DPRD Lumajang Dampingi Warga Terdampak, Ratih Damayanti Jadi Teman Curhat Nenek Martini di Posko Pengungsian - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 24 Nov 2025 07:26 WIB ·

DPRD Lumajang Dampingi Warga Terdampak, Ratih Damayanti Jadi Teman Curhat Nenek Martini di Posko Pengungsian


 DPRD Lumajang Dampingi Warga Terdampak, Ratih Damayanti Jadi Teman Curhat Nenek Martini di Posko Pengungsian Perbesar

Lumajang, – Di tengah duka yang melanda warga terdampak erupsi Gunung Semeru, anggota Komisi D DPRD Lumajang dari Fraksi PDI Perjuangan, Ratih Damayanti, hadir langsung ke posko pengungsian untuk memberikan dukungan moral. Salah satunya kepada Martini, nenek sebatang kara yang kehilangan seluruh rumahnya akibat bencana.

Kesedihan mendalam masih dirasakan para pengungsi erupsi Gunung Semeru di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Salah satunya dialami Martini, seorang nenek sebatang kara yang rumahnya hancur total akibat erupsi pada Kamis (19/11/2025).

Rumah sederhana yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduh kini tinggal puing. Dapur tempatnya memasak dan kamar kecil tempat ia beristirahat ikut ambruk. Meski kehilangan segalanya, Martini tetap terlihat tenang. Kendati tanpa air mata, duka yang ia pendam tak dapat disembunyikan.

“Iya, semuanya rusak,” ujarnya lirih saat berbincang dengan anggota Komisi D DPRD Lumajang dari Fraksi PDI Perjuangan, Ratih Damayanti, di posko pengungsian pada Minggu (23/11/2025).

Ratih mendengarkan setiap cerita Martini dengan penuh empati. Ia mencoba menghibur dan menjadi tempat mengadu bagi nenek yang kini harus memulai hidup dari nol di usia senjanya.

“Semua yang diceritakan oleh Ibu Martini benar-benar membuat kami bersedih. Meski rumahnya hancur, bagi saya beliau adalah panutan. Di usianya yang sudah tua, ia masih kuat dan mencoba untuk tetap bersabar,” ucap Ratih.

Martini sudah tiga hari berada di posko pengungsian. Di lokasi sementara itulah ia mencoba bertahan, meski pikirannya terus tertuju pada rumahnya yang telah rata dengan tanah.

Pada usia yang seharusnya menjadi masa tenang, ia justru harus menghadapi kenyataan pahit, hidup sebatang kara tanpa rumah dan tanpa kepastian kapan kehidupan bisa kembali seperti dulu.

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hidup Rukun di Lereng Semeru, Kampung Pancasila Rawat Toleransi Sehari-hari

21 Mei 2026 - 13:29 WIB

Hari Kebangkitan Nasional Bukan Sekadar Seremoni, Ini Pesan Wabup Lumajang

20 Mei 2026 - 20:26 WIB

Lonjakan Wisman saat Lebaran, Lumajang Ungguli Surabaya dan Malang

24 April 2026 - 08:49 WIB

Kuota Pendakian Semeru Dibatasi 200 Orang per Hari, Wajib Booking Online

22 April 2026 - 18:00 WIB

Rp450 Ribu per Jam, Warga Lumajang Sewa Alat Berat dari Iuran Sendiri Untuk Perbaiki Tanggul Jebol

22 April 2026 - 12:55 WIB

Di Bawah Langit Semeru, Peternak Menjaga Alam, dan Alam Menjaga Susu Kambing Senduro

19 April 2026 - 14:42 WIB

Trending di Nasional