 - 11:24 WIB

Seto Mulyadi: Mendidik Bukan Menghardik, Mengajar Bukan Menghajar

15 Mei 2026 - 11:03 WIB

Menganyam Harmoni di Lereng Semeru, Keberagaman Budaya dan Adat di Kecamatan Senduro

26 Maret 2026 - 11:37 WIB

Ramadan Jadi Momentum Lahirnya Asrama Tahassus 600 Santri di Lumajang, Bupati Sebut Kebanggaan Daerah

6 Maret 2026 - 19:00 WIB

Sungai Regoyo Meluap, 37 Siswa SD di Dusun Sumberlangsep Terpaksa Ujian dari Rumah

5 Maret 2026 - 18:24 WIB

Trending di Pendidikan