LUMAJANG – Datang ke Festival Literasi Kabupaten Lumajang bukan sekadar memenuhi undangan bagi Suhariyanto, pengelola Perpustakaan Desa Burno. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar, bertukar pengalaman, dan mencari ide baru untuk menghidupkan budaya baca di desanya.
Suhariyanto menjadi salah satu pengelola perpustakaan desa yang menghadiri Festival Literasi Kabupaten Lumajang. Ia ingin membawa pulang pengetahuan dan pengalaman dari kegiatan tersebut untuk mengembangkan aktivitas literasi di Desa Burno.
“Undangan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar dan menambah wawasan. Apa yang kami dapat dari kegiatan ini nantinya bisa menjadi bahan untuk mengembangkan kegiatan literasi di Desa Burno,” ujar Suhariyanto.
Baginya, perpustakaan desa memiliki peluang besar untuk menjadi ruang belajar yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelola perlu terus mencari cara agar warga tertarik datang, membaca, belajar, dan mengikuti berbagai aktivitas literasi.
Festival Literasi Jadi Ruang Belajar bagi Pengelola Desa
Suhariyanto menilai kegiatan literasi tingkat kabupaten dapat memberikan perspektif baru bagi pengelola perpustakaan desa.
Melalui festival tersebut, ia dapat melihat berbagai gagasan dan aktivitas yang berkaitan dengan pengembangan literasi. Pengalaman itu kemudian dapat menjadi referensi untuk menyusun kegiatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat Burno.
Menurutnya, perpustakaan tidak cukup hanya menyediakan rak dan koleksi buku. Pengelola juga perlu menciptakan kegiatan yang membuat masyarakat merasa dekat dengan perpustakaan.
Aktivitas membaca, belajar, diskusi, maupun kegiatan literasi lainnya dapat menjadi pilihan untuk menarik lebih banyak warga.
Pengelola perpustakaan juga dapat menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan memiliki peluang untuk berkembang sebagai ruang publik yang memberikan manfaat lebih luas.
Pengalaman Festival Dibawa Pulang ke Desa Burno
Keikutsertaan Suhariyanto juga membuka kesempatan untuk bertemu dengan pengelola perpustakaan dan pegiat literasi lainnya.
Pertemuan tersebut dapat menjadi ruang bertukar pengalaman. Setiap pengelola tentu memiliki cara berbeda dalam mengajak masyarakat memanfaatkan perpustakaan.
Dari interaksi itu, Suhariyanto dapat melihat berbagai kemungkinan pengembangan kegiatan yang kemudian bisa ia sesuaikan dengan kondisi Desa Burno.
“Harapannya, ada hal-hal baik yang bisa kami bawa pulang dan disesuaikan dengan kondisi di desa, sehingga perpustakaan bisa semakin bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia memahami bahwa tidak semua konsep dari festival dapat langsung diterapkan di desa. Karena itu, pengelola akan memilih gagasan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat Burno.
Langkah tersebut membuat kehadiran di Festival Literasi memiliki manfaat yang lebih panjang. Pengetahuan tidak berhenti di ruang kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi gagasan baru ketika pengelola membawanya kembali ke desa.
Perpustakaan Burno Didorong Jadi Ruang Belajar Warga
Pengalaman Suhariyanto di Festival Literasi menjadi bekal untuk memperkuat peran Perpustakaan Desa Burno.
Masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan bukan hanya untuk mencari buku, tetapi juga sebagai ruang belajar dan mengembangkan pengetahuan.
Pengelola dapat menghadirkan aktivitas yang lebih dekat dengan kebutuhan warga. Anak-anak bisa mendapatkan ruang membaca, pelajar memiliki tempat untuk belajar, sementara masyarakat umum dapat mengikuti kegiatan literasi sesuai minat mereka.
Jika pengelola terus mengembangkan aktivitas secara bertahap, perpustakaan dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa.
Pada akhirnya, undangan Festival Literasi membawa makna lebih dari sekadar kehadiran. Suhariyanto pulang membawa pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat menjadi bekal untuk membuat Perpustakaan Desa Burno semakin hidup dan dekat dengan masyarakat.
Tinggalkan Balasan