Anjangsana dan Bedah Kerawang: Pembuka Sakral Sebelum Ritual Jolen Sendoro - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 27 Jun 2025 18:52 WIB ·

Anjangsana dan Bedah Kerawang: Pembuka Sakral Sebelum Ritual Jolen Sendoro


 Anjangsana dan Bedah Kerawang: Pembuka Sakral Sebelum Ritual Jolen Sendoro Perbesar

Lumajang, – Sebelum puluhan gunungan dipersembahkan dalam puncak acara Jolen Satu Suro, warga Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, terlebih dahulu menjalani rangkaian ritual pembuka yang sarat makna spiritual.

Prosesi ini dimulai dengan anjangsana ke patilasan dan sesepuh desa, dilanjutkan dengan bedah kerawang dan doa berama dengan lima dusun di Desa Senduro.

Anjangsana ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan wujud penghormatan kepada leluhur dan penjaga spiritual desa.

Warga mendatangi mata air, patilasan dan tempat keramat lainnya yang dipercaya menjadi sumber kekuatan dan berkah bagi kehidupan masyarakat.

“Ini adalah bentuk permohonan izin dan restu kepada para leluhur agar acara Jolen berjalan lancar dan membawa berkah bagi semua,” kata Kepala Desa Senduro, Farid Rohman H, Jumat (27/6/25).

Ritual bedah kerawang desa menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini.

Dalam prosesi ini, warga bersama tokoh adat membuka simbol-simbol adat dan menggelar doa bersama untuk keselamatan, kemakmuran, serta ketentraman seluruh warga desa.

Setiap dusun menggelar barian atau yang lebih dikenal doa dan syukuran bersama yang dilakukan serentak menjelang puncak perayaan.

Lima dusun di Desa Sendoro, masing-masing memiliki cara dan tempat sakral tersendiri untuk menggelar barian.

Hal ini menunjukkan kekayaan lokal yang terpelihara, sekaligus keragaman dalam satu kesatuan adat.

Ritual-ritual ini dilakukan jauh hari sebelum penyajian 43 gunungan dalam Jolen.

Gunungan-gunungan tersebut merupakan hasil gotong royong masyarakat, berisi bahan makanan, hasil tani, serta simbol kehidupan sehari-hari yang kemudian didoakan dan dibagikan sebagai bentuk syukur atas berkah bumi Sinduro.

Tradisi ini sekaligus menjadi pembeda utama Jolen Sendoro dari perayaan budaya lainnya, bukan sekadar pesta adat, tetapi juga perjalanan spritual kolektif untuk menyatu dengan alam dan leluhur.

“Kalau tidak didahului ritual seperti ini, Jolen terasa hambar. Karena inti dari Jolen adalah penghormatan baik kepada leluhur, bumi, maupun sesama manusia,” jelasnya.

Dengan menjaga pakem dan makna setiap tahapan ritual, masyarakat Desa Senduro membuktikan bahwa tradisi tak hanya bisa dilestarikan, tapi juga dihayati dan dijalani sepenuh hati.

Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jabatan Kosong Tak Perlu Menunggu, Bunda Indah Dorong Pengisian Bertahap

18 September 2026 - 08:50 WIB

Dapat Amanah Baru, Bunda Indah Minta ASN Lumajang Tak Berhenti Belajar

18 September 2026 - 08:48 WIB

Bukan Sekadar Studi Banding, Bunda Indah Dorong ASN Lumajang Berani Meniru Inovasi yang Lebih Baik

18 September 2026 - 08:46 WIB

Bukan Cuma Hiburan, Bunda Indah Ingin Ponsel Jadi Jendela Pengetahuan di Ruang Publik Lumajang

18 September 2026 - 08:44 WIB

Bunda Indah Soroti Potensi Kebocoran Pendapatan, Minta Pemkab Lumajang Perkuat Sistem Digital

18 September 2026 - 08:41 WIB

Bunda Indah Bekali Pejabat Lumajang: Hadapi Masalah Satu per Satu, Jangan Takut Cari Solusi

18 September 2026 - 08:39 WIB

Trending di Daerah