Dari Sampah ke Produk Premium, Pelepah Pisang Lumajang Jadi Kertas Seharga Rp5 Ribu - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Bisnis · 20 Agu 2025 15:05 WIB ·

Dari Sampah ke Produk Premium, Pelepah Pisang Lumajang Jadi Kertas Seharga Rp5 Ribu


 Dari Sampah ke Produk Premium, Pelepah Pisang Lumajang Jadi Kertas Seharga Rp5 Ribu Perbesar

Lumajang, – Siapa sangka, pelepah pisang yang biasa dianggap sampah kini menjelma menjadi produk bernilai tinggi di tangan warga Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Berkat kreativitas warga dan dukungan pemerintah daerah, limbah pertanian itu kini berubah menjadi kertas ramah lingkungan seharga Rp5.000 per lembar.

Tak hanya itu, produk unik ini sudah menembus pasar Jakarta, di mana kertas-kertas buatan Lumajang diolah menjadi tas belanja ramah lingkungan dan wadah tisu elegan yang biasa dijual di mal atau toko premium.

Baca juga: Tak Perlu Khawatir! Meteran Air Hilang di Lumajang Kini Diganti Gratis oleh PDAM

“Ini sudah ada yang beli. Per lembarnya lima ribu rupiah. Kertas dari pelepah pisang ini nanti dikirim dalam bentuk setengah jadi ke Jakarta, di sana dibikin tas dan tempat tisu,” jelas Bupati Lumajang, Indah Amperawati, Rabu (20/8/25).

Proses pembuatannya pun sederhana namun penuh nilai inovasi, pelepah pisang dikeringkan, diblender, lalu dicetak menjadi lembaran kertas.

Baca juga: Lebih Inklusif! Alun-Alun Lumajang Segera Punya Jalur Ramah Disabilitas

Tak hanya menyulap sampah menjadi produk bernilai, inovasi ini juga mendukung upaya pelestarian lingkungan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Indah menegaskan, Lumajang tidak kekurangan potensi yang dibutuhkan hanyalah kolaborasi, pelatihan, dan pasar yang jelas. Ia menyebutkan bahwa sebelum memberi pelatihan dan alat produksi, Pemkab akan memastikan pasarnya sudah siap.

“Kalau sudah dilatih dan dikasih alat tapi nggak ada yang beli, itu sia-sia. Jadi kami mulai dari pasarnya dulu. Kalau pasarnya sudah ada, UMKM bisa jalan,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tradisi Selametan dan Menu Berbuka Jadi Pemicu Lonjakan Harga Ayam di Lumajang

20 Februari 2026 - 11:31 WIB

Pemkab Lumajang Dorong Investasi Peternakan untuk Kendalikan Harga Ayam

20 Februari 2026 - 11:27 WIB

Galangan Kapal Banyuwangi Produksi Katamaran X38, Dorong Kemandirian Industri Maritim Nasional

18 Februari 2026 - 10:24 WIB

Ramadhan di Tengah Lonjakan Harga Ayam, Penjual Nasi Bungkus Pilih Perkecil Porsi

17 Februari 2026 - 09:27 WIB

Ramadan 1447 H, Harga Sembako di Lumajang Masih Stabil

13 Februari 2026 - 11:31 WIB

Dari Barongsai hingga Undian Umroh, Aston Inn Lumajang Hadirkan Perayaan Penuh Makna di Awal 2026

11 Februari 2026 - 11:11 WIB

Trending di Bisnis