Jember, – Kabupaten Jember mengalami ketertinggalan dalam capaian produksi pangan di Jawa Timur meski memiliki salah satu luas lahan pertanian terbesar. Penyebab utamanya adalah rusaknya infrastruktur pertanian yang membuat produktivitas lahan tidak optimal.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengungkapkan, berdasarkan data hasil peninjauan di lapangan, hampir 70 persen infrastruktur pertanian di wilayahnya berada dalam kondisi rusak. Kerusakan tersebut meliputi saluran irigasi, jalan usaha tani, hingga sarana pendukung pertanian lainnya.
“Kenapa Jember yang dulu pernah menjadi yang terbaik hari ini tercecer di urutan keempat dan kelima? Ternyata hampir 70 persen infrastruktur pertanian di Jember hari ini rusak,” ujar Fawait, Selasa (23/12/2025).
Ia menilai kondisi tersebut ironis, karena luas lahan pertanian Jember justru lebih besar dibanding sejumlah kabupaten lain di Jawa Timur yang mampu mencatatkan hasil panen lebih tinggi. Akibat infrastruktur yang tidak optimal, luas panen Jember tidak sebanding dengan potensi lahannya.
“Maka Jember dengan luas lahan pertanian yang salah satu terluas di Jawa Timur justru luas panennya kalah dengan beberapa kabupaten yang lahannya lebih sempit. Ini menjadi PR kita bersama,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Jember, lanjut Fawait, berkomitmen melakukan perbaikan sektor pertanian secara menyeluruh dan konkret. Komitmen tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto, dengan dukungan anggaran dan program pembangunan pertanian terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Jember.
“Program tahun 2025 ini bahkan menjadi yang terbesar dalam 40 tahun Kabupaten Jember,” katanya.
Pemkab Jember telah dan akan terus mengoptimalkan ribuan hektare lahan pertanian melalui pembangunan dan perbaikan infrastruktur, mulai dari irigasi, jalan usaha tani, hingga bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Namun demikian, Fawait mengakui keterbatasan pengawasan pemerintah terhadap penyaluran bantuan.
Karena itu, ia mengajak media dan masyarakat untuk ikut memantau penggunaan alsintan agar tidak disalahgunakan atau dipindahtangankan. Pengawasan bersama dinilai penting agar bantuan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.
Selain sektor pertanian, Pemkab Jember juga menaruh perhatian besar pada perbaikan jalan sebagai penunjang distribusi hasil panen. Berdasarkan hasil pengecekan, kebutuhan anggaran untuk perbaikan jalan di Jember mencapai Rp1,2 triliun.
“Kalau hanya mengandalkan APBD Jember, tidak mungkin selesai,” ungkapnya.
Untuk itu, Pemkab Jember berencana melakukan lobi intensif ke pemerintah pusat agar pembangunan jalan dan infrastruktur pertanian dapat dituntaskan dalam empat tahun ke depan.
“Kami targetkan dalam empat tahun tidak boleh lagi ada jalan rusak dan infrastruktur pertanian yang tidak optimal di Kabupaten Jember,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan