Dharma Shanti di Pura MGSA Senduro Lumajang: Harmoni Keberagaman dan Refleksi Moderasi Beragama - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Daerah · 27 Apr 2025 18:08 WIB ·

Dharma Shanti di Pura MGSA Senduro Lumajang: Harmoni Keberagaman dan Refleksi Moderasi Beragama


 Dharma Shanti di Pura MGSA Senduro Lumajang: Harmoni Keberagaman dan Refleksi Moderasi Beragama Perbesar

Lensa Warta – Dalam suasana sakral di kaki Gunung Semeru, masyarakat Lumajang memperingati Hari Raya Nyepi sebagai simbol harmoni keberagaman dan moderasi beragama. Perayaan ini dipusatkan di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, pada Sabtu (26/4/2025).

Upacara diawali dengan Melasti, prosesi pembersihan diri dan alam semesta, serta dilanjutkan dengan Tawur Kesanga sebagai upaya harmonisasi hubungan manusia dan alam. Puncaknya, Dharma Shanti menjadi momen untuk saling memaafkan dan mempererat persaudaraan lintas umat beragama.

Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, yang hadir dalam acara seremonial Dharma Shanti, mengajak seluruh masyarakat untuk merefleksikan makna universal Nyepi. Ia menegaskan bahwa dalam keheningan, kekuatan persatuan dan solidaritas dapat tumbuh lebih kuat.

“Nyepi mengajarkan kita untuk mempererat ikatan sebagai sesama manusia, menjadikan Lumajang sebagai rumah bersama yang damai dan penuh toleransi,” ujar Mas Yudha.

Baca Juga : Melasti di Watu Pecak: Spiritualitas dan Harmoni Umat Hindu Tengger Lumajang

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lumajang, Achmad Faisol Syaifullah, juga menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai landasan harmoni sosial. Ia menyampaikan bahwa kehidupan masyarakat Lumajang yang penuh toleransi telah menjadi contoh nyata penerapan moderasi dalam keseharian.

Perayaan ini juga mendapat dukungan dari masyarakat lintas agama, termasuk para pemuda yang secara sukarela menjadi relawan dalam berbagai aspek pelaksanaan acara, mulai dari pengamanan hingga konsumsi. Partisipasi aktif ini memperlihatkan wajah indah kebhinekaan yang hidup di Lumajang.

Tokoh masyarakat Senduro, Suraji, mengungkapkan bahwa tradisi saling menghormati telah mengakar kuat dalam budaya setempat. Menurutnya, warisan nilai persaudaraan ini menjadi kekuatan utama yang menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

Melalui perayaan Nyepi, Lumajang menegaskan kembali posisinya sebagai prototipe kampung moderasi beragama, di mana perbedaan bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk mempererat persatuan nasional. (jhony kumato)

Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cabai Rawit Rp75 Ribu per Kilogram, Petani Dapat Harga Tinggi Konsumen Hadapi Beban

5 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Polsek Lumajang Kota Perkuat Layanan 110, Permudah Masyarakat Mendapatkan Bantuan Polisi

5 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Lahan Makin Kering, Hasil Pisang Lumajang Turun hingga 40 Persen

4 Oktober 2026 - 08:01 WIB

1.974 Pengajuan Santunan Kematian di Lumajang, Mengapa 286 Masih Diproses?

2 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Terakhir Terlihat di Sekitar Makam, Warga Yosowilangun Diduga Tenggelam di Sungai Bondoyudo

1 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Dari 864.599 Rekam Dinamis KTP, Baru 44.975 Warga Lumajang Gunakan IKD

30 September 2026 - 12:05 WIB

Trending di Daerah