Lumajang, – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berlangsung dengan cara yang tidak sekadar menggelar upacara.
Merah Putih diarak dari rumah Romo Dukun menuju kawasan Puncak B29.
Di tempat yang menjadi salah satu tujuan wisata di kawasan Argosari itu, bendera kemudian dikibarkan dalam rangkaian peringatan kemerdekaan.
Wakil Ketua Karangtaruna Kabupaten Lumajang Joko Setiyo mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan masyarakat Desa Argosari.
Bagi warga, peringatan kemerdekaan menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat.
“Peringatan HUT ke-81 RI seluruh masyarakat Desa Argosari, dan bendera diarak dari rumah Romo Dukun, kemudian dikibarkan di Rest Area Puncak B29,” kata Joko, Senin (17/8/2026).
Setelah upacara di Puncak B29 selesai, rangkaian kegiatan tidak langsung berakhir. Masyarakat kembali bergerak menuju Kantor Desa Argosari.
Di balai desa, suasana perayaan kemerdekaan berlanjut dengan berbagai kegiatan yang melibatkan warga.
“Salah satunya pertunjukan seni tradisi jaranan. Kesenian tersebut menjadi bagian dari perayaan yang mempertemukan semangat kemerdekaan dengan tradisi masyarakat setempat,” katanya.
Warga juga membawa dan menyajikan berbagai makanan yang dikumpulkan di Balai Desa Argosari.
“Sajian tersebut menjadi bagian dari kebersamaan warga setelah mengikuti rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan,” jelasnya.
Bagi Joko, rangkaian perayaan kemerdekaan tidak selalu harus berlangsung dalam bentuk seremoni.
“Di Argosari, Merah Putih menjadi titik temu. Bendera diarak bersama, dikibarkan di kawasan Puncak B29, kemudian masyarakat kembali berkumpul di balai desa dengan membawa tradisi dan makanan yang mereka siapkan,” tuturnya.
Rangkaian tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana momentum HUT ke-81 RI dirayakan dari ruang publik hingga kehidupan masyarakat desa.
“Semangat kemerdekaan tidak hanya hadir ketika bendera dikibarkan. Ia tumbuh ketika warga berjalan bersama, berkumpul, menyaksikan kesenian, dan berbagi makanan,” ucapnya.
“Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga hubungan sosial sekaligus mengenalkan kebudayaan lokal kepada generasi berikutnya,” tambahnya.
Tinggalkan Balasan