Lumajang, – Ramadan 1447 Hijriah benar-benar menghadirkan berkah tersendiri bagi para pedagang kurma di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Tradisi sederhana membuka puasa dengan buah manis khas Timur Tengah itu mendadak berubah menjadi ledakan permintaan yang membuat sejumlah penjual kewalahan.
Jika pada hari biasa penjualan kurma hanya berkisar 20 kilogram per hari, memasuki awal Ramadan 2026 angkanya melonjak drastis hingga 300 kilogram per hari atau setara tiga kuintal. Lonjakan fantastis ini terjadi di Toko Haikal Lumajang, salah satu toko yang menyediakan aneka kurma impor di wilayah tersebut.
Dalam dua hari pertama Ramadan saja, penjualan meningkat hingga 15 kali lipat dibandingkan hari normal. Rak-rak yang biasanya penuh terisi stok, mendadak cepat kosong bahkan sebelum waktu berbuka tiba. Aktivitas di dalam toko pun tampak lebih sibuk dari biasanya. Timbangan tak pernah benar-benar berhenti, sementara pembeli datang silih berganti sejak pagi hingga sore.
“Kalau tidak bulan puasa biasanya 20 kilogram sehari, kecuali kalau ada orang pulang umroh. Ramadan ini sampai kewalahan karena sehari bisa 300 kilogram kurma,” kata Luluk Masulah, penjual kurma di toko tersebut, Jumat (21/2/2026).
Menurut Luluk, lonjakan ini sudah menjadi pola tahunan, tetapi Ramadan kali ini terasa lebih signifikan. Banyak pelanggan datang tidak hanya membeli satu atau dua kilogram, melainkan langsung memborong dalam jumlah besar.
Fenomena ini tak lepas dari tradisi masyarakat yang menjadikan kurma sebagai menu utama berbuka puasa. Selain mengikuti sunnah, kurma dianggap praktis, manis alami, dan mampu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Namun lebih dari itu, kurma juga menjadi simbol berbagi.
Sebagian besar pembelian dalam jumlah besar ditujukan untuk takjil di masjid-masjid. Warga membeli lima hingga sepuluh kilogram sekaligus untuk dibagikan kepada jemaah. Tradisi berbagi inilah yang mendorong lonjakan konsumsi secara kolektif.
Toko Haikal sendiri menyediakan beragam jenis kurma dari beberapa negara seperti Mesir, Tunisia, hingga Palestina. Harga yang ditawarkan pun variatif, mulai dari Rp30.000 per kilogram untuk jenis reguler hingga Rp240.000 per kilogram untuk kategori premium. Perbedaan harga dipengaruhi oleh kualitas, ukuran buah, tekstur, serta negara asal.
Dari berbagai pilihan yang tersedia, kurma Sukari menjadi primadona. Dengan rasa manis legit dan tekstur lembut, jenis ini paling banyak diburu pembeli. Pada hari pertama Ramadan saja, penjualannya tercatat lebih dari 50 kilogram. Kurma Sukari dibanderol Rp170.000 per tiga kilogram, harga yang dinilai sepadan dengan kualitasnya oleh para pelanggan.
Salah satu pembeli, Dana, mengaku membeli hingga 10 kilogram kurma. Selain untuk konsumsi pribadi, sebagian akan dibagikan ke masjid-masjid di sekitar rumahnya.
“Buat sendiri sama dibagikan ke masjid untuk takjilnya orang-orang,” katanya.
Tinggalkan Balasan