Dari Laut ke Keheningan, Makna Sakral Melasti hingga Catur Brata Penyepian - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 18 Mar 2026 23:15 WIB ·

Dari Laut ke Keheningan, Makna Sakral Melasti hingga Catur Brata Penyepian


 Dari Laut ke Keheningan, Makna Sakral Melasti hingga Catur Brata Penyepian Perbesar

Lumajang, – Rangkaian Hari Raya Nyepi diawali dengan upacara Melasti, yakni prosesi sakral umat Hindu untuk menyucikan diri dan sarana upacara dengan membawa pratima ke laut yang diyakini sebagai sumber Tirta Amerta Kamandalu.

Melasti menjadi simbol awal perjalanan spiritual menuju Nyepi. Dalam keyakinan umat Hindu, laut bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber kehidupan dan kesucian. Air laut dipercaya memiliki kekuatan untuk membersihkan segala kotoran lahir dan batin, sehingga umat dapat memulai rangkaian Nyepi dalam keadaan suci.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, menjelaskan prosesi Melasti memiliki makna mendalam sebagai bentuk penyucian menyeluruh, baik terhadap diri manusia maupun sarana keagamaan.

“Melasti dimaknai sebagai penyucian diri dan seluruh alat-alat upacara. Kita bawa ke laut karena laut diyakini sebagai sumber kesucian, tempat Tirta Amerta Kamandalu,” ucap dia, Rabu (18/3/2026).

Setelah Melasti, rangkaian dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesange sebagai upaya penyucian alam semesta, serta pengerupukan yang ditandai dengan arak-arakan ogoh-ogoh pada malam hari. Tahapan ini menjadi jembatan menuju puncak Nyepi.

Memasuki Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Empat pantangan tersebut meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

“Dari riuhnya prosesi Melasti di laut hingga keheningan total saat Nyepi, rangkaian ini mencerminkan perjalanan spiritual umat Hindu dalam membersihkan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan mencapai keseimbangan hidup,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung

18 Maret 2026 - 23:04 WIB

Nyepi dan Ramadan Beriringan, Budiono Ajak Jaga Kerukunan

18 Maret 2026 - 22:41 WIB

Ogoh-Ogoh sebagai Simbol Negatif, Tradisi Pengerupukan Sarat Makna

18 Maret 2026 - 22:18 WIB

Masjid Jadi Oase Pemudik di Lumajang saat Arus Mudik Lebaran

18 Maret 2026 - 17:17 WIB

Tekan Dampak Kenaikan Harga, Bansos Pangan Disalurkan ke Ratusan Ribu KPM di Banyuwangi

18 Maret 2026 - 13:20 WIB

Ekonomi Lumajang Ditarget Tumbuh 5,35 Persen, Investasi Jadi Andalan Utama

18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Trending di Daerah