Literasi Digital Lumajang dalam Kehidupan Sehari-hari - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 18 Sep 2026 08:44 WIB ·

Bukan Cuma Hiburan, Bunda Indah Ingin Ponsel Jadi Jendela Pengetahuan di Ruang Publik Lumajang


 Bukan Cuma Hiburan, Bunda Indah Ingin Ponsel Jadi Jendela Pengetahuan di Ruang Publik Lumajang Perbesar

LUMAJANG – Ponsel selalu berada dekat dengan kehidupan masyarakat. Bupati Lumajang Indah Amperawati ingin perangkat tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membuka akses pengetahuan di tengah aktivitas sehari-hari warga.

Gagasan itu Bunda Indah sampaikan saat memberikan pengarahan dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, Pengawas, dan Fungsional di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lumajang, di Lobby Pemkab Lumajang, Rabu (16/9/2026).

Bunda Indah mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mengembangkan inovasi literasi digital yang dapat masyarakat akses dari berbagai ruang publik.

Salah satu gagasannya sederhana. Pemerintah dapat memasang barcode di lokasi yang banyak warga kunjungi. Masyarakat cukup memindai barcode menggunakan ponsel untuk membuka materi pengetahuan yang tersedia.

Barcode Bisa Jadi Pintu Masuk Pengetahuan

Bunda Indah membayangkan pemerintah tidak hanya mengembangkan literasi digital di perpustakaan. Pemerintah juga dapat menghadirkan akses pengetahuan di alun-alun, sekolah, masjid, musala, maupun ruang publik lainnya.

Dengan cara tersebut, masyarakat tidak perlu datang secara khusus ke perpustakaan hanya untuk mencari bahan bacaan atau informasi edukatif.

Masyarakat dapat membuka materi ketika mereka sedang berada di ruang publik yang memang sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Konsep tersebut juga membuat teknologi bekerja lebih dekat dengan kebutuhan warga. Ponsel yang hampir selalu masyarakat bawa dapat berubah fungsi dari sekadar alat hiburan menjadi pintu menuju informasi yang bermanfaat.

Jika pemerintah menempatkan barcode di lokasi yang strategis, warga hanya membutuhkan beberapa langkah sederhana untuk mengakses materi literasi.

Pendekatan ini juga dapat memperluas jangkauan perpustakaan. Pengetahuan tidak hanya menunggu masyarakat datang, tetapi pemerintah dapat membawa akses pengetahuan lebih dekat kepada mereka.

Dari Pengasuhan hingga Perpajakan, Materinya Bisa Beragam

Bunda Indah mendorong pemerintah mengisi platform tersebut dengan materi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Materi keagamaan dapat membantu warga memperluas wawasan. Pelajar dapat mengakses bahan pendukung pembelajaran. Orang tua dapat menemukan informasi tentang pola pengasuhan anak.

Masyarakat juga dapat memperoleh pengetahuan praktis mengenai perpajakan maupun berbagai topik lain yang mereka butuhkan.

Dengan variasi materi tersebut, pemerintah dapat menyesuaikan konten berdasarkan lokasi dan karakter masyarakat yang mengaksesnya.

Misalnya, sekolah dapat menampilkan materi pendukung pembelajaran. Ruang publik keluarga dapat menyediakan informasi pengasuhan. Sementara lokasi lain dapat menghadirkan pengetahuan keagamaan atau informasi publik yang relevan.

Bunda Indah juga mengingatkan masyarakat agar melihat ponsel sebagai jendela pengetahuan.

Ia ingin penggunaan teknologi tidak berhenti pada konten hiburan atau informasi yang sedang ramai. Masyarakat juga dapat memanfaatkan perangkat yang mereka miliki untuk belajar dan memperluas wawasan.

Literasi Digital Harus Dekat dengan Kehidupan Warga

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa literasi pada era digital tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan membaca buku secara konvensional.

Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan menemukan informasi, memilih pengetahuan yang relevan, dan menggunakan teknologi untuk belajar.

Karena itu, inovasi literasi digital perlu memperhatikan isi sekaligus kemudahan akses. Teknologi yang menarik tidak cukup jika materinya sulit dipahami atau tidak menjawab kebutuhan masyarakat.

Pemkab Lumajang dapat menjadikan ruang publik sebagai titik temu antara teknologi dan edukasi. Masyarakat dapat belajar tanpa harus mengubah rutinitas mereka secara khusus.

Ketika orang tua menunggu anak, pelajar berada di sekolah, atau warga menikmati ruang publik, mereka dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk membuka pengetahuan melalui ponsel.

Jika konsep ini berkembang, aktivitas literasi tidak lagi terikat pada tempat dan waktu tertentu.

Pada akhirnya, gagasan Bunda Indah membawa pesan sederhana: ponsel yang setiap hari berada di tangan masyarakat tidak harus hanya menunjukkan apa yang sedang ramai. Dengan akses yang tepat, ponsel juga bisa menjadi jendela untuk memahami lebih banyak hal.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jabatan Kosong Tak Perlu Menunggu, Bunda Indah Dorong Pengisian Bertahap

18 September 2026 - 08:50 WIB

Dapat Amanah Baru, Bunda Indah Minta ASN Lumajang Tak Berhenti Belajar

18 September 2026 - 08:48 WIB

Bukan Sekadar Studi Banding, Bunda Indah Dorong ASN Lumajang Berani Meniru Inovasi yang Lebih Baik

18 September 2026 - 08:46 WIB

Bunda Indah Soroti Potensi Kebocoran Pendapatan, Minta Pemkab Lumajang Perkuat Sistem Digital

18 September 2026 - 08:41 WIB

Bunda Indah Bekali Pejabat Lumajang: Hadapi Masalah Satu per Satu, Jangan Takut Cari Solusi

18 September 2026 - 08:39 WIB

Bunda Indah: Pejabat Lumajang Harus Jadi Garda Depan Lawan Korupsi dan Gratifikasi

18 September 2026 - 08:37 WIB

Trending di Daerah