Mengenal Weton Tulang Wangi: Misteri dan Makna di Balik Malam 1 Suro - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Nasional · 26 Jun 2025 18:27 WIB ·

Mengenal Weton Tulang Wangi: Misteri dan Makna di Balik Malam 1 Suro


 Mengenal Weton Tulang Wangi: Misteri dan Makna di Balik Malam 1 Suro Perbesar

Lensawarta.com – Setiap menjelang Malam 1 Suro, suasana mistis dan penuh makna dalam budaya Jawa kembali mengemuka.

Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah keberadaan weton tulang wengi, sebuah konsep yang kerap dikaitkan dengan malam pertama bulan Suro dalam kalender Jawa.

Tahun ini, Malam 1 Suro bertepatan dengan Kamis, 26 Juni 2025 setelah matahari terbenam, menandai awal Tahun Baru Jawa sekaligus 1 Muharram 1447 H dalam kalender Islam.

Weton tulang wangi merupakan istilah yang merujuk pada kelompok hari kelahiran tertentu dalam penanggalan Jawa yang dipercaya memiliki energi khusus dan sensitivitas tinggi, terutama saat memasuki Malam 1 Suro.

Kepala Pusat Unggulan Iptek Javanologi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sahid Teguh Widodo, menjelaskan bahwa konsep ini bukan sekadar kepercayaan biasa, melainkan bagian dari budaya kosmologi Jawa yang memandang manusia sebagai bagian dari semesta alam yang saling terhubung.

Menurut Sahid, weton tulang wangi merupakan manifestasi dari self-cultivation atau budidaya diri, di mana seseorang mempersiapkan diri secara spiritual dan mental untuk menyambut tahun baru dengan kesadaran yang lebih tinggi.

“Dalam tradisi Jawa, waktu-waktu tertentu seperti Sabtu Wage atau Sabtu Legi dianggap istimewa dan memiliki getaran energi yang berbeda,” ungkapnya, saat dikutip, Kamis (26/6/25).

Berikut adalah 11 weton tulang wangi yang sering disebut dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa:

• Senin Kliwon

• Senin Wage

• Senin Pahing

• Selasa Legi

• Rabu Kliwon

• Rabu Pahing

• Kamis Wage

• Sabtu Wage

• Sabtu Legi

• Minggu Pon

• Minggu Kliwon

Orang-orang yang lahir pada weton-weton ini dipercaya memiliki sensitivitas dan daya tarik khusus, termasuk kemampuan untuk merasakan hal-hal yang tidak kasat mata.

Menjelang Malam 1 Suro, banyak pemilik weton tulang wangi melaporkan mengalami gejala fisik dan psikologis yang unik, seperti:

• Rasa lemas dan pegal-pegal di tubuh

• Sulit tidur dan gelisah

• Sensasi panas di bagian belakang leher

• Mendengar suara-suara aneh atau bisikan halus

• Perasaan emosional yang tidak stabil

Fenomena ini pernah viral di media sosial X (Twitter) pada tahun lalu, di mana sebuah unggahan tentang pengalaman pemilik weton tulang wangi mendapat perhatian lebih dari satu juta pengguna.

Hal ini menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan dan rasa penasaran masyarakat terhadap fenomena ini.

Sementara, menurut budayawan dan dosen Ilmu Sejarah UNS Surakarta, Tundjung Wahadi Sutirto, menambahkan bahwa Malam 1 Suro dalam tradisi Jawa adalah malam yang penuh dengan energi magis dan mistis.

“Konon, pada malam ini, roh leluhur dan makhluk halus dipercaya kembali ke dunia manusia,” ungkapnya.

Karena kedekatannya dengan dunia gaib, pemilik weton tulang wangi dianggap lebih peka terhadap kehadiran roh-roh tersebut dan bisa merasakan energi negatif yang mungkin terbawa.

Oleh karena itu, mereka disarankan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Yang Maha Kuasa melalui doa, meditasi, atau ritual lain yang dapat menenangkan jiwa dan melindungi diri dari pengaruh negatif.

Fenomena weton tulang wangi bukan sekadar cerita mistis, melainkan juga cerminan dari filosofi hidup masyarakat Jawa yang mengedepankan harmoni antara manusia dan alam semesta. Kepercayaan ini mengajarkan pentingnya kesadaran diri, pengendalian emosi, dan keharmonisan spiritual dalam menghadapi perubahan waktu dan peristiwa penting seperti Tahun Baru Jawa.

Melalui pemahaman ini, masyarakat diharapkan dapat menjalani hidup dengan lebih bijak, menghormati tradisi leluhur, dan menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib.

Artikel ini telah dibaca 93 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemkab Lumajang Sambut Wacana Gaji PPPK Ditanggung Pusat, Berharap Rp100 Miliar Tetap Digelontorkan

24 Agustus 2026 - 13:42 WIB

Tanggul Curah Lengkong dan Dua Check Dam Supiturang Jadi Benteng Baru Hadapi Lahar Semeru

24 Agustus 2026 - 09:50 WIB

Merah Putih di Antara Tradisi dan Langit B29

17 Agustus 2026 - 19:10 WIB

Tangis Gibran Pecah di Hari Kemerdekaan, Lahir 17 Agustus dengan Berat 3,2 Kilogram

17 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Pantau Aktivitas Semeru, BPBD Lumajang Andalkan CCTV hingga Sistem EWS Berbasis AI

14 Agustus 2026 - 10:14 WIB

DPRD Jatim Minta Kontribusi Kendaraan Listrik terhadap Jalan Tak Dipukul Rata

12 Agustus 2026 - 16:09 WIB

Trending di Nasional