Jember, – Wacana pendirian SMK Taruna di Kabupaten Jember mulai memunculkan usulan mengenai arah pendidikan yang akan dikembangkan.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Jember Edi Cahyo Purnomo menilai sekolah tersebut semestinya tidak hanya menonjolkan pola pendidikan bercorak taruna, tetapi juga menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus memperkuat identitas lokal.
Menurutnya, tantangan pendidikan vokasi saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan lulusan dalam jumlah besar.
Persoalan yang masih dihadapi adalah bagaimana menyiapkan lulusan yang memiliki disiplin, mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, siap memasuki dunia kerja, serta memiliki kemampuan membangun usaha sendiri.
“Yang masih kurang adalah lulusan yang disiplin, adaptif, siap bekerja, sekaligus memiliki kemampuan menjadi pencipta lapangan kerja,” kata Edi, Rabu (8/7/2026).
Anggota Komisi C DPRD Jember itu menilai konsep taruna perlu diterjemahkan lebih luas daripada sekadar pembentukan kedisiplinan.
Kata dia, pendidikan vokasi harus memadukan pembentukan karakter, kepemimpinan, dan penguasaan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“SMK Taruna harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap membangun usaha sendiri,” jelasnya.
Ia mengusulkan agar kurikulum sekolah sejak awal disusun mengikuti perkembangan teknologi. Materi pembelajaran, menurut dia, dapat mencakup kecerdasan buatan (artificial intelligence), Internet of Things (IoT), robotika, keamanan siber, analisis data, hingga pemasaran digital.
Selain pembelajaran di kelas, Edi mendorong siswa terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Bentuknya antara lain membantu digitalisasi desa, mendampingi pelaku UMKM memanfaatkan teknologi, serta mengembangkan inovasi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar.
Edi juga mengingatkan pentingnya identitas lokal dalam pembangunan sekolah tersebut. Menurut dia, penggunaan nama yang merepresentasikan karakter Jember akan menjadi pembeda sekaligus memperkuat kedekatan masyarakat terhadap sekolah.
“Nama sekolah sebaiknya tidak generik. Identitas lokal harus menjadi kekuatan, misalnya SMK Taruna Pandalungan atau SMK Taruna Tangguh Jember,” katanya.
Tinggalkan Balasan