Jolen Satu Suro, Simbol Sakralitas dan Keberkahan Bumi Senduro - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 27 Jun 2025 18:36 WIB ·

Jolen Satu Suro, Simbol Sakralitas dan Keberkahan Bumi Senduro


 Jolen Satu Suro, Simbol Sakralitas dan Keberkahan Bumi Senduro Perbesar

Lumajang, – Ritual tahunan Jolen di Desa Senduro, Kabupaten Lumajang, kembali digelar dengan penuh khidmat bertepatan dengan peringatan Satu Suro.

Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat atas berkah alam dan hasil bumi, serta komitmen dalam menjaga nilai-nilai sakral warisan leluhur.

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 43 Gunungan dipersembahkan oleh warga, terdiri dari Gunungan Ingkung, Gunungan Polo Pendem, dan beragam hasil pertanian serta makanan tradisional.

Gunungan-gunungan ini menjadi simbol dari filosofi amukti bumi Senduro, yaitu rasa syukur dan penghormatan terhadap tanah serta seluruh hasil yang dikandungnya, baik berupa pangan, ekonomi, maupun kesehatan masyarakat.

“Ini sudah menjadi acara rutin tiap tahun di Satu Suro. Dengan penamaan Jolen, definisinya adalah amukti bumi Sinduro. Jadi, ini wujud dari berkah tanah dan segala rezeki yang kita dapat dari bumi ini,” kata Kepala Desa Senduro, Farid Rohman H, Jumat (27/6/25).

Jauh sebelum puncak acara Jolen, masyarakat terlebih dahulu melakukan serangkaian ritual sritual, seperti anjangsana ke sesepuh desa, ziarah ke patilasan dan mata air, serta bedah kerawang desa.

Di lima dusun yang ada, digelar pula tradisi barian arau doa bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam sekitar.

“Persiapan ini kami lakukan selama satu bulan penuh, baik secara materi maupun non-materi. Semua warga dari RT, RW, hingga lembaga dan instansi di desa ikut serta,” jelasnya.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Jolen menjadi simbol eksitensi budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Sendoro.

Harapannya, ke depan Desa Sendoro bisa semakin diakui sebagai desa budaya dan desa kerukunan, yang tak hanya melestarikan adat istiadat, tetapi juga menjadi pondasi spiritual dan sosial bagi masyarakat Lumajang.

“Kami merasa punya tanggung jawab untuk menjaga budaya ini, tidak hanya untuk Sendoro, tetapi juga untuk Lumajang dan kawasan adat Tengger secara umum,” tambahnya.

Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jabatan Kosong Tak Perlu Menunggu, Bunda Indah Dorong Pengisian Bertahap

18 September 2026 - 08:50 WIB

Dapat Amanah Baru, Bunda Indah Minta ASN Lumajang Tak Berhenti Belajar

18 September 2026 - 08:48 WIB

Bukan Sekadar Studi Banding, Bunda Indah Dorong ASN Lumajang Berani Meniru Inovasi yang Lebih Baik

18 September 2026 - 08:46 WIB

Bukan Cuma Hiburan, Bunda Indah Ingin Ponsel Jadi Jendela Pengetahuan di Ruang Publik Lumajang

18 September 2026 - 08:44 WIB

Bunda Indah Soroti Potensi Kebocoran Pendapatan, Minta Pemkab Lumajang Perkuat Sistem Digital

18 September 2026 - 08:41 WIB

Bunda Indah Bekali Pejabat Lumajang: Hadapi Masalah Satu per Satu, Jangan Takut Cari Solusi

18 September 2026 - 08:39 WIB

Trending di Daerah