Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 18 Mar 2026 23:04 WIB ·

Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung


 Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung Perbesar

Lumajang, – Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Tawur Agung Kesango sebagai bagian penting dalam rangkaian penyucian diri dan alam semesta. Ritual ini dimaknai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia (Buana Alit) dan alam (Buana Agung).

Tawur Agung Kesango dilaksanakan melalui prosesi pecaruan, yakni persembahan yang ditujukan untuk menetralisir unsur-unsur negatif yang diyakini dapat mengganggu keharmonisan kehidupan. Upacara ini umumnya digelar di pura maupun di lingkungan tempat tinggal umat Hindu.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, menjelaskan konsep Buana Alit dan Buana Agung merupakan bagian penting dalam ajaran Hindu yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam semesta.

“Tawur Agung Kesango bermakna untuk menyucikan dan membersihkan baik Buana Alit maupun Buana Agung. Ini adalah bentuk keseimbangan agar kehidupan tetap harmonis,” kata dia, Rabu (18/3/2026).

Menurutnya, manusia sebagai bagian dari alam memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselarasan tersebut.

“Melalui upacara ini, umat Hindu diingatkan untuk tidak hanya membersihkan diri secara spiritual, tetapi juga menjaga lingkungan dan hubungan dengan alam,” tambahnya.

Pelaksanaan Tawur Agung Kesango menjadi momentum penting sebelum dilaksanakannya pengerupukan pada malam hari, yang ditandai dengan arak-arakan ogoh-ogoh.

“Jika Tawur Agung Kesango berfokus pada penyucian melalui ritual, maka pengerupukan menjadi simbol penetralisir energi negatif secara visual dan kultural,” kata dia.

Rangkaian ini kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian, di mana umat Hindu menjalani empat pantangan utama selama 24 jam sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi spiritual.

Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

388 Subdomain Pemkab Lumajang Jadi Fokus Penguatan Keamanan Siber

31 Juli 2026 - 10:19 WIB

Dari Gemuruh Tumpak Sewu ke Lembaran Batik, Cara Lumajang Merawat Identitas Daerah

31 Juli 2026 - 09:24 WIB

Kuota Beasiswa Lumajang Direncanakan Maksimal 100 Mahasiswa

30 Juli 2026 - 15:53 WIB

Pemkab Lumajang Tambah Dua Armada Angkutan Pelajar Gratis

30 Juli 2026 - 15:42 WIB

Yudha Adji: Penghargaan BKKBN Jadi Pemacu Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

29 Juli 2026 - 16:07 WIB

20 Ruas Jalan Kabupaten Masuk Program Perbaikan pada 2026

29 Juli 2026 - 11:50 WIB

Trending di Daerah