Politik Lingkungan sebagai Jalan Ideologis PDI Perjuangan di Lumajang - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Politik · 18 Mar 2026 18:04 WIB ·

Politik Lingkungan sebagai Jalan Ideologis PDI Perjuangan di Lumajang


 Politik Lingkungan sebagai Jalan Ideologis PDI Perjuangan di Lumajang Perbesar

Lumajang, – Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam yang masif, PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang menegaskan komitmennya terhadap politik lingkungan melalui gerakan Merawat Pertiwi.

Gerakan ini tidak hanya menjadi simbol kepedulian terhadap alam, tetapi bagian dari perjuangan ideologis partai yang berakar pada pemikiran Bung Karno.

Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang, Agus Setiawan, menyampaikan pernyataan panjang yang menggambarkan pandangan partainya terhadap pentingnya kelestarian lingkungan.

Hal itu ia sampaikan di acara buka bersama Anggota Dewan Fraksi PDI Perjuanga Ratih Damayanti di Kelurahan Ditotrunan, Kecamatan, Lumajang, Kabupaten Lumajang, Rabu (18/3/2026).

“Kami percaya bahwa politik lingkungan adalah politik moral yang harus dijalankan dengan kesungguhan ideologis. Kepedulian terhadap bumi tidak bisa hanya dijadikan pelengkap agenda pembangunan atau alat untuk menarik simpati pemilih, tetapi harus menjadi inti dari setiap kebijakan,” katanya.

Menurutnya, menanam pohon bukan sekadar menanam batang dan daun, tetapi menanam harapan bagi generasi mendatang, selain itu, merawat sungai bukan hanya membersihkan sampah, tetapi memastikan air tetap mengalir sebagai sumber kehidupan.

“kita menjaga hutan bukan sekadar untuk estetika atau penghijauan, tetapi untuk menegaskan bahwa bumi ini bukan milik segelintir orang atau korporasi serakah, melainkan milik bersama yang harus dilindungi dan diwariskan secara adil,” jelasnya.

Agus menegaskan gerakan Merawat Pertiwi menjadi simbol perlawanan terhadap praktik eksploitasi alam yang dilakukan oleh korporasi tanpa memperhatikan keseimbangan ekologi.

“Kedaulatan tanah air tidak cukup hanya dimaknai secara politik atau administratif, tetapi harus dipahami secara ekologis. Kekayaan alam yang ada di Lumajang, dari hutan hingga sungai dan sumber air adalah titipan yang harus dijaga, bukan untuk dieksploitasi tanpa batas,” tuturnya.

“Kita menolak segala bentuk kerusakan yang lahir dari keserakahan atau kepentingan sesaat. Alam punya batas, dan jika batas itu dilampaui, bukan hanya lingkungan yang rusak, tetapi masa depan anak cucu kita pun terancam,” tambahnya.

Lebih lanjut, Agus menekankan pentingnya konsistensi kader PDI Perjuangan dalam merawat bumi melalui tindakan nyata. “Setiap kader partai harus menjadi teladan, mulai dari menanam pohon di lingkungan sekitar hingga merawat kebersihan sungai,” tuturnta.

Tindakan kecil ini, kata dia, jika dilakukan bersama-sama dan berkelanjutan, akan menjadi fondasi dari gerakan besar yang mampu menjaga kelestarian alam. Politik moral ini harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan, bukan sekadar retorika.

“Kita menolak kerusakan yang disebabkan oleh korupsi dan eksploitasi, karena nilai-nilai Bung Karno menempatkan kepedulian terhadap lingkungan lebih tinggi daripada kepentingan pragmatis elektoral,” ucap dia.

Tidak hanya itu, Agus pentingnya perlindungan sumber daya alam, termasuk hutan, air, dan keanekaragaman hayati. “Air adalah sumber kehidupan. Jika kita mengurasnya tanpa kontrol, kita bukan hanya merusak alam, tetapi juga merusak masa depan masyarakat. Hutan, sungai, dan keanekaragaman hayati harus dijaga sebagai bagian dari hak dan tanggung jawab kita bersama. Ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi soal kelestarian hidup,” katanya.

Selain itu, peran masyarakat adat juga mendapat perhatian khusus dalam strategi pelestarian lingkungan. “Masyarakat adat telah terbukti menjaga keseimbangan alam selama berabad-abad. Mengabaikan peran mereka sama saja dengan melepas kendali atas sumber daya alam ke tangan yang salah. Memberdayakan mereka berarti melindungi bumi dengan cara yang paling alami dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ramadhan Jadi Momen Perekat, Ratih Damayanti Satukan Kader dan Pengurus Ranting

18 Maret 2026 - 17:38 WIB

107 Titik Oplah Tak Berfungsi Optimal, DPRD Jember Desak Kementan Tinjau Ulang Program

20 Februari 2026 - 14:02 WIB

Oplah di Jember Diduga Asal Jadi, DPRD Soroti Bangunan Tak Berfungsi dan Data Tertutup

19 Februari 2026 - 16:31 WIB

Ujian Konsistensi Politik Lingkungan di Jember, Komitmen atau Sekadar Simbolik?

19 Februari 2026 - 07:13 WIB

Konflik Bupati-Wabup Jadi Evaluasi Sistem Pilkada, Wamendagri Usul Kepala Daerah Tanpa Wakil?

14 Februari 2026 - 18:36 WIB

Gubernur Jatim Diminta Turun Tangan Mediasi Konflik Kepala Daerah di Jember

14 Februari 2026 - 18:30 WIB

Trending di Politik