Dari Laut ke Keheningan, Makna Sakral Melasti hingga Catur Brata Penyepian - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 18 Mar 2026 23:15 WIB ·

Dari Laut ke Keheningan, Makna Sakral Melasti hingga Catur Brata Penyepian


 Dari Laut ke Keheningan, Makna Sakral Melasti hingga Catur Brata Penyepian Perbesar

Lumajang, – Rangkaian Hari Raya Nyepi diawali dengan upacara Melasti, yakni prosesi sakral umat Hindu untuk menyucikan diri dan sarana upacara dengan membawa pratima ke laut yang diyakini sebagai sumber Tirta Amerta Kamandalu.

Melasti menjadi simbol awal perjalanan spiritual menuju Nyepi. Dalam keyakinan umat Hindu, laut bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber kehidupan dan kesucian. Air laut dipercaya memiliki kekuatan untuk membersihkan segala kotoran lahir dan batin, sehingga umat dapat memulai rangkaian Nyepi dalam keadaan suci.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, menjelaskan prosesi Melasti memiliki makna mendalam sebagai bentuk penyucian menyeluruh, baik terhadap diri manusia maupun sarana keagamaan.

“Melasti dimaknai sebagai penyucian diri dan seluruh alat-alat upacara. Kita bawa ke laut karena laut diyakini sebagai sumber kesucian, tempat Tirta Amerta Kamandalu,” ucap dia, Rabu (18/3/2026).

Setelah Melasti, rangkaian dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesange sebagai upaya penyucian alam semesta, serta pengerupukan yang ditandai dengan arak-arakan ogoh-ogoh pada malam hari. Tahapan ini menjadi jembatan menuju puncak Nyepi.

Memasuki Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Empat pantangan tersebut meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

“Dari riuhnya prosesi Melasti di laut hingga keheningan total saat Nyepi, rangkaian ini mencerminkan perjalanan spiritual umat Hindu dalam membersihkan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan mencapai keseimbangan hidup,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BPBD Lumajang Susun Panduan Penanggulangan Bencana Hadapi Kekeringan Ekstrem

3 Mei 2026 - 09:38 WIB

Penangkapan ASN Kasus Sabu, DPRD Lumajang Apresiasi Respons Cepat Pemkab

2 Mei 2026 - 13:34 WIB

Cek Saja, Bupati Lumajang Akui Dugaan Penyimpangan Retribusi Pasar dan Buka Akses Pengawasan

1 Mei 2026 - 16:14 WIB

Ketua SEMMI Apresisasi Bupati dan Wakil Bupati Lumajang

30 April 2026 - 20:50 WIB

Jalur Evakuasi Candipuro-Penanggal Rusak, Pemkab Lumajang Minta Dukungan Pemerintah Pusat

29 April 2026 - 09:46 WIB

Pelecehan Anak di Lumajang, Polisi Kembangkan Kasus MZ

28 April 2026 - 15:21 WIB

Trending di Daerah