Jejak Kemanusiaan di Tengah Abu Semeru - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 1 Des 2025 10:03 WIB ·

Jejak Kemanusiaan di Tengah Abu Semeru


 Jejak Kemanusiaan di Tengah Abu Semeru Perbesar

Lumajang, – Ketika erupsi Gunung Semeru menyisakan duka, kehilangan, dan ketidakpastian, suasana di sejumlah titik pengungsian dilingkupi rasa letih sekaligus harap.

Abu vulkanik masih menempel di sudut-sudut bangunan, bau tanah basah bercampur dengan aroma logistik yang baru dibuka, sementara wajah-wajah penyintas, anak-anak, perempuan, hingga lansia, masih terlihat pucat di balik masker.

Di tengah kondisi yang serba terbatas itu, secercah harapan muncul dari langkah-langkah kecil yang dilakukan seorang legislator daerah, Ratih Damayanti.

Sebagai anggota DPRD Lumajang dari Fraksi PDI Perjuangan, kehadiran Ratih seharusnya menjadi pemandangan biasa dalam agenda penyaluran bantuan bencana.

Namun ada yang berbeda dari dirinya pada hari itu. Ratih tidak berdiri di depan kamera, tidak menunggu laporan staf, dan tidak sekadar menonton tumpukan bantuan dipindahkan ke tempat logistik.

Justru ia terlihat membaur dengan para relawan, menanggalkan batas-batas formalitas yang biasanya melekat pada seorang pejabat publik.

Dengan memakia kerudung merah yang tersapu debu dan pakaian yang mulai kusam oleh keringat, Ratih bergerak dari satu titik ke titik lain. Ia merunduk untuk mengikat kardus bantuan, memastikan setiap tali tidak mudah lepas.

Tangannya cekatan menghitung dan menata mie instan, seolah khawatir ada satu bungkus pun yang tertinggal. Ia mengangkat beras lima kilogram menggunakan kedua tangannya, berhenti sebentar untuk memastikan siapa yang paling membutuhkan.

Bahkan selimut, benda sederhana yang dapat menghangatkan malam-malam pengungsi, ia periksa satu per satu, memastikan semuanya layak digunakan dan bersih.

Dalam momen-momen itulah tampak jelas, Ratih bukan hanya hadir sebagai seorang pejabat. Ia hadir sebagai manusia yang memahami bahwa bencana tidak hanya meluluhlantakkan rumah dan harta benda, tetapi juga menghancurkan rasa aman dan kenyamanan jiwa.

Gestur-gestur kecil, yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, justru menjadi penegasan bahwa kemanusiaan bukanlah soal besarnya bantuan, melainkan kesungguhan hati dalam membantu.

Di antara abu pekat dan langit yang mendung, langkah Ratih menjadi gambaran kehangatan masih hidup di tengah kegetiran. Bahwa dalam suasana kacau, masih ada sosok yang mampu menurunkan egonya, merapatkan barisan dengan warga, dan hadir sepenuh hati tanpa sekat.

Ia memberikan pesan bahwa gotong royong tetap menjadi napas masyarakat Lumajang, bahkan ketika bencana berusaha merenggut segalanya.

Jejak kemanusiaan itu mungkin tidak tercatat dalam laporan resmi atau dokumentasi panjang. Namun bagi para penyintas yang melihatnya langsung, bagi mereka yang menerima selimut dari tangannya, atau bantuan yang ditatanya sendiri, Ratih meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berarti, harapan.

Sebuah harapan bahwa meski Semeru mengguncang tanah dan kehidupan, tidak semua hal runtuh. Masih ada nilai yang tetap berdiri tegak, kemanusiaan.

“Saya bukan siapa-siapa, ketika saya sudah dilapangan, sayapun sama dengan mereka, sama rakyat, dan bukan pejabat. Bagi saya, semua itu sama, dan tidak ada yang berbeda,” jelasnya, Minggu (30/11/2025).

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hidup Rukun di Lereng Semeru, Kampung Pancasila Rawat Toleransi Sehari-hari

21 Mei 2026 - 13:29 WIB

Hari Kebangkitan Nasional Bukan Sekadar Seremoni, Ini Pesan Wabup Lumajang

20 Mei 2026 - 20:26 WIB

Lonjakan Wisman saat Lebaran, Lumajang Ungguli Surabaya dan Malang

24 April 2026 - 08:49 WIB

Kuota Pendakian Semeru Dibatasi 200 Orang per Hari, Wajib Booking Online

22 April 2026 - 18:00 WIB

Rp450 Ribu per Jam, Warga Lumajang Sewa Alat Berat dari Iuran Sendiri Untuk Perbaiki Tanggul Jebol

22 April 2026 - 12:55 WIB

Di Bawah Langit Semeru, Peternak Menjaga Alam, dan Alam Menjaga Susu Kambing Senduro

19 April 2026 - 14:42 WIB

Trending di Nasional