Lumajang, – Ancaman erupsi Gunung Semeru yang terjadi hampir setiap tahun mendorong Pemerintah Kabupaten Lumajang menyiapkan generasi tangguh bencana melalui penguatan pendidikan mitigasi kebencanaan sejak usia dini.
Program pendidikan mitigasi bencana direncanakan diperluas hingga ke sekolah-sekolah, terutama di wilayah rawan bencana.
Program tersebut disampaikan dalam acara audiensi Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Yayasan Megamind Project dan Yayasan Indonesia Indah Foundation (IIF) yang memperkenalkan program Benteng Mitigasi Bencana Indonesia. Kegiatan berlangsung di Ruang Kertanegara Kantor Bappeda Kabupaten Lumajang, Kamis (29/1/2026).
Audiensi dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Lumajang, Hari Susiati. Ia menyamoaikan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko dan dampak bencana erupsi Gunung Semeru.
“Karena Gunung Semeru hampir setiap tahun mengalami erupsi, dibutuhkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat bagi warga di wilayah yang kerap terdampak. Kesadaran ini perlu dibangun sejak dini,” katanya, Jumat (30/1/2026).
Menurut Hari Susiati, pendidikan mitigasi bencana di sekolah menjadi langkah strategis untuk menanamkan pemahaman yang benar tentang kebencanaan, sekaligus membangun budaya sadar bencana yang berkelanjutan di Kabupaten Lumajang.
“Selain pendidikan di sekolah, program Benteng Mitigasi Bencana Indonesia juga menghadirkan Museum Keliling yang akan menyasar desa-desa rawan bencana, khususnya di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo,” ucapnya.
Sementara itu, Founder Megamind Project, Yuri Romero Hurtado, menyampaikan bahwa Lumajang dipilih sebagai lokasi pilot project karena memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi akibat aktivitas Gunung Semeru.
“Program ini akan diperkuat dengan capacity building dan pelibatan pemuda Karang Taruna sebagai penggerak mitigasi di tingkat komunitas,” kata dia.
Tinggalkan Balasan