Lamadjang: Sejarah yang Memilih Menari daripada Dilupakan - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Nasional · 28 Jun 2026 18:07 WIB ·

Lamadjang: Sejarah yang Memilih Menari daripada Dilupakan


 Lamadjang: Sejarah yang Memilih Menari daripada Dilupakan Perbesar

Lumajang, – Warisan budaya lokal kembali dipentaskan dalam skala kolosal melalui Segoro Topeng Kaliwungu 2026 bertajuk Lamadjang The Land of Glory di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Minggu (28/6/2026).

Sebanyak 500 penari menghidupkan kisah kejayaan Kerajaan Lamadjang dalam sebuah sendratari yang memadukan sejarah, seni pertunjukan, dan identitas budaya pendalungan yang lahir dari pertemuan tradisi Jawa dan Madura.

Selama hampir dua jam, bibir Pantai Watu Pecak berubah menjadi panggung terbuka. Ratusan penari bergerak serempak membentuk fragmen-fragmen yang mengisahkan perjalanan Kerajaan Lamadjang, mulai dari masa kejayaan hingga nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada masyarakat.

Iringan musik tradisional, serta bentang laut selatan menjadi bagian dari dramatika pertunjukan yang dikemas dalam format drama kolosal.

Pagelaran tersebut merupakan bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata. Melalui agenda itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang berupaya memperkuat pelestarian budaya sekaligus memperkenalkan potensi pariwisata berbasis seni kepada masyarakat luas.

Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan sendratari tahun ini sengaja mengangkat kisah Kerajaan Lamadjang sebagai drama kolosal.

Menurut dia, kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat melalui Karisma Event Nusantara menjadi momentum untuk memperlihatkan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Lumajang.

“Jadi hari ini menyajikan kisah tentang Kerajaan Lamajang dan ini merupakan drama kolosal. Karisma Event Nusantara yang digelar memberikan kesempatan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia tentu dengan tujuan melestarikan seni dan budaya yang ada di Kabupaten Lumajang,” katanya.

Menurutnya, Segoro Topeng Kaliwungu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya yang telah memperoleh pengakuan nasional.

Pada 2021, Tari Topeng Kaliwungu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Status tersebut, kata Indah, menjadi komitmen bagi pemerintah daerah untuk terus melestarikan sekaligus mengembangkannya.

“Topeng Kaliwungu merupakan warisan budaya tak benda yang memang harus kami jaga kelestariannya serta akan kami kembangkan karena itu merupakan syarat dan komitmen yang disampaikan pemerintah pusat kepada kami sebagai penyandang KEN dan WBTB,” ujarnya.

Ia mengatakan pengembangan kesenian tersebut akan dilakukan melalui berbagai cara, termasuk mengenalkannya kepada peserta didik di sekolah-sekolah agar regenerasi pelaku seni tetap berlangsung.

Pimpinan Generasi III Paguyuban Sri Katon Budaya Tirto Hadi, yang juga cucu Mbah Nemo, mengatakan Tari Topeng Kaliwungu merupakan hasil perpaduan Tari Topeng Madura dan Tari Topeng Jawa. Perjumpaan dua tradisi itu melahirkan seni pendalungan yang hingga kini menjadi identitas budaya masyarakat Lumajang.

Menurut dia, nilai yang terkandung dalam Tari Topeng Kaliwungu bukan hanya terletak pada gerak tari, melainkan juga pada jejak sejarah akulturasi budaya yang berkembang di wilayah tapal kuda Jawa Timur.

Ia menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap pagelaran tahun ini cukup tinggi. Selain dihadiri penonton dari berbagai daerah di luar Kabupaten Lumajang, pertunjukan juga disaksikan wisatawan mancanegara yang datang melalui Bali.

“Pertunjukannya luar biasa. Dari luar Kabupaten Lumajang juga banyak yang hadir, kemudian turis-turis dari beberapa negara juga hadir melalui Bali,” kata dia.

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Merah Putih di Antara Tradisi dan Langit B29

17 Agustus 2026 - 19:10 WIB

Tangis Gibran Pecah di Hari Kemerdekaan, Lahir 17 Agustus dengan Berat 3,2 Kilogram

17 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Sedekah Desa Wonokerto Lumajang Hadirkan Jaran Kencak hingga Bantengan dan 5.000 Porsi Tape Ketan

16 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Pantau Aktivitas Semeru, BPBD Lumajang Andalkan CCTV hingga Sistem EWS Berbasis AI

14 Agustus 2026 - 10:14 WIB

DPRD Jatim Minta Kontribusi Kendaraan Listrik terhadap Jalan Tak Dipukul Rata

12 Agustus 2026 - 16:09 WIB

Tak Sekadar Buka Rekening, Bupati Lumajang Ingin Menabung Jadi Budaya Pelajar

11 Agustus 2026 - 15:48 WIB

Trending di Pendidikan