Lumajang, – Desa Kandangan, Kecamatan Senduro, menyimpan salah satu warisan budaya dan spiritual tertua di Lumajang, yakni Situs Selogending.
Situs ini tidak hanya terkenal karena artefak kuno seperti mangkok perunggu, bangunan berundak, menhir, dan pecahan porselen, tetapi juga karena hubungannya yang erat dengan sejarah kerajaan, legenda Gunung Semeru, dan praktik spiritual masyarakat lokal.
Jika dibandingkan dengan Pura Mandara Giri Semeru Agung, yang berada tidak jauh dari Desa Kandangan dan dibangun pada tahun 1970-an, Situs Selogending diyakini memiliki usia jauh lebih tua.
Hal ini menegaskan bahwa Desa Kandangan telah menjadi pusat spiritual sejak zaman pra-sejarah, bahkan sebelum banyak catatan sejarah tertulis.
Saat ini, situs ini menjadi tujuan ziarah penting, khususnya bagi umat Hindu dari Bali yang berkunjung ke Pura Mandara Giri Semeru Agung dan kemudian menyempatkan diri singgah di Selogending untuk memperkuat nilai spiritual mereka.
Kelima batu pusaka yang terdapat di situs ini, Selogending, Mbah Pukulun, Wadung Prabu, Linggasiwa, dan Mbah Tejo Kusumo, memiliki makna dan sejarah masing-masing.
Watu Selogending menandai makam Mbok Saminten binti Tompokerso, Watu Mbah Pukulun menunjukkan makam Kemadi, kepala desa pertama Desa Senduro, sementara Watu Tedjo Gedang menjadi makam Mbok Erun.
Watu Sri Sedono menandai makam Ratu Ayu Kuntho, dan Watu Wadung Prabu menunjukkan makam Pangeran Prabunegoro, atau Mas Ngabehi Wirio Hadi Kusumo.
Setiap ritual keagamaan di situs ini selalu diiringi pemberian sesaji, sebagai bentuk penghormatan dan kelestarian spiritual.
Keberadaan situs ini tidak bisa dilepaskan dari Gunung Semeru, yang sejak lama dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Gunung ini diyakini sebagai perwujudan Gunung Meru dari India, disebut sebagai Paku Bumi Pulau Jawa, dan menjadi simbol kekuatan spiritual yang melindungi anak cucu leluhur.
Dalam sejarah Lumajang, penguasa pertama yang tercatat adalah Nararya Kirana, yang diangkat sebagai penguasa Lumajang oleh Wisnuwardhana, Raja Singhasari, pada tahun 1255 Masehi.
Pentasbihan Nararya Kirana tercatat dalam Prasasti Mula Malurung dan kemudian dijadikan dasar peringatan Hari Jadi Lumajang.
Setelah Nararya Kirana, terjadi kekosongan catatan sejarah sampai pengangkatan Arya Wiraraja sebagai penguasa Lumajang Tigang Juru, imbalan atas jasanya membantu Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol.
Menariknya, di kawasan situs terdapat empat air terjun yang diyakini sebagai tempat pensucian raja dan permaisuri Mataram kuno sebelum melakukan ritual ke Gunung Semeru.
Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak zaman kerajaan, dan merupakan bagian dari proses spiritual untuk mempersiapkan fisik dan jiwa sebelum mendaki Gunung Semeru, puncak spiritual Pulau Jawa.
Satinto, warga Desa Kandangan, menuturkan, “Dulu pada zaman kerajaan, empat air terjun ini sebagai tempat pensucian atau ritual spiritual sebelum ke Gunung Semeru. Itu ceritanya yang saya dengar dari kakek buyut saya,” katanya, Senin (12/1/2026).
Tarjo, warga lainnya, menegaskan keberadaan situs Selogending dan air terjun memperkuat hubungan antara masyarakat lokal, dan tradisi Hindu yang kental di Lumajang.
“Empat air terjun ini sangat kental dengan Gunung Semeru. Di sini tempat pensucian para raja sebelum ke gunung Semeru. Itu cerita yang saya dapat dari orang-orang terdahulu,” ujarnya.
Untuk diketahui, Gunung Semeru sendiri tercatat dalam kitab Tantu Panggelaran abad ke-15, yang menjelaskan bagaimana Gunung Meru dipindahkan oleh para dewa dari India ke Pulau Jawa untuk menstabilkan pulau.
Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa yang menggendong Gunung Meru, sedangkan Brahma menjadi ular raksasa untuk menahan gunung di punggung Wisnu.
Gunung Meru dipotong dan diletakkan di ujung timur dan barat Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Gunung di bagian timur kemudian dikenal sebagai Gunung Mahameru atau Semeru, sedangkan yang di barat disebut Gunung Pawitra atau Penanggungan.
Hingga kini, masyarakat dan peziarah tetap memelihara tradisi ini, menjadikan Lumajang sebagai salah satu pusat sejarah dan spiritual terpenting di Pulau Jawa.
Dengan kombinasi antara artefak kuno, situs ziarah, legenda kosmologis Gunung Semeru, dan empat air terjun pensucian, Desa Kandangan menawarkan narasi sejarah yang lengkap, spiritual, dan mendalam, menghubungkan masa lalu kerajaan dengan praktik religius yang masih hidup hingga hari ini.
Tinggalkan Balasan