Tanggul Lama di Zaman Soeharto Kian Kritis, Pergeseran Alur Sungai Jadi Pemicu Utama - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Nasional · 30 Nov 2025 07:26 WIB ·

Tanggul Lama di Zaman Soeharto Kian Kritis, Pergeseran Alur Sungai Jadi Pemicu Utama


 Tanggul Lama di Zaman Soeharto Kian Kritis, Pergeseran Alur Sungai Jadi Pemicu Utama Perbesar

Lumajang, – Perubahan karakter dan arah aliran Sungai Besuk Kobokan sejak erupsi besar Gunung Semeru pada 2021 kini memicu ancaman baru.

Penumpukan material vulkanis yang terus terjadi selama empat tahun terakhir menyebabkan tanggul alami di hulu sungai tidak lagi mampu menahan tekanan aliran lahar, hingga akhirnya jebol sepanjang kurang lebih satu kilometer.

Sekretaris Daerah Lumajang, Agus Triyono, menyatakan bahwa kantong kawah Semeru sejak erupsi 2021 telah terisi lebih dari separuh oleh material baru.

Kondisi ini membuat volume dan tekanan aliran ke sungai meningkat drastis, terutama saat terjadi erupsi susulan.

“Sejak erupsi Semeru di tahun 2021, material vulkanis sudah banyak yang menumpuk. Bahkan memenuhi kantong kawah lebih dari separuh,” jelasnya, Minggu (30/11/2025).

Penumpukan material tersebut menyebabkan perubahan morfologi daerah hulu dan membuat aliran sungai cenderung bergerak ke arah selatan.

Pergeseran aliran ini otomatis meningkatkan tekanan pada sisi kiri sungai, tepat di lokasi tanggul alami dan tanggul eksisting era Presiden Soeharto.

Aliran yang bergeser itu menggerus bagian bawah tanggul eksisting, melemahkan strukturnya secara bertahap. Setelah erupsi pada Rabu (19/11/2025), aliran material vulkanis meluber dan melampaui tanggul eksisting yang sudah kritis, sehingga tekanan meningkat dan menjebol tanggul alami di atasnya.

Perubahan arah aliran sungai ini juga dipengaruhi oleh dinamika geologi Gunung Semeru. Penambahan volume material di puncak dan tubuh gunung dapat mengubah jalur aliran lahar, terutama saat terjadi hujan atau erupsi yang menghasilkan guguran baru. Ketidakstabilan morfologi inilah yang membuat tanggul alami tidak mampu lagi menjadi penghalang.

“Alur sungai sudah berubah sejak 2021. Bagian bawah tanggul eksisting tergerus, dan yang jebol akhirnya adalah tanggul alami yang posisinya berada di atas tanggul eksisting,” kata Agus.

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diskopindag Lumajang Gratiskan Layanan Rekomendasi BBM Bersubsidi untuk Usaha Mikro

5 Agustus 2026 - 14:26 WIB

Semeru Erupsi, Kolom Abu Capai 900 Meter di Atas Puncak

5 Agustus 2026 - 08:53 WIB

BPBD Lumajang Optimalkan Dua Pos Aju untuk Perkuat Peringatan Dini Gunung Semeru

3 Agustus 2026 - 09:49 WIB

MBG Lumajang Tersendat, 16 Sekolah dan Posyandu Gagal Terima Distribusi

30 Juli 2026 - 20:07 WIB

Keluhan MBG Ramai di Media Sosial, BGN Sebut Dana Belum Cair

30 Juli 2026 - 12:20 WIB

Penutupan Piodalan Pura Mandhara Giri Semeru Agung Perkuat Hubungan Lumajang dan Bali

10 Juli 2026 - 14:31 WIB

Trending di Nasional