SAR Lumajang Pantai Mbah Drajid pengamanan wisata yang Unik - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 29 Mar 2026 18:02 WIB ·

Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran


 Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran Perbesar

LUMAJANG – Di tengah lonjakan wisatawan saat Lebaran Ketupat, pengamanan di Pantai Mbah Drajid tidak hanya terlihat di daratan. Sebaliknya, sejumlah petugas justru berada di tengah ombak, berenang, siaga, dan setia menjaga setiap potensi risiko yang bisa datang tiba-tiba.

Langkah ini menjadi bagian dari penguatan pengamanan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lumajang, Sabtu (28/3/2026). Namun lebih dari itu, pendekatan yang diterapkan menghadirkan cara berbeda dalam menjaga keselamatan wisatawan.

SAR Tidak Hanya Menjaga, Tapi Masuk ke Laut

Jika di banyak daerah petugas cukup berjaga di bibir pantai, di Lumajang pendekatannya berbeda. Tim SAR BPBD bersama SAR lokal memilih masuk langsung ke laut, menggunakan pelampung dan perlengkapan keselamatan lengkap.

Mereka tidak sekadar mengawasi dari kejauhan. Sebaliknya, petugas berenang, menyisir area rawan, bahkan bertahan di tengah laut untuk memastikan wisatawan tetap dalam pengawasan.

“Kami tidak hanya berjaga di tepi pantai, tetapi juga aktif mengawasi dan menghalau pengunjung yang berenang ke area berbahaya,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono.

Risiko Dijemput, Bukan Ditunggu

Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Karakter ombak Pantai Mbah Drajid yang kuat menuntut respons cepat dan dekat dengan sumber risiko.

Oleh karena itu, petugas memilih berada langsung di titik rawan. Mereka mengapung di antara gelombang, mengamati setiap pergerakan wisatawan.

Ketika ada pengunjung berenang terlalu jauh, petugas segera mendekat, memberi isyarat, dan mengarahkan kembali ke zona aman.

Garis Pertahanan Pertama di Tengah Ombak

Di sisi lain, kehadiran petugas di laut menjadi garis pertahanan pertama jika terjadi situasi darurat. Jarak yang dekat memungkinkan respons lebih cepat—detik yang sering kali menentukan keselamatan.

Pendekatan ini menjadi strategi yang jarang ditemui, sekaligus menunjukkan bahwa pengamanan disesuaikan dengan karakter wilayah, bukan sekadar mengikuti pola umum.

Kolaborasi dengan Warga Jadi Kunci

Kunci keberhasilan strategi ini terletak pada kolaborasi. Tim SAR BPBD bekerja bersama SAR lokal, yakni warga yang telah lama memahami karakter laut setempat.

Salah satunya Seniman (60), anggota Destana (Desa Tangguh Bencana), yang sudah terbiasa membaca arah arus dan ombak.

“Kami sudah hafal pergerakan arus di sini. Kalau ada perubahan, biasanya langsung terasa,” ujarnya.

Dengan pengalaman tersebut, petugas dapat lebih cepat menentukan titik rawan dan mengambil keputusan di lapangan.

Teknologi dan Keselamatan Tetap Prioritas

Meski turun langsung ke laut, petugas tetap mengutamakan keselamatan. Mereka menggunakan perlengkapan lengkap seperti pelampung dan safety kit.

Selain itu, edukasi kepada wisatawan juga terus dilakukan. Petugas aktif mengingatkan agar pengunjung tidak berenang di zona berbahaya.

“Keselamatan menjadi prioritas. Kami terus mengingatkan pengunjung untuk mengikuti arahan petugas,” tegas Yudhi.

Wisata Aman Butuh Peran Bersama

Penguatan pengamanan ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan rasa aman bagi wisatawan. Namun demikian, peran pengunjung juga menjadi faktor penting.

Kepatuhan terhadap imbauan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan.

Lebih dari Sekadar Pengamanan

Pada akhirnya, apa yang dilakukan SAR Lumajang bukan sekadar tugas pengamanan. Ini adalah pendekatan adaptif yang berani dan dekat dengan risiko.

Mereka tidak hanya berdiri di garis aman, tetapi memilih hadir di titik paling rawan.

Di sanalah, di antara ombak yang tak pernah diam, mereka menjaga—bukan dari kejauhan, tetapi dari dalam.

Sebuah cara sederhana, namun penuh makna, untuk memastikan setiap kebahagiaan yang datang ke pantai tetap pulang dengan selamat.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragedi Libur Lebaran di Muara Bondoyudo, Pelajar SMP Lumajang Masih Hilang di Hari Keempat

1 April 2026 - 16:23 WIB

Aman untuk Sekarang, Tapi Tidak Pasti, Ketergantungan Kebijakan Pusat pada Nasib P3K

31 Maret 2026 - 17:37 WIB

Efisiensi Anggaran dan Batas 30 Persen, Alarm Dini bagi Struktur Kepegawaian Lumajang

31 Maret 2026 - 17:29 WIB

98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

30 Maret 2026 - 12:21 WIB

Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat

29 Maret 2026 - 18:11 WIB

Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

29 Maret 2026 - 18:07 WIB

Trending di Daerah