Jolen Satu Suro, Simbol Sakralitas dan Keberkahan Bumi Senduro - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Ratusan Pemain Mobile Legends dan Free Fire Bersaing dalam Kejurkab E-Sport Lumajang Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara

Daerah · 27 Jun 2025 18:36 WIB ·

Jolen Satu Suro, Simbol Sakralitas dan Keberkahan Bumi Senduro


 Jolen Satu Suro, Simbol Sakralitas dan Keberkahan Bumi Senduro Perbesar

Lumajang, – Ritual tahunan Jolen di Desa Senduro, Kabupaten Lumajang, kembali digelar dengan penuh khidmat bertepatan dengan peringatan Satu Suro.

Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat atas berkah alam dan hasil bumi, serta komitmen dalam menjaga nilai-nilai sakral warisan leluhur.

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 43 Gunungan dipersembahkan oleh warga, terdiri dari Gunungan Ingkung, Gunungan Polo Pendem, dan beragam hasil pertanian serta makanan tradisional.

Gunungan-gunungan ini menjadi simbol dari filosofi amukti bumi Senduro, yaitu rasa syukur dan penghormatan terhadap tanah serta seluruh hasil yang dikandungnya, baik berupa pangan, ekonomi, maupun kesehatan masyarakat.

“Ini sudah menjadi acara rutin tiap tahun di Satu Suro. Dengan penamaan Jolen, definisinya adalah amukti bumi Sinduro. Jadi, ini wujud dari berkah tanah dan segala rezeki yang kita dapat dari bumi ini,” kata Kepala Desa Senduro, Farid Rohman H, Jumat (27/6/25).

Jauh sebelum puncak acara Jolen, masyarakat terlebih dahulu melakukan serangkaian ritual sritual, seperti anjangsana ke sesepuh desa, ziarah ke patilasan dan mata air, serta bedah kerawang desa.

Di lima dusun yang ada, digelar pula tradisi barian arau doa bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam sekitar.

“Persiapan ini kami lakukan selama satu bulan penuh, baik secara materi maupun non-materi. Semua warga dari RT, RW, hingga lembaga dan instansi di desa ikut serta,” jelasnya.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Jolen menjadi simbol eksitensi budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Sendoro.

Harapannya, ke depan Desa Sendoro bisa semakin diakui sebagai desa budaya dan desa kerukunan, yang tak hanya melestarikan adat istiadat, tetapi juga menjadi pondasi spiritual dan sosial bagi masyarakat Lumajang.

“Kami merasa punya tanggung jawab untuk menjaga budaya ini, tidak hanya untuk Sendoro, tetapi juga untuk Lumajang dan kawasan adat Tengger secara umum,” tambahnya.

Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Sumberlangsep Kembali Terisolasi akibat Banjir Lahar Lahar Hujan Gunung Semeru

2 November 2026 - 12:30 WIB

Bunda Indah Dorong Pariwisata Lumajang Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Peluang Usaha Warga

31 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Lumajang Raih Wilwatikta Awards 2026, Bunda Indah Jadikan Penghargaan Motivasi Perkuat Ekonomi

31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Pronojiwo Kembangkan Agrowisata 3 Hektare, Wisatawan Tumpak Sewu Bakal Punya Pilihan Baru

31 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Cegah Stunting di Lumajang, Dinkes P2KB Perkuat Peran Posyandu dan Kolaborasi Desa

31 Oktober 2026 - 17:23 WIB

Bunda Indah Salurkan BLT DBHCHT 2026, Sebanyak 4.293 Warga Lumajang Terima Alokasi Rp600 Ribu

31 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Trending di Daerah