Arah Angin dan Suhu Malam Perkuat Gaung Dentuman Semeru, PPGA: Fenomena Alamiah - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 27 Nov 2025 16:08 WIB ·

Arah Angin dan Suhu Malam Perkuat Gaung Dentuman Semeru, PPGA: Fenomena Alamiah


 Arah Angin dan Suhu Malam Perkuat Gaung Dentuman Semeru, PPGA: Fenomena Alamiah Perbesar

Lumajang, – Suara dentuman dari Gunung Semeru kian sering terdengar hingga radius 12 kilometer dalam beberapa hari terakhir.

Meski menimbulkan kekhawatiran warga di sejumlah wilayah, Pusat Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kondisi alamiah yang dipengaruhi faktor atmosfer, bukan pertanda akan terjadinya erupsi besar.

Petugas PPGA Semeru, Mukdas Sofian, menjelaskan bahwa dentuman yang terdengar layaknya suara petir itu diperkuat oleh kondisi atmosfer pada periode pagi hingga malam hari. Pada waktu-waktu tersebut, lapisan udara berada dalam kondisi stabil dengan suhu yang lebih rendah.

“Lapisan udara yang stabil memungkinkan gelombang suara dipantulkan kembali ke permukaan sehingga terdengar lebih keras di permukiman,” ujar Sofian, Kamis (27/11/2025).

Selain suhu dan stabilitas atmosfer, arah angin juga memiliki peran penting dalam memperkuat gaung dentuman. Dalam beberapa hari terakhir, angin dominan bergerak ke utara dan timur laut, sehingga wilayah-wilayah pada jalur tersebut lebih sering mendengar suara dentuman dari puncak kawah Semeru.

“Arah angin membuat suara terdistribusi lebih jelas ke wilayah utara dan timur laut,” kata Sofian.

Meningkatnya intensitas dentuman bukan sekadar efek atmosfer, tetapi memang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dangkal pada Gunung Semeru. Sofian menyebut pelepasan gas bertekanan tinggi menjadi penyebab utama terjadinya dentuman kuat.

Data seismik menunjukkan dominasi gempa letusan dengan amplitudo menengah dan durasi panjang. “Ini menandakan adanya akumulasi gas yang kemudian dilepaskan secara tiba-tiba,” jelasnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa intensitas suara yang meningkat tidak mencerminkan adanya peningkatan energi magmatik dari kedalaman.

Perubahan morfologi kawah pasca awan panas guguran pada 19 November 2025 turut memperkuat suara dentuman. Bagian tumpukan material erupsi dan lava yang sebelumnya menutupi area sekitar kawah kini hilang, membuat struktur kawah lebih terbuka.

“Dengan struktur yang lebih terbuka, energi akustik dari setiap letusan dangkal dapat merambat lebih bebas,” jelas Sofian.

Pada Kamis (27/11/2025) pukul 00.00–06.00 WIB, Gunung Semeru merekam 54 kali gempa letusan dan empat kali gempa guguran. Namun demikian, PPGA menegaskan bahwa seringnya dentuman tidak menunjukkan adanya potensi erupsi besar dalam waktu dekat.

“Fenomena ini lebih menggambarkan dinamika tekanan di dekat permukaan,” tegas Sofian.

Artikel ini telah dibaca 37 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lonjakan Wisman saat Lebaran, Lumajang Ungguli Surabaya dan Malang

24 April 2026 - 08:49 WIB

Kuota Pendakian Semeru Dibatasi 200 Orang per Hari, Wajib Booking Online

22 April 2026 - 18:00 WIB

Rp450 Ribu per Jam, Warga Lumajang Sewa Alat Berat dari Iuran Sendiri Untuk Perbaiki Tanggul Jebol

22 April 2026 - 12:55 WIB

Di Bawah Langit Semeru, Peternak Menjaga Alam, dan Alam Menjaga Susu Kambing Senduro

19 April 2026 - 14:42 WIB

Semeru Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 900 Meter

16 April 2026 - 15:10 WIB

Pasar yang Retak, Ketika Gula Rafinasi Mengalir Diam-Diam di Nadi Ekonomi Petani

15 April 2026 - 15:16 WIB

Trending di Nasional