Dharma Shanti di Pura MGSA Senduro Lumajang: Harmoni Keberagaman dan Refleksi Moderasi Beragama - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 27 Apr 2025 18:08 WIB ·

Dharma Shanti di Pura MGSA Senduro Lumajang: Harmoni Keberagaman dan Refleksi Moderasi Beragama


 Dharma Shanti di Pura MGSA Senduro Lumajang: Harmoni Keberagaman dan Refleksi Moderasi Beragama Perbesar

Lensa Warta – Dalam suasana sakral di kaki Gunung Semeru, masyarakat Lumajang memperingati Hari Raya Nyepi sebagai simbol harmoni keberagaman dan moderasi beragama. Perayaan ini dipusatkan di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, pada Sabtu (26/4/2025).

Upacara diawali dengan Melasti, prosesi pembersihan diri dan alam semesta, serta dilanjutkan dengan Tawur Kesanga sebagai upaya harmonisasi hubungan manusia dan alam. Puncaknya, Dharma Shanti menjadi momen untuk saling memaafkan dan mempererat persaudaraan lintas umat beragama.

Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, yang hadir dalam acara seremonial Dharma Shanti, mengajak seluruh masyarakat untuk merefleksikan makna universal Nyepi. Ia menegaskan bahwa dalam keheningan, kekuatan persatuan dan solidaritas dapat tumbuh lebih kuat.

“Nyepi mengajarkan kita untuk mempererat ikatan sebagai sesama manusia, menjadikan Lumajang sebagai rumah bersama yang damai dan penuh toleransi,” ujar Mas Yudha.

Baca Juga : Melasti di Watu Pecak: Spiritualitas dan Harmoni Umat Hindu Tengger Lumajang

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lumajang, Achmad Faisol Syaifullah, juga menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai landasan harmoni sosial. Ia menyampaikan bahwa kehidupan masyarakat Lumajang yang penuh toleransi telah menjadi contoh nyata penerapan moderasi dalam keseharian.

Perayaan ini juga mendapat dukungan dari masyarakat lintas agama, termasuk para pemuda yang secara sukarela menjadi relawan dalam berbagai aspek pelaksanaan acara, mulai dari pengamanan hingga konsumsi. Partisipasi aktif ini memperlihatkan wajah indah kebhinekaan yang hidup di Lumajang.

Tokoh masyarakat Senduro, Suraji, mengungkapkan bahwa tradisi saling menghormati telah mengakar kuat dalam budaya setempat. Menurutnya, warisan nilai persaudaraan ini menjadi kekuatan utama yang menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

Melalui perayaan Nyepi, Lumajang menegaskan kembali posisinya sebagai prototipe kampung moderasi beragama, di mana perbedaan bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk mempererat persatuan nasional. (jhony kumato)

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Krisis LPG 3 Kg di Jember Usai Lebaran, Warga Kesulitan Memasak

6 April 2026 - 08:59 WIB

Ditinggal Tahlilan Ayah, Siti Maisaroh Ditemukan Meninggal di Dasar Sumur

4 April 2026 - 10:49 WIB

Libur Paskah, Alun-Alun dan Kayutangan Jadi Fokus Pengamanan Lalu Lintas di Malang

3 April 2026 - 18:05 WIB

Tak Semua Pegawai Libur, WFH Lumajang Hanya untuk Administrasi

3 April 2026 - 08:32 WIB

Tragedi Libur Lebaran di Muara Bondoyudo, Pelajar SMP Lumajang Masih Hilang di Hari Keempat

1 April 2026 - 16:23 WIB

Aman untuk Sekarang, Tapi Tidak Pasti, Ketergantungan Kebijakan Pusat pada Nasib P3K

31 Maret 2026 - 17:37 WIB

Trending di Daerah