Lumajang, – Warisan itu tidak berupa tanah, rumah, atau harta benda bernilai tinggi. Yang diwariskan kepada Umi Jamilah adalah keterampilan mengolah kedelai menjadi tempe, sebuah usaha rumahan yang telah dijalani keluarganya selama tiga generasi.
Di rumah sederhananya di Desa Labruk Lor, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, perempuan itu meneruskan jejak yang dirintis sang nenek, kemudian dilanjutkan oleh ibunya dan ayahnya.
Kini, di tangannya, usaha tersebut tetap bertahan di tengah berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga persaingan pasar yang semakin ketat.
“Saya sudah generasi ketiga. Dari nenek, terus ibu, lalu ayah. Sekarang saya yang meneruskan,” katanya, Senin (15/6/2026) malam.
Bagi Umi, usaha tempe bukan sekadar pekerjaan. Aktivitas yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil itu menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus membuka peluang penghasilan bagi warga di sekitarnya.
Di sela kesibukan mengelola produksi, ia mengaku bersyukur karena usaha yang diwariskan keluarganya mampu bertahan hingga sekarang.
“Alhamdulillah bisa mengangkat ekonomi keluarga. Bisa mengajak teman-teman dan kelompok-kelompok untuk ikut bekerja,” urainya.
Setiap pagi, aktivitas di rumah produksi dimulai dengan mengolah kedelai yang telah direndam semalaman. Proses pembuatan tempe membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Mulai dari perebusan, pengupasan kulit kedelai, pencampuran ragi, hingga proses fermentasi yang menentukan kualitas produk.
Bagi sebagian orang, tempe mungkin hanya makanan sederhana yang mudah ditemukan di pasar. Namun bagi Umi dan keluarganya, setiap potong tempe menyimpan cerita panjang tentang ketekunan dan perjuangan mempertahankan usaha keluarga.
Perjalanan usaha yang dijalani Umi tidak selalu mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, ia harus menghadapi lonjakan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe.
Menurut dia, harga kedelai yang dulu berada di kisaran Rp 8.000 per kilogram kini telah mencapai sekitar Rp 13.000 per kilogram. Kenaikan itu membuat biaya produksi ikut melonjak.
“Harga kedelainya naik terus. Dulu sekitar Rp 8.000, sekarang sudah Rp 13.000 per kilogram,” katanya.
Kondisi tersebut memaksa para pengrajin melakukan penyesuaian harga jual. Jika sebelumnya satu bungkus tempe dijual sekitar Rp 5.000, kini harganya menjadi Rp 7.000.
Meski demikian, menaikkan harga bukan keputusan yang mudah. Umi harus mempertimbangkan daya beli masyarakat yang juga menghadapi tekanan ekonomi.
“Ya tetap dijual. Hanya harganya naik sedikit karena biaya produksinya juga naik,” ungkapnya.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, keuntungan yang diperoleh tidak serta-merta meningkat. Sebagian besar tambahan pendapatan justru digunakan untuk menutup biaya produksi yang terus bertambah.
Selain harga bahan baku, Umi menilai tantangan terbesar saat ini justru berada pada pemasaran produk.
Menurut dia, memproduksi tempe bukanlah persoalan utama. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga pasar agar tetap menyerap hasil produksi yang dibuat setiap hari.
“Yang susah sekarang itu pemasarannya,” terangnya.
Perubahan pola konsumsi masyarakat dan semakin banyaknya pilihan produk membuat para pelaku usaha kecil harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan pelanggan.
Meski begitu, Umi tetap berusaha menjaga kualitas produknya. Ia percaya kualitas yang baik menjadi modal utama agar pelanggan tetap bertahan.
Di beberapa wilayah, tempe produksinya masih memiliki pelanggan setia. Harga jual pun bervariasi sesuai ukuran dan lokasi pemasaran.
“Ada yang Rp 8.000, Rp 9.000, Rp 10.000 sampai Rp 13.000. Tergantung ukuran dan tempat pemasarannya,” ujarnya.
Di balik kesibukannya sebagai pengrajin tempe, Umi menyimpan harapan yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan usaha keluarga.
Ia ingin menghidupkan kembali kelompok-kelompok usaha perempuan yang sempat vakum. Menurutnya, kelompok tersebut dulu menjadi wadah bagi warga untuk memperoleh tambahan penghasilan.
“Saya ingin kelompok itu berkembang lagi. Dulu sempat vakum, sekarang ingin dimajukan lagi,” katanya.
Harapan itu tidak lepas dari pengalamannya selama bertahun-tahun mengelola usaha rumahan. Ia melihat usaha kecil dapat menjadi jalan bagi perempuan untuk membantu perekonomian keluarga tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya.
Lebih jauh lagi, Umi berharap generasi muda mulai tertarik untuk terlibat dalam usaha pengolahan pangan tradisional.
Baginya, usaha seperti pembuatan tempe tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
“Kalau anak-anak muda mau ikut, tentu akan lebih baik. Bisa menambah ekonomi dan usaha ini tetap ada penerusnya,” ujarnya.
Tinggalkan Balasan