Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 18 Mar 2026 23:04 WIB ·

Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung


 Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung Perbesar

Lumajang, – Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Tawur Agung Kesango sebagai bagian penting dalam rangkaian penyucian diri dan alam semesta. Ritual ini dimaknai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia (Buana Alit) dan alam (Buana Agung).

Tawur Agung Kesango dilaksanakan melalui prosesi pecaruan, yakni persembahan yang ditujukan untuk menetralisir unsur-unsur negatif yang diyakini dapat mengganggu keharmonisan kehidupan. Upacara ini umumnya digelar di pura maupun di lingkungan tempat tinggal umat Hindu.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, menjelaskan konsep Buana Alit dan Buana Agung merupakan bagian penting dalam ajaran Hindu yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam semesta.

“Tawur Agung Kesango bermakna untuk menyucikan dan membersihkan baik Buana Alit maupun Buana Agung. Ini adalah bentuk keseimbangan agar kehidupan tetap harmonis,” kata dia, Rabu (18/3/2026).

Menurutnya, manusia sebagai bagian dari alam memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselarasan tersebut.

“Melalui upacara ini, umat Hindu diingatkan untuk tidak hanya membersihkan diri secara spiritual, tetapi juga menjaga lingkungan dan hubungan dengan alam,” tambahnya.

Pelaksanaan Tawur Agung Kesango menjadi momentum penting sebelum dilaksanakannya pengerupukan pada malam hari, yang ditandai dengan arak-arakan ogoh-ogoh.

“Jika Tawur Agung Kesango berfokus pada penyucian melalui ritual, maka pengerupukan menjadi simbol penetralisir energi negatif secara visual dan kultural,” kata dia.

Rangkaian ini kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian, di mana umat Hindu menjalani empat pantangan utama selama 24 jam sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi spiritual.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Laut ke Keheningan, Makna Sakral Melasti hingga Catur Brata Penyepian

18 Maret 2026 - 23:15 WIB

Nyepi dan Ramadan Beriringan, Budiono Ajak Jaga Kerukunan

18 Maret 2026 - 22:41 WIB

Ogoh-Ogoh sebagai Simbol Negatif, Tradisi Pengerupukan Sarat Makna

18 Maret 2026 - 22:18 WIB

Masjid Jadi Oase Pemudik di Lumajang saat Arus Mudik Lebaran

18 Maret 2026 - 17:17 WIB

Tekan Dampak Kenaikan Harga, Bansos Pangan Disalurkan ke Ratusan Ribu KPM di Banyuwangi

18 Maret 2026 - 13:20 WIB

Ekonomi Lumajang Ditarget Tumbuh 5,35 Persen, Investasi Jadi Andalan Utama

18 Maret 2026 - 12:37 WIB

Trending di Daerah