Dari Sampah ke Produk Premium, Pelepah Pisang Lumajang Jadi Kertas Seharga Rp5 Ribu - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Bisnis · 20 Agu 2025 15:05 WIB ·

Dari Sampah ke Produk Premium, Pelepah Pisang Lumajang Jadi Kertas Seharga Rp5 Ribu


 Dari Sampah ke Produk Premium, Pelepah Pisang Lumajang Jadi Kertas Seharga Rp5 Ribu Perbesar

Lumajang, – Siapa sangka, pelepah pisang yang biasa dianggap sampah kini menjelma menjadi produk bernilai tinggi di tangan warga Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Berkat kreativitas warga dan dukungan pemerintah daerah, limbah pertanian itu kini berubah menjadi kertas ramah lingkungan seharga Rp5.000 per lembar.

Tak hanya itu, produk unik ini sudah menembus pasar Jakarta, di mana kertas-kertas buatan Lumajang diolah menjadi tas belanja ramah lingkungan dan wadah tisu elegan yang biasa dijual di mal atau toko premium.

Baca juga: Tak Perlu Khawatir! Meteran Air Hilang di Lumajang Kini Diganti Gratis oleh PDAM

“Ini sudah ada yang beli. Per lembarnya lima ribu rupiah. Kertas dari pelepah pisang ini nanti dikirim dalam bentuk setengah jadi ke Jakarta, di sana dibikin tas dan tempat tisu,” jelas Bupati Lumajang, Indah Amperawati, Rabu (20/8/25).

Proses pembuatannya pun sederhana namun penuh nilai inovasi, pelepah pisang dikeringkan, diblender, lalu dicetak menjadi lembaran kertas.

Baca juga: Lebih Inklusif! Alun-Alun Lumajang Segera Punya Jalur Ramah Disabilitas

Tak hanya menyulap sampah menjadi produk bernilai, inovasi ini juga mendukung upaya pelestarian lingkungan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Indah menegaskan, Lumajang tidak kekurangan potensi yang dibutuhkan hanyalah kolaborasi, pelatihan, dan pasar yang jelas. Ia menyebutkan bahwa sebelum memberi pelatihan dan alat produksi, Pemkab akan memastikan pasarnya sudah siap.

“Kalau sudah dilatih dan dikasih alat tapi nggak ada yang beli, itu sia-sia. Jadi kami mulai dari pasarnya dulu. Kalau pasarnya sudah ada, UMKM bisa jalan,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Sapi Besar di Lumajang Tembus Rp 30 Juta per Ekor

21 Mei 2026 - 13:07 WIB

Harga Pertamina Dex Naik, Pengusaha Pasir Lumajang Kelimpungan

7 Mei 2026 - 11:46 WIB

Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia

3 Mei 2026 - 07:49 WIB

Berawal dari Botol Bekas, Arif Kini Panen 7 Kuintal Selada Setiap 40 Hari

23 April 2026 - 07:43 WIB

Halal Bihalal Kadin Lumajang–Sidoarjo, Pertanyakan Minimnya Kekompakan Pengusaha Lokal

11 April 2026 - 16:54 WIB

Tak Bisa Sajikan Teh Hangat, Pedagang Bakso di Lumajang Kehilangan Pelanggannya

10 April 2026 - 11:10 WIB

Trending di Bisnis