Hari Lahir Pancasila, Wabup Lumajang: Selama Darah Indonesia Mengalir, Pancasila Akan Tetap Hidup - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 1 Jun 2026 13:14 WIB ·

Hari Lahir Pancasila, Wabup Lumajang: Selama Darah Indonesia Mengalir, Pancasila Akan Tetap Hidup


 Hari Lahir Pancasila, Wabup Lumajang: Selama Darah Indonesia Mengalir, Pancasila Akan Tetap Hidup Perbesar

Lumajang, – Selama 81 tahun setelah gagasan Pancasila pertama kali disampaikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih terus bergema dan menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semangat itu kembali dikumandangkan dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Alun-alun Lumajang, Senin (1/6/2026).

Upacara yang diikuti jajaran pemerintah daerah, TNI, Polri, pelajar, organisasi masyarakat, hingga berbagai elemen masyarakat tersebut menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna Pancasila di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.

Dalam amanatnya, Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, menegaskan Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah yang lahir menjelang kemerdekaan, melainkan ideologi yang terus hidup dan menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk.

“Salam Pancasila. Pemersatu bangsa, pondasi perdamaian. Pancasila juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi,” kata Yudha, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, bangsa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang luar biasa. Dari Sabang hingga Merauke, terdapat ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, tradisi, dan keyakinan yang berbeda.

Namun di tengah perbedaan tersebut, Indonesia mampu berdiri kokoh sebagai satu bangsa karena memiliki Pancasila sebagai dasar kehidupan bersama.

Ia mengingatkan bahwa para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi yang sangat kuat ketika merumuskan Pancasila.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya lahir dari kearifan budaya Nusantara, semangat gotong royong, penghormatan terhadap kemanusiaan, serta cita-cita mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Pancasila adalah titik temu seluruh perbedaan. Di dalamnya ada semangat persatuan, toleransi, penghormatan terhadap sesama manusia, dan keadilan. Nilai-nilai itulah yang membuat Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa besar hingga hari ini,” tegasnya.

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi pengingat bahwa tantangan bangsa tidak lagi sama seperti ketika para pendiri republik memperjuangkan kemerdekaan.

Jika dahulu perjuangan dilakukan melawan penjajahan fisik, maka generasi saat ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks, mulai dari arus informasi yang begitu cepat, polarisasi sosial, penyebaran hoaks, hingga berbagai pengaruh global yang berpotensi menggerus identitas kebangsaan.

Dalam konteks tersebut, Yudha menyanpaikan generasi muda memiliki peran penting sebagai penjaga masa depan bangsa. Ia mengajak kaum muda untuk tidak hanya menghafal Pancasila sebagai lima sila, tetapi mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan. Bahwa Pancasila adalah ideologi yang kuat. Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan,” katanya lantang.

Menurutnya, kemajuan teknologi dan modernisasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati diri. Justru di era digital, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pegangan agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan.

Ia mencontohkan, semangat gotong royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia harus tetap hidup meski masyarakat kini hidup dalam era yang serba digital.

Begitu pula sikap toleransi dan saling menghormati yang harus terus dijaga di tengah keberagaman pandangan maupun latar belakang sosial masyarakat.

“Pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki karakter, memiliki identitas, dan memiliki nilai yang dijaga bersama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yudha menegaskan Pancasila bukan hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga memiliki pesan universal bagi dunia. Di tengah berbagai konflik dan perpecahan yang masih terjadi di sejumlah belahan dunia, nilai kemanusiaan, persatuan, dan perdamaian yang terkandung dalam Pancasila mampu menjadi inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat warisan luhur para pendiri bangsa tersebut. Menurutnya, menjaga Pancasila berarti menjaga Indonesia, menjaga persatuan, serta menjaga cita-cita besar yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.

“Selama darah Indonesia mengalir di tubuh kita, Pancasila akan hidup bersama anak bangsa di republik yang kita cintai,” kata Yudha.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hari Pancasila, Menjaga Api yang Dinyalakan Soekarno di Tengah Keberagaman Bangsa

1 Juni 2026 - 11:07 WIB

Gunung Semeru Tertutup Kabut, PVMBG Catat 21 Kali Letusan dalam Enam Jam

28 Mei 2026 - 08:45 WIB

PDIP Sampang Gandeng MWC NU Tambelangan dalam Distribusi Daging Kurban

26 Mei 2026 - 14:33 WIB

Dari Pesantren hingga Panti Asuhan, PDIP Jatim Tebar 468 Sapi Kurban

25 Mei 2026 - 16:48 WIB

Ikatan Emosional Peternak dan Sapi Kurban Presiden: Saya Anggap Keluarga Sendiri

23 Mei 2026 - 13:56 WIB

Hidup Rukun di Lereng Semeru, Kampung Pancasila Rawat Toleransi Sehari-hari

21 Mei 2026 - 13:29 WIB

Trending di Nasional