Lumajang, – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamina Dex membuat pengusaha pasir di Kabupaten Lumajang kelimpungan. Harga pasir bahkan melonjak hingga 30 persen akibat naiknya biaya operasional alat berat tambang.
Sopir truk pasir, Iwan, mengatakan harga pasir saat ini mencapai Rp 650 ribu per truk. Harga tersebut naik Rp 200 ribu dibanding sebelumnya yang hanya Rp 450 ribu per truk.
Menurut dia, kenaikan harga pasir bukan berasal dari biaya operasional armada pengangkut. Sebab, truk pasir masih menggunakan biosolar subsidi yang harganya belum mengalami kenaikan.
“Kalau operasional truk tidak ada kendala. Kalau alat berat kan harus pakai Dex, tidak boleh pakai biosolar. Jadi harga pasir naik,” kata Iwan, Kamis (7/5/2026).
Untuk mengurangi dampak kenaikan harga, Iwan mengaku membeli pasir lebih banyak dari penambang. Sebagian sisa muatan diturunkan di rumah untuk ditimbun dan dijual kembali saat harga naik.
“Satu truk itu isinya tujuh kubik, biasanya saya beli delapan sampai sembilan kubik. Nanti yang satu setengah atau dua kubik kami turunkan di rumah. Itu tabungan supaya tetap bisa makan,” ujarnya.
Pengusaha stockpile pasir di Kecamatan Pasirian, Antok, mengatakan kenaikan harga mulai terasa sejak pertengahan April 2026. Namun, dia tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena permintaan pasir sedang menurun.
“Kenaikan terjadi mulai 18 April 2026. Harga solar nonsubsidi naik membuat kerja makin bingung,” kata Antok.
Menurut dia, harga pasir hanya dinaikkan sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per truk agar pelanggan tidak berpaling ke daerah lain.
Dampak kenaikan harga pasir juga dirasakan sektor konstruksi.
Kontraktor asal Lumajang, Achmad Ardiansyah, mengaku terpaksa menaikkan harga batako dan paving sebesar Rp 200 per biji.
Ia menyebut harga pasir kualitas super naik dari Rp 900 ribu menjadi Rp 1,1 juta sehingga biaya produksi ikut meningkat.
“Kadang ada pasir yang naiknya tidak signifikan, tapi kualitasnya campuran. Jadi kami ambil yang paling bagus supaya kualitas produksi tetap baik,” ucapnya.
Meski belum mengalami kerugian, Ardian mengaku keuntungan usahanya mulai berkurang akibat kenaikan harga bahan baku.
“Kalau sampai rugi belum, tapi keuntungan pasti berkurang,” jelasnya.
Tinggalkan Balasan