Lumajang, – Di kaki Gunung Semeru, keberagaman budaya dan adat bukan sekadar realitas sosial, ia adalah denyut kehidupan yang mengalir dalam setiap aktivitas warga di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Di sini, tradisi bukan hanya menjadi identitas kultural, tetapi juga menjadi pengikat sosial yang menenun harmoni lintas komunitas.
Dari desa ke desa, dari dusun ke dusun, ragam budaya ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan agama, latar belakang etnis, maupun profesi bukan halangan untuk hidup berdampingan secara damai.
Salah satu tradisi yang paling mencolok dan dikenal luas adalah Tradisi Jolen, yang juga dikenal dengan istilah Amukti Bumi.
Tradisi ini digelar setiap tahun pada peringatan 1 Suro menurut penanggalan Jawa, sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil bumi.
Namun, Jolen lebih dari sekadar ritual panen. Ini adalah simbol persatuan, solidaritas, dan kerjasama antarwarga, yang melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang agama maupun status sosial.
Persiapan Tradisi Jolen bisa memakan waktu lebih dari sebulan. Warga secara bergotong-royong menyiapkan segala sesuatu, mulai dari ziarah ke petilasan para leluhur, melakukan sowan kepada sesepuh desa, hingga mengadakan doa bersama lintas dusun.
Puncak tradisi ini menampilkan arak-arakan 43 gunungan hasil bumi, termasuk gunungan Ingkung dan Polo Pendem, yang menjadi simbol kemakmuran, keberkahan, dan rasa syukur warga.
Gunungan-gunungan ini tidak hanya menampilkan hasil pertanian, tetapi juga ornamen khas lokal yang menunjukkan keterampilan seni dan kreativitas masyarakat Senduro.
Menariknya, Tradisi Jolen tidak dipandang sekadar ritual tahunan. Bagi warga, prosesi ini adalah momen penting untuk memupuk identitas budaya bersama, membangun jejaring sosial yang kuat, dan memperkuat toleransi antarwarga.
Muslim dan Hindu, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, bekerja sama secara harmonis dari menyiapkan gunungan hingga mengatur jalannya prosesi.
Warga bahkan menekankan bahwa kegiatan ini mengajarkan nilai-nilai gotong royong, saling menghormati, dan menjaga kelestarian budaya lokal.
Selain Jolen, Senduro menyimpan beragam tradisi lokal lain yang memperkuat pluralitas budaya. Setiap desa memiliki ritual unik yang mencerminkan sejarah, keyakinan, dan kearifan lokal.
Misalnya, beberapa desa masih melaksanakan upacara adat petik laut atau doa bumi, yang diikuti oleh semua lapisan masyarakat.
Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda, agar mereka tetap mengenal akar sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.
Kehidupan sehari-hari warga Senduro pun sarat dengan praktik kearifan lokal. Dari tata cara bercocok tanam, kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional, semua dijalankan dengan semangat kooperasi dan saling menghormati.
Di pasar desa atau saat kerja bakti, masyarakat menunjukkan harmoni sosial yang nyata, saling membantu tanpa membedakan latar belakang agama, usia, atau status ekonomi.
Keberhasilan Senduro dalam menjaga keberagaman budaya ini tidak lepas dari peran tokoh masyarakat dan pemuda lokal.
Mereka aktif mengedukasi generasi baru, mendokumentasikan tradisi, dan mengadakan pelatihan keterampilan agar budaya tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Pendekatan ini membuat tradisi seperti Jolen tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tetapi juga pilar identitas sosial yang menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap desa sendiri.
Di kaki Gunung Semeru, keberagaman budaya Senduro adalah contoh nyata bahwa pluralitas dan keharmonisan dapat berjalan beriringan.
Tradisi Jolen hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa perbedaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk dihargai, dijaga, dan dirayakan bersama-sama.
Dari desa ke desa, dari gunungan hasil bumi hingga senyum warga yang ikut menyiapkan ritual, Senduro menunjukkan kepada dunia bahwa harmoni lahir dari kesadaran kolektif untuk saling menghormati dan melestarikan budaya.
Tinggalkan Balasan