Lumajang, – Suara mesin Vespa mengawali perjalanan Scooterist Lumajang pada Minggu, 13 September 2026. Dari Pondok Pesantren An Anur Al Ely, Kecamatan Tempeh, rombongan bergerak menyusuri sejumlah ruas jalan di Lumajang.
Namun perjalanan itu tidak semata-mata tentang kendaraan, rute, atau hobi mengendarai Vespa. Ada ruang lain yang ingin dirawat: silaturahmi dan persaudaraan.
Riding Bareng Scooterist Lumajang bersama pengurus Pondok Pesantren An Anur Al Ely menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan.
Perjalanan tersebut diikuti Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma bersama Forkopimda Lumajang, Kapolres Lumajang, dan Dandim 0821/Lumajang.
Rombongan memulai perjalanan dari lingkungan pondok pesantren. Vespa kemudian melintasi Tempeh Kidul dan Pandanwangi sebelum memasuki jalur JLS.
Perjalanan tidak berlangsung terburu-buru. Rombongan sempat singgah di bawah jembatan JLS sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Dari kawasan tersebut, perjalanan berlanjut melewati Selok Awar-Awar dan Lempeni. Setelah menyusuri sejumlah wilayah itu, rombongan kemudian kembali menuju Pondok Pesantren An Anur Al Ely.
Di sepanjang perjalanan, Vespa menjadi medium yang mempertemukan orang-orang dalam satu kegiatan. Kendaraan yang selama ini lekat dengan komunitas dan hobi itu dalam kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas, yakni menjadi bagian dari ruang silaturahmi.
Sebab, riding bareng tidak berhenti ketika kendaraan berhenti. Sesampainya di lingkungan pesantren, kegiatan dilanjutkan dengan sholat bersama dan sholawatan.
Suasana pun berubah. Jika perjalanan sebelumnya diwarnai suara mesin Vespa dan deru kendaraan di jalan, kegiatan kemudian berlanjut dengan aktivitas keagamaan bersama.
Di titik inilah kegiatan tersebut tidak hanya berbicara tentang komunitas scooterist. Ada pertemuan antara hobi, perjalanan, pesantren, dan kebersamaan.
Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kata dia, kehadiran unsur Forkopimda, Kapolres Lumajang, dan Dandim 0821/Lumajang juga memperlihatkan bahwa kegiatan riding tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur dalam suasana yang lebih informal.
“Rute yang ditempuh pun menjadi bagian dari cerita. Dari Pondok Pesantren An Anur Al Ely, Tempeh Kidul, Pandanwangi, JLS, Selok Awar-Awar hingga Lempeni, perjalanan itu akhirnya kembali ke tempat semula,” katanya, Rabu (16/9/2026).
Tinggalkan Balasan