Situs Selogending dan Empat Air Terjun Pensucian, Jejak Spiritual Raja Mataram Kuno di Lumajang - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Cek Fakta · 12 Jan 2026 16:54 WIB ·

Situs Selogending dan Empat Air Terjun Pensucian, Jejak Spiritual Raja Mataram Kuno di Lumajang


 Situs Selogending dan Empat Air Terjun Pensucian, Jejak Spiritual Raja Mataram Kuno di Lumajang Perbesar

Lumajang, – Desa Kandangan, Kecamatan Senduro, menyimpan salah satu warisan budaya dan spiritual tertua di Lumajang, yakni Situs Selogending.

Situs ini tidak hanya terkenal karena artefak kuno seperti mangkok perunggu, bangunan berundak, menhir, dan pecahan porselen, tetapi juga karena hubungannya yang erat dengan sejarah kerajaan, legenda Gunung Semeru, dan praktik spiritual masyarakat lokal.

Jika dibandingkan dengan Pura Mandara Giri Semeru Agung, yang berada tidak jauh dari Desa Kandangan dan dibangun pada tahun 1970-an, Situs Selogending diyakini memiliki usia jauh lebih tua.

Hal ini menegaskan bahwa Desa Kandangan telah menjadi pusat spiritual sejak zaman pra-sejarah, bahkan sebelum banyak catatan sejarah tertulis.

Saat ini, situs ini menjadi tujuan ziarah penting, khususnya bagi umat Hindu dari Bali yang berkunjung ke Pura Mandara Giri Semeru Agung dan kemudian menyempatkan diri singgah di Selogending untuk memperkuat nilai spiritual mereka.

Kelima batu pusaka yang terdapat di situs ini, Selogending, Mbah Pukulun, Wadung Prabu, Linggasiwa, dan Mbah Tejo Kusumo, memiliki makna dan sejarah masing-masing.

Watu Selogending menandai makam Mbok Saminten binti Tompokerso, Watu Mbah Pukulun menunjukkan makam Kemadi, kepala desa pertama Desa Senduro, sementara Watu Tedjo Gedang menjadi makam Mbok Erun.

Watu Sri Sedono menandai makam Ratu Ayu Kuntho, dan Watu Wadung Prabu menunjukkan makam Pangeran Prabunegoro, atau Mas Ngabehi Wirio Hadi Kusumo.

Setiap ritual keagamaan di situs ini selalu diiringi pemberian sesaji, sebagai bentuk penghormatan dan kelestarian spiritual.

Keberadaan situs ini tidak bisa dilepaskan dari Gunung Semeru, yang sejak lama dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Gunung ini diyakini sebagai perwujudan Gunung Meru dari India, disebut sebagai Paku Bumi Pulau Jawa, dan menjadi simbol kekuatan spiritual yang melindungi anak cucu leluhur.

Dalam sejarah Lumajang, penguasa pertama yang tercatat adalah Nararya Kirana, yang diangkat sebagai penguasa Lumajang oleh Wisnuwardhana, Raja Singhasari, pada tahun 1255 Masehi.

Pentasbihan Nararya Kirana tercatat dalam Prasasti Mula Malurung dan kemudian dijadikan dasar peringatan Hari Jadi Lumajang.

Setelah Nararya Kirana, terjadi kekosongan catatan sejarah sampai pengangkatan Arya Wiraraja sebagai penguasa Lumajang Tigang Juru, imbalan atas jasanya membantu Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol.

Menariknya, di kawasan situs terdapat empat air terjun yang diyakini sebagai tempat pensucian raja dan permaisuri Mataram kuno sebelum melakukan ritual ke Gunung Semeru.

Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak zaman kerajaan, dan merupakan bagian dari proses spiritual untuk mempersiapkan fisik dan jiwa sebelum mendaki Gunung Semeru, puncak spiritual Pulau Jawa.

Satinto, warga Desa Kandangan, menuturkan, “Dulu pada zaman kerajaan, empat air terjun ini sebagai tempat pensucian atau ritual spiritual sebelum ke Gunung Semeru. Itu ceritanya yang saya dengar dari kakek buyut saya,” katanya, Senin (12/1/2026).

Tarjo, warga lainnya, menegaskan keberadaan situs Selogending dan air terjun memperkuat hubungan antara masyarakat lokal, dan tradisi Hindu yang kental di Lumajang.

“Empat air terjun ini sangat kental dengan Gunung Semeru. Di sini tempat pensucian para raja sebelum ke gunung Semeru. Itu cerita yang saya dapat dari orang-orang terdahulu,” ujarnya.

Untuk diketahui, Gunung Semeru sendiri tercatat dalam kitab Tantu Panggelaran abad ke-15, yang menjelaskan bagaimana Gunung Meru dipindahkan oleh para dewa dari India ke Pulau Jawa untuk menstabilkan pulau.

Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa yang menggendong Gunung Meru, sedangkan Brahma menjadi ular raksasa untuk menahan gunung di punggung Wisnu.

Gunung Meru dipotong dan diletakkan di ujung timur dan barat Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Gunung di bagian timur kemudian dikenal sebagai Gunung Mahameru atau Semeru, sedangkan yang di barat disebut Gunung Pawitra atau Penanggungan.

Hingga kini, masyarakat dan peziarah tetap memelihara tradisi ini, menjadikan Lumajang sebagai salah satu pusat sejarah dan spiritual terpenting di Pulau Jawa.

Dengan kombinasi antara artefak kuno, situs ziarah, legenda kosmologis Gunung Semeru, dan empat air terjun pensucian, Desa Kandangan menawarkan narasi sejarah yang lengkap, spiritual, dan mendalam, menghubungkan masa lalu kerajaan dengan praktik religius yang masih hidup hingga hari ini.

Artikel ini telah dibaca 54 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Murah Tak Berarti Nyata: Petani Kaliwungu Terpaksa Keliling Cari Pupuk

16 Januari 2026 - 10:08 WIB

Agus Setiawan Beri Penjelasan Mengenai Fokus Pemkab Lumajang dalam Pengadaan Motor Operasional untuk Desa

16 April 2025 - 16:22 WIB

Blunder Parah Belanja Pegawai, Thoriqul Haq Dinilai Tidak Memahami APBD

23 Oktober 2024 - 10:10 WIB

Kunci Sukses Diet ala Artis Korea, Hindari 4 Jenis Makanan Ini Bun!

28 April 2024 - 09:41 WIB

Rahasia Diet ala Artis Korea

Fakta Menarik tentang Gerhana Matahari Total pada 8 April 2024, Ledakan dari Pusat Tata Surya Memicu Badai Magnet di Bumi

8 April 2024 - 10:01 WIB

Gerhana Matahari Total, Senin 8 April 2024 sebabkan badai Magnetik di bumi.

Viral! Bumi Akan Gelap Selama 3 Hari Mulai 8 April 2024, Ini Penjelasan Astronom

28 Maret 2024 - 09:19 WIB

ilustrasi bumi gelap (canva)
Trending di Cek Fakta